Haru Biru Mahameru




Untuk kalian yang mencintai udara jernih, yang mencintai terbang burung-burung. Yang mencintai kebebasan dan kekuasaan, yang mencintai bumi. Mendakilah dengan hati, karena bukan puncak yg kita kejar, melainkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik.
Aku mulai kisah ini dari sebuah sore yang riuh di Ibu kota. Setelah berbulan-bulan melakukan persiapan menuju perjalanan seribu angan, hari yang dinanti tiba. Ribuan angan tentang perjalanan menapaki puncak para dewa perlahan terealisasikan. Aku bersama empat belas tim pendakianku memulai perjalanan dari Stasiun Senen. Stasiun yang bersebelahan langsung dengan pasar teramai di Jakarta. Nampaknya kami salah memilih waktu keberangkatan. Kami tidak sadar bahwa sore adalah waktu teramai yang menyaingi pagi. Penampakan kami yang sedikit berbeda dengan yang lain menjadi sorotan. Bagaimana tidak, keril yang lebih tinggi dari kepala kami menggelayut mesra di punggung.
Setelah sekian jam menanti, akhirnya kendaraan yang akan mengantarkan kami menuju kota penghasil apel datang. Kami memulai perjalanan panjang ini dari Jakarta menaiki KA Matarmaja hingga pemberentian terakhir, Malang.  Setiba di Malang, kami disambut oleh hiruk pikuk dan keramahan warga Malang. Dari stasiun, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Tumpang. Lalu dilanjutkan dengan menaiki Jip sampai desa Ranupane, satu-satunya pintu masuk pendakian gunung Semeru.
BERSALAMAN DENGAN GERBANG RIMBA
Sore itu setelah registrasi di Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Pos Ranupane, aku bersama empat belas teman dalam tim pendakianku mampir terlebih dulu ke warung di seberang Pos untuk makan siang yang terlalu sore. Sekitar setengah jam kemudian, kami akhirnya memulai langkah pertama untuk menggapai Atap Jawa. Mahameru.
Jengkal demi jengkal kami tapaki jalanan aspal hingga ujung desa, lalu masuk ke gapura bertuliskan “SELAMAT DATANG PARA PENDAKI GUNUNG SEMERU”. Dengan irigan doa perlahan kami memasuki gerbang rimba, jalur berganti menjadi tanah. Bulan Juli yang kering membuat jalan tanah juga kering dan berdebu. Otomatis, kaki dan celana langsung kotor. Tapi kami tetap berjalan seperti biasa, karena debu dan tanah tak bisa dipisahkan dari jenis petualangan yang kami pilih ini.
Satu jam berjalan kami sampai di plang pertama, Landengan Dowo, dan hari sudah hampir berganti malam. Jalur pendakian masih relatif landai, berupa paving blok yang cukup untuk 2 orang yang berpapasan. Kami masih berbincang-bincang sembari berjalan karena stamina masih bisa dibilang penuh. Dan kami menikmati perjalanan ini.
Pos I, Pos II, meski sebentar, kami sempatkan istirahat di shelter-shelter yang telah dibangun dengan baik. Cukup luas, kokoh, dan nyaman. Senter-senter sudah mulai dinyalakan sejak tadi, karena malam telah datang saat kami sampai di Pos I. Di Pos III pun kami juga istirahat sebentar, melepaskan keril dari punggung untuk sejenak. Berbincang, makan cemilan, minum, dan menghisap bagi mereka yang ahli hisap. Tepat setelah pos III inilah tanjakan paling ‘sadis’ yang kami temui sejak kami berjalan dari Gapura Pendakian. Debu yang menutupi membuat tanjakan ini menjadi cukup licin. Debu yang beterbangan tersaruk langkah cukup mengganggu pernapasan, dan juga mata.
Sampai di ujung tanjakan, jalur kembali landai, dan perlahan-lahan semakin menurun. Bonus, pikirku menyemangati diri sendiri. Stamina tentu saja sudah berkurang, mungkin tinggal setengah. Namun kaki tetap harus melangkah, karena kami berencana untuk mendirikan tenda di Ranu Kumbolo.
