Di Ujung Dermaga

Taken by Vincent Siregar

“Pertemuan kita berawal dari sebuah keadaan yang tak direncanakan. Jika kau tak memutuskan untuk pergi menemuiku, akankah kita seperti saat ini? Sejak percakapan singkat dan segelas kopi tengah malam itu, aku tahu, kelak kau akan menjadi bagian dari hidupku meski aku belum yakin peran apa yang akan kau mainkan.”

Aku bukan tipikal orang yang suka mempertontonkan tulisanku. Namun kali ini, perasaanku begitu meluap hingga tak cukup untuk kubagi dan kutuang ke segelas cangkir saja. Aku butuh cangkir lain, cangkir yang lebih besar. Cangkir yang mampu menampung lebih, agar dapat kutuang kembali perasaan yang makin meluap itu dan kusimpan baik-baik. Maka kutuliskan semua hal ini. Untuk dirimu, sosok yang mampu mengubur seluruh masalalu dari pikiranku hanya dengan secarik senyum.

Begitulah kamu. Mungkin terdengar seperti gombalan bagi sebagian orang, sebab kata-kata sulit untuk dipercaya orang kebanyakan. Mereka terlalu takut untuk mempercayai kata-kata sebab memang kata-kata adalah jurang maut; bila yang mengucapkannya tak memiliki perasaan sesuai dengan yang terlontar dari bibirnya, dan sialnya, yang menerima mempercayainya mentah-mentah.

Aku takut. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa kita demikian. Sebab aku adalah salah satu dari orang-orang yang mudah mempercayai kata-kata dan pernah menyesal karenanya. Itulah mengapa aku menahan diri untuk mempercayai kata-katamu, dan lebih memilih untuk mempercayai senyum yang terukir di wajahmu.

Bila kau memang berkata jujur, kau telah menetapkan haluan kapalmu pada sebuah dermaga sederhana yang tersusun dari kayu-kayu rapuh, yang bahkan terlihat tak sanggup untuk ditapaki. Begitu banyak lubang, begitu banyak keraguan tersirat di sela-sela serat basahnya. Akankah kau tetap melangkah maju, atau memutar haluan kapalmu menuju dermaga lainnya?

Bila kau memutuskan tetap berlabuh, kutunggu kau di ujung dermaga. Kusambut dirimu dengan tangan terbuka untuk kemudian mendekapmu erat dan membawamu pulang. Untukmu kunyalakan perapian, kusiapkan sehelai selimut dan bantal, kusajikan segelas coklat panas, dan setelah berbincang singkat, akan kuusap kepalamu hingga kau terlelap. Kupandangi wajahmu sejenak sebelum mengecup lembut keningmu, kemudian beranjak, membiarkanmu makin tenggelam dalam mimpi tentang perjalananmu esok pagi.

Aku takkan memaksamu untuk menetap esok hari, atau hari berikutnya, atau hari berikutnya lagi. Sebab aku akan tetap menjadi bandar bagi tiap perjalanan panjangmu – atau mungkin tidak. Beberapa kali mungkin aku akan memintamu untuk tinggal, sembari berharap kau lebih memilih untuk menyertakanku dalam pelayaranmu selanjutnya. Membawaku melihat dunia yang kau lihat, menghirup udara yang kau hirup, bermimpi yang kau angankan.

Mungkin kita akan menemukan sebuah tempat yang indah di sebuah negeri yang kita temukan bersama. Mungkin juga kita akan menghadapi badai besar dan terdampar di sebuah pulau yang bahkan tak kita ketahui namanya. Tak mengapa bagiku, asal bersamamu. Apa kau juga merasa demikian?

Sebab aku akan mencintaimu dengan sederhana. Aku ‘kan tertawa di tiap kebahagiaan, dan menangis di tiap derita. Aku ‘kan selalu bersedia mendekapmu yang kepadaku mendekap. Dan meski kau memilih untuk memutar haluan, aku akan tetap menunggu bayangan kembalinya kapalmu, di ujung dermaga itu. (@nakhasyifa)