Gadis Pemilik Senja


Tak selamanya kau tahu bahwa aku selalu ada. Tak selamanya kau tahu bahwa aku adalah nyata. Aku yang terbiasa bersembunyi, aku yang terbiasa menunggu. Bersembunyi di balik daun yang gugur di depan rumahmu. Menunggu di balik batu yang diam di halaman kecilmu. Hanya bisa menatap semuanya dari sini. Hanya bisa berbicara dengan bayanganku sendiri. Disini. Disudut yang tak pernah kamu cari. Di sini. Di sudut yang tak pernah kamu sadari.

Sepertinya angin baru saja datang, mengutuk jarak kecil yang semesta bangun di antara kita. Sepertinya angin harus kembali pulang, membelai helai demi helai rambutmu adalah tugasnya. Biar kubisikan sesuatu padanya. Pada angin yang akan pergi. Biar dia sampaikan sesuatu padamu. Pada hati yang masih terkunci. Lewat kata dalam bungkamnya tanganku yang tak bisa bicara.

Aku masih di sini, namun tak pernah sendiri. Masih ada dia, menemaniku berdiri tegak menantimu dan terkadang membiarkanku bersandar di salah satu sudut tubuhnya ketika lelah mulai hadir menyapa. Senjamu. Ya, dialah senjamu. Bias warna yang cantik dan sederhana di sudut langit kotamu. Apa kau juga bisa melihatnya? Jika seperti itu, bukankah kita sedang menikmati senja dari pusat yang sama namun hanya tempat kita saja yang berbeda? Aku harap begitu. Karena aku harap hanya raga ini yang terpisahkan oleh semesta, tidak dengan hati kita.

Dan hari ini aku masih ada di sini, tak sabar menunggu dia menghampiri. Hanya sekadar untuk tersenyum ketika melihatnya, ataupun berbagi kisahku menunggumu sepanjang hari ini. Aku menemukan semangat baru, sejak aku bertemu dengan senjamu. Senja selalu membuatku tersenyum dan terpesona pada tingkahnya. Dia selalu mengajariku untuk membuka mata. Dia mengajariku untuk mencari keagungan-Nya. Dia mengajariku untuk menikmati indah karunia-Nya. Seperti kamu. Seperti warna senyummu.

Tapi ada kalanya malam memisahkanku dengan senjamu, membuat jarak yang tak bisa kukuak. Dan, gelap kembali datang. Meluruhkan asa juga rinduku yang perlahan merangkak hilang. Sering aku merutuki atas ketidakberdayaanku. Ingin rasanya aku menemaninya bermain lebih lama di atas sana, di langitmu. Tak adil. Pikirku. Sementara semesta membiarkan bulan dan bintang bermain dan bercengkrama lebih lama di atas sana, ia hanya memberikan waktu yang singkat untuk senja kita. Terlalu singkat untuk bias warna indah yang menentramkan. Sebelum semesta mengusirnya dengan paksa, menggantinya dengan bias warna hitam yang menyesakkan. Kejam.

Mari kita nikmati senja ini sebelum berakhir menjadi yang terakhir. Duduk di pelataran sambil mengagumi senja dari titik koordinat yang berbeda. Aku harap senja kita memancarkan warna yang sama, sederhana dan sempurna. Harusnya kubisikkan pada angin yang menerpa, daun-daun yang berterbangan, dan burung-burung yang melintas agar semesta tahu bahwa aku ingin menikmati senja bersamamu di koordinat yang sama. Bahwa aku mencintai senja kita. Bahwa aku mencintaimu, gadis pemilik senja.