Kereta Sekali Jalanku


Jari-jariku selalu berhasil menulis beberapa kata. Yang semenit sesudahnya kembali kuingkus dan kujejalkan dalam-dalam ke tong sampah. Semua intelektualisasi tentang bahasa dan puisi seakan jadi serangga kecil di hadapan cinta. Maka perbolehkanlah aku memulai ini dengan permintaan maaf.
Maafkan aku, yang tak bisa berpaling dari wajahmu saat kau tertawa bersama teman-temanmu. Meskipun aku bukan alasan atas melengkungnya bibir itu. Tapi aku selalu senang. Senang yang dibungkus rapi dalam diam.
Maafkan aku, yang tak bisa mengelus punggungmu, menyeka airmatamu, dan membisikkan bahwa semuanya baik-baik saja ketika kau sedih. Karena aku tahu memang tidak dapat melakukan itu. Tidak ada yang baik-baik saja jika surga membiarkan salah satu bidadarinya mengurai airmata.
Aku senang melihatmu bersamanya. Meskipun aku tak tahu dimana dan bagaimana kau dan dia. Tapi aku senang. Aku sama sekali tak menginginkanmu bersamaku. Oke, mungkin sedikit. Tapi itu sama sekali tak berarti jika ujung-ujungnya kau tetap sakit. Jadi baik kau simpan ia rapat-rapat, genggam ia erat. Aku pernah merasakan kehilangan, dan sungguh aku tak mau sedikitpun kau merasakan itu.
Maafkan aku yang terlalu pengecut, sampai-sampai mesti menulis semalaman hanya untuk menuangkan rinduku pada kertas. Pada dinding-dinding mati yang hanya membalas dengan geming. Untuk melukiskan betapa kau salah satu makhluk yang paling mempesonaku.
Akhirnya, mungkin aku hanya akan meniupkan ini pada angin. Pada cecuit tikus yang mengerumuni bongkahan keju di dapur. Pada awan hitam yang mendarat pelan di pucuk-pucuk malam. Biar mereka yang nanti menentukan akan jadi apa.
Ada yang bilang; Cinta sesungguhnya adalah ketika kau membiarkan orang yang kau cintai bebas. Dan entah kenapa aku percaya itu. Aku tidak akan kemana-mana. Mungkin satu atau dua atau mungkin belasan kereta lewat. Tapi tiketku cuma untukmu. Kau adalah kereta sekali jalanku.
Maafkan aku, setengah layarku, yang cuma bisa menunggu.