Jam 9 malam kami sampai di Pos IV, dari sini terlihat Ranu Kumbolo di bawah pancaran purnama, meski tak terlalu jelas. Di ujung sana juga terlihat kerlap-kerlip lampu senter dan api unggun yang lidah apinya menari-nari menyambut malam yang cerah ini.
Semangat kembali terpacu. Kami segera melanjutkan langkah menuruni bukit agar segera sampai dan segera istirahat sepuasnya. Suhu udara malam ini cukup dingin, karena kami tetap merasa kedinginan walaupun berjalan memanggul keril yang cukup berat. Kelelahan dan kedinginan membuat beberapa teman sedikit emosi karena tak segera sampai. Kami sudah sampai di pinggir danau, sebagian ingin segera mendirikan tenda, dan sebagian lagi ingin berjalan sedikit lagi untuk sampai di area camp Ranu Kumbolo yang tadi terlihat dari Pos IV. Akhirnya aku berjalan naik mengikuti jalan setapak untuk memastikan dimana kami akan mendirikan tenda. Sementara yang lain berhenti dulu di pinggir danau di pertigaan Jalur Ayek-ayek.
Tak berapa lama aku kembali ke rombonganku yang menunggu. Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya kami putuskan untuk berjalan lagi. Meski lelah, tapi kebersamaan dapat membuat kami memiliki energi lebih.
Tak sampai 15 menit, akhirnya kami melihat sebuah papan bertuliskan sambutan hangat “SELAMAT DATANG DI RANU KUMBOLO”. Alhamdulillah. Kami segera mencari lokasi yang cukup datar untuk mendirikan tenda. Dan kami memilih di barisan terdepan, tepat di belakang perbatasan area yang boleh didirikan tenda dengan bibir Ranu Kumbolo, dan berharap mendapat pemandangan indah dari dalam tenda esok paginya.
PAGI YANG BEKU

Pagi itu, kami masih bergelimpangan di dalam tenda. Udara dingin menggigit: dua lapis baju dan jaket polar rupanya tidak mampu menjadi penghangat diri. Kami saling berteriak dari tenda masing-masing, 'bikin sarapan yuk!' sementara tubuh masih ingin berbalut sleeping bag yang melenakan.
Akhirnya terdengar suara tenda sebelah dibuka. Beberapa hela napas kemudian, tenda kami diketuk. Ketika resleting pintu tenda terbuka, segera hawa dingin masuk. Menyapa kami lebih dekat dan mencoba mendekap.
Terlanjur terpapar angin lembah yang beku menggigit, akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari tenda. Untunglah sepatu kusimpan di dalam tenda sehingga ia tidak basah terkena embun. Aku kaget, Ranu Kumbolo pagi itu rupanya disergap kabut tebal. Punggungan bukit yang menaungi Ranu Kumbolo tidak nampak sama sekali, digantikan oleh kabut putih yang nampaknya hanya berputar-putar saja di sekitar danau.
Setelah lengan milky way tidak nampak tadi malam, pagi ini tiada matahari terbit pula. Pupus sudah keinginanku menyaksikan garis-garis kekuningan dari balik bukit legendaris di seberang Ranu Kumbolo. Di tempat ini, lebih dari empat puluh tahun lalu, Soe Hok Gie dan ketujuh teman pendakiannya membangun kemah pusat di tengah hujan deras yang mendera. Ketika itu masih ada pohon tumbang yang menjadi tempat favorit Idhan Lubis bersembahyang subuh. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana Rudy Badil menggambarkan cantiknya Ranu Kumbolo, yang masih sama hingga sekarang - minus kelompok belibis yang mencari makanan di danau. Ya, aku tidak melihat satupun burung hinggap di permukaan danau, mungkin karena ramainya pendatang.
Bagiku, Ranu Kumbolo adalah contoh sempurna bagaimana alam menjadi begitu romantis. Inilah serpihan surga tak terkata di bumi Mahameru. Lembah berdanau dengan bukit-bukit savana yang kecoklatan dan pepohonan kurus yang menjulang tinggi, air danau yang bening menghijau menggoda untuk diselami, tanjakan panjang di sebelah barat danau yang legendaris dengan mitos Tanjakan Cinta-nya, tempat ini tak henti membuatku berdecak kagum, mengucap syukur, dan menggariskan senyum di wajah. Dan kecantikan Ranu Kumbolo menjadi lebih sempurna ketika dinikmati bersama para sahabat, di antara teras-teras tenda yang menampung embun pagi, memasak sarapan sembari bercerita tentang siapa yang kentutnya paling banyak tadi malam.
Seorang teman pernah berkata, ada saat-saat kita dapat menjadi begitu romantis dengan Tuhan. Dan kali ini, aku dapat melakukannya dengan duduk sendirian di tepi punggungan, menatap danau dari kejauhan sembari menyeruput segelas milo panas. Diterpa matahari pagi yang hangat menenangkan dan berdialog mesra denganNya.
Aktivitas yang paling menyenangkan dalam setiap perjalanan kami adalah memasak. Nasi, nugget, tumis buncis, sarden, dan mie menjadi menu pagi (agak siang) itu. Beruntunglah kami punya 2 chef yang bisa diandalkan.  Ade, satu-satunya perempuan, dan Geger, satu-satunya anggota tim ini yang pernah mendaki Semeru, meskipun hanya sampai Kalimati.
Waktu berjalan cepat, matahari semakin tinggi melewati batas tengah. Kami segera mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya. Walaupun perjalanan hari kedua ini hanya sekitar 4 jam, namun kami tak ingin kemalaman di jalan. Karena menikmati pemandangan saat berjalan juga merupakan kesenangan yang tak bisa didapat di waktu malam. Setelah packing selesai, kami kembali melangkahkan kaki di jalur pendakian. Mendaki Tanjakan Cinta.

LANDAI TAPI BERAT

Ada mitos tentang Tanjakan Cinta yang pasti sudah banyak yang tahu. Jika kita mampu berjalan sampai ujung Tanjakan Cinta tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan seseorang yang kita cintai, maka impian tentang cinta tersebut akan terkabul. Mitos.

Sebenarnya tanjakannya sama seperti tanjakan-tanjakan lainnya. Relatif landai. Dari Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta terlihat tak terlalu tinggi dan jauh, tapi saat dijalani ternyata cukup lama juga untuk sampai di ujung tanjakan. Dan berjalan tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang memang berat. Tapi asal tahu saja, justru dari tanjakan cinta inilah pemandangan Ranu Kumbolo terlihat sangat indah. Jika cerah tentunya.
Setelah cukup beristirahat di atas tanjakan fenomenal ini, kami mulai berjalan lagi. Melipir bukit, kemudian Savana Oro-oro Ombo menyambut kami. Oro-oro Ombo adalah lembah dengan rerumputan setinggi pinggang, bahkan punggung orang dewasa dengan jalan setapak membelah di tengah. Ada 2 jalur dari sini, yang pertama langsung menuruni lembah dan berjalan diantara rerumputan, dan yang kedua berjalan melipir bukit dan berujung di rerumputan di ujung sana. Aku dan Geger memutuskan untuk memilih jalur kedua, karena dari sana kami bisa melihat indahnya Oro-oro Ombo, dan masih tetap bisa menikmati berjalan diantara rerumputan. Dari jalur atas ini, teman-temanku yang lain terlihat kecil sekali. Sekecil saat mereka melihatku dari bawah sana. Oro-oro Ombo adalah tempat yang indah untuk berfoto, dan India-india-an. Rerumputan abu-abu keringnya, bunga Verbena yang menjadi coklat, perpaduan yang indah dengan siang yang cerah.
Setelah rerumputan tinggi, kami melewati padang terbuka dengan rerumputan pendek khas padang rumput hingga sampai di Hutan Cemara. Tempat inilah yang biasa disebut CEMORO KANDANG. 2,5 Km atau 1 jam perjalanan dari Ranu Kumbolo. Kami beristirahat sejenak, duduk-duduk di batang pohon yang tumbang sambil tetap berbincang dan bercanda.
Kanopi hutan Casuarina junghuhniana di sepanjang jalur pendakian ini tak begitu lebat, sehingga cahaya matahari dengan bebas menembus hingga lantai hutan. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu menanjak menurutku, namun entah mengapa aku merasa cepat lelah, dan sering berhenti. Begitu juga teman-temanku yang lain. Namun kami tetap menikmatinya. Anggap saja bersusah-susah dahulu, setelah itu susah lagi.

Kami sampai di Pos Jambangan sekitar jam setengah 5. Jambangan berupa sabana kecil yang dikelilingi semak dan pepohonan. Dari sini seharusnya kami bisa melihat kerucut puncak Mahameru, namun sore itu awan dan kabut bersekongkol untuk menyembunyikannya. Kata Geger, Kalimati tinggal sebentar lagi. Kami tetap memacu langkah kami agar segera sampai di kalimati. Di sanalah kami akan mendirikan tenda dan tidur sebelum mendaki Puncak Mahameru tengah malam nanti.
SELAMAT DATANG DI KALIMATI
Jalur dari Pos Jambangan ke Kalimati berupa jalan setapak menurun melewati hutan yang lebih lebat daripada Cemoro Kandang. Memang tak jauh, benar kata Geger. 15 menit saja kami sampai di lembah savana yang cukup luas di antara 2 bukit, Bukit gunung Kepolo dan Bukit Puncak Mahameru. Tak berapa lama setelah kami sampai, awan yang menutupi Mahameru berangsur hilang. Untuk pertama kalinya aku melihat kerucut Puncak Mahameru. Puncak yang gagah diselimuti pasir dengan guratan-guratannya. Dan Mahameru pun menyambut kami dengan letupan kecilnya. Sore yang indah. Berat perjalanan hari ini terbayar sudah.
Kami segera memilih tempat untuk mendirikan tenda di dekat shelter di antara pepohonan Cemara. Kami segera masak, makan malam, dan mempersiapkan peralatan dan perbekalan yang akan kami bawa saat summit attack nanti. Kamipun memanfaatkan waktu yang ada  untuk tidur dan mengembalikan stamina kami lagi. Karena pendakian Semeru yang sesungguhnya baru dimulai tengah malam nanti.
TANJAKAN BERAT
Tengah malam kami bangun. Begitu juga dengan rombongan lain. Hari ini, kami akan mewujudkan mimpi yang sudah lama ingin kami gapai. Berdiri di tanah tertinggi Pulau Jawa. Namun sebelum itu, kami harus mendaki hampir 1 Km vertikal, dengan kemiringan 45-60 derajat. Apakah kami bisa? Belum tahu. Karena itu kami ingin mencobanya.
Sekitar setengah satu kami mulai berjalan meninggalkan kemah. Namun kami melakukan kesalahan. Kami salah perhitungan, hari itu kami harus berjuang mendaki tanjakan berat sampai puncak hanya berbekal 500 ml air masing-masing orang. Bodohnya kami tak mengambil air dahulu di mata air Sumber Mani sore kemarin karena kesorean sampai di Kalimati. Tapi sudahlah, yang berlalu tak perlu terlalu disesalkan, yang ada sekarang yang harus kami perjuangkan.
Jalan menanjak berdebu menjadi menu perjalanan kami malam itu. Tipisnya oksigen ditambah debu yang beterbangan membuat kami semakin kewalahan dan semakin cepat lelah. Malam itu dingin, namun keringat tetap mengucur deras karena kami mengeluarkan tenaga ekstra untuk berjalan di tanjakan ‘sadis’ ini. Sebelum sampai Arcopodo, salah seorang dari tim kami, Yusuf, merasa kurang enak badan. Mungkin dia mulai terserang MS, Mountain Sickness. Kami putuskan untuk istirahat sebentar sambil menunggu perkembangan kondisi Yusuf. Untungnya kami membawa teh hangat di termos kecil yang dibawa Atang, sehingga cukup membantu pemulihan energi dan kondisi Yusuf.
Kami melanjutkan perjalanan setelah Yusuf yakin mampu melanjutkan pendakian ini. Jalurnya masih sama, jalan menanjak zig-zag dengan kanan-kiri jurang. Jam 2 kurang, kami sampai di Arcopodo. Arcopodo adalah area camp berundak-undak yang cukup untuk sekitar 10 tenda. Namun karena rawan longsor dan tidak ada sumber air, maka camp pendaki sebelum summit attack dipindah ke Kalimati.

Dari Arcopodo, jalan semakin menyempit dan tak lama kemudian kami sampai di batas vegetasi. Angin yang berhembus membuat suhu udara yang kami rasakan semakin dingin. Dinginnya angin malam yang hampir 2 derajat celcius perlahan menembus jaketku. Kami mulai menapaki trek pasir dan kerikil yang berdebu. Pasir yang kering membuat kami semakin kesulitan untuk mendaki. Naik 5 langkah, turun satu langkah. Naik tiga langkah turun satu langkah. Baru berjalan satu menit, berhenti dua menit. Dan tanjakan pasir ini sangat menguras tenaga, juga kesabaran.
Di awal tanjakan pasir, kami masih berjalan beriringan. Kemudian menjadi 2 kelompok, lama kelamaan kami terpisah-pisah karena keadaan jalur, stamina, banyaknya pendaki rombongan lain, dan gelapnya malam membuat kami tak bisa melihat kawan kami di depan maupun dibelakang. Di depan, Yusuf sudah berjalan lebih dulu. Aku, Geger, dan Ade berjalan bersama, namun kemudian Yusuf tertinggal bersama teman satu tim yang lain tanpa kami sadari. Kami berusaha menunggu sambil memancarkan senter ke arah bawah, namun tak terlihat wajah Yusuf. Kami pikir mungkin dia sudah bergabung dengan tim Atang, Daniel, dan Mupay di belakang. Kami pun melanjutkan pendakian ini sedikit demi sedikit.
Sinar jingga sudah menggores ufuk Timur. Namun jam masih menunjukkan pukul 4.30. akhirnya kuputuskan untuk berhenti dulu. Shalat subuh di pinggir jalur sembari menunggu teman-temanku yang masih di belakang. Sementara Yusuf sudah tak terlihat lagi.
Cukup lama kami menunggu, kami putuskan untuk melanjutkan sisa perjalanan ini meski kami tak tahu berapa lama lagi kami akan sampai di puncaknya. Walaupun langit sedikit terang, puncaknya masih belum terlihat. Namun pemandangan di bawah yang indah membuat kami bisa tersenyum melangkahkan kaki meski berkali-kali merosot ke bawah lagi.
HARU BIRU MAHAMERU
Jam menunjukkan pukul 6 kurang, dan langit sudah berwarna biru cerah. Jelas, sunrise pagi ini terlewat lagi. Di atas sana terlihat beberapa pendaki berdiri, terdengar teriakan, “Puncak!”. Entah siapa yang berteriak, namun hal itu membuatku semangat karena puncak sudah dekat. Dan benar saja, tak sampai 10 menit aku melihat bendera Merah Putih berkibar di tengah dataran luas. MAHAMERU. Syukur Alhamdulillah. Akupun terus melangkahkan kaki menuju bendera itu. Di sana, ternyata Yusuf sudah sampai lebih dulu menyambutku. Kami saling memberi selamat. Tak kusangka, Yusuf yang sempat terserang MS malah jadi yang pertama yang sampai di puncak.
Aku segera berkeliling, menikmati 360 derajat pemandangan tergelar di depan mata. Pemandangan yang indah, cerah. Gugusan hijau di bawah langit biru. Kucoba untuk mengabadikan setiap sudut keindahan yang Tuhan lukiskan, namun ternyata kