Tinggalah Di Sini, Bersama Hatimu Sendiri


Untuk yang sedang merasakannya. Berapa kali kamu dikecewakan oleh sebuah kenyataan? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya bertahan? Tentang perjuangan mempertahankan sebuah kepercayaan? Mempercayai yang justru akhirnya menyakiti, berharap bahagia kepada yang telah membuatmu berairmata, mengubur segala mimpi pada yang sudah menaburkan benih-benih ekspektasi, mencari deskripsi lain tentangnya, yang telah terlanjur mengisi kekosongan di dalam jiwa, berusaha terlihat kuat disaat mereka dan seisi dunia sedang melemahkan hatimu.

Sakitkah? Sudah berapa lama kamu bertahan? Sudah berapa lama kamu menangisinya, yang sedikitpun tak pernah tahu keadaan hatimu? Sudah sesering apa hanya bisa melihat punggungnya pergi dan meninggalkanmu bersama luka di sini? Sudah sebanyak apa perban di hatimu yang kau sembunyikan? Bukankah hanya kamu yang paling tahu, bukankah selama ini menyimpannya takkan menghasilkan apa-apa selain rasa sakit yang kembali bertamu? Lalu untuk apa masih bertahan yang sedikitpun tak pernah menghargai keberadaan? Memang benar kita harus berdamai dengan kenyataan, tapi bukan dengan mempertaruhkan hatimu juga, kan? Selain menerima realita, mungkin kamu perlu membuka mata.

Kadang kamu harus pergi beberapa meter dari arena luka yang tercipta untuk tahu siapa yang perlu diperjuangkan dan yang perlu dilepaskan. Kadang kamu harus mencicipi sakit yang terasa pahit. Tapi jangan sampai hal-hal itu membuatmu lemah, jangan sampai membuat luka itu nyaman untuk tinggal. Jangan menunda agar mereka bebas menyakitimu lagi. Bukan salahmu, bukan salahnya, bukan salah siapa-siapa. Aku juga pernah begitu. Tapi setelah menyadari bahwa luka tak dapat diundang seizin diri kita sendiri, aku cepat-cepat mengusirnya pergi sejauh mungkin, sekeras mungkin yang aku bisa. Suatu hari, kamu akan menyadari bahwa ada orang lain yang bisa membahagiakanmu tanpa harus menciptakan luka di hatimu.

Suatu hari, kamu akan menertawai seluruh rangkai air mata ini. Karena suatu hari nanti kamu akan mendewasa, kamu akan bisa melihat segala sesuatunya lebih jelas. Tenang. Segala sesuatunya akan baik-baik saja. Segala sesuatunya sedang dikendalikan Semesta, jika kamu mengizinkan Semesta akan membantumu melewatinya. Hari-hari berat, malam-malam yang penuh dengan air mata, hati yang pelan-pelan meretak, waktu yang semakin keras berdetak, pasti akan mengajarimu sesuatu. Dan kamu akan menyadarinya suatu hari nanti. Percayalah, karena aku pernah merasakannya.

Biarkan Semesta yang menarikmu pada diam. Hingga tak ada yang perlu kamu lakukan selain menikmati hela nafasmu. Hingga tak perlu lagi kamu harus repot-repot mendengar kicau mereka di luar sana.

Biarkan Semesta yang menarikmu pada hening. Hingga tak ada yang bisa kamu lakukan selain mendengar gitar lagu romantis agar rasa pahit itu berubah menjadi manis.

Biarkan Semesta yang menarikmu pada tenang. Hingga kita bisa mengintip dunia dari bingkai jendela yang berbeda sambil menyeduh secangkir senyum dan tawa.

Di luar terlalu mengerikan untukmu. Mereka tak bisa membedakan antara ketulusan dan kepalsuan. Di luar terlalu penuh dengan ilusi untuk matamu. Mereka tak bisa membedakan siapa yang sedang peduli dan siapa yang sedang pergi. Di luar terlalu berisik untuk telingamu. Mereka tak bisa membedakan antara yang harus kau dengarkan dan yang harus kau tinggalkan. Jangan hidup di sana. Jangan bergumul terlalu lama di sana. Tak usah berlari tanpa arah di sana. Tak perlu ikut palsu di sana. Jalan kemari. Diam saja di sini. Tinggalah di sini, bersama hatimu sendiri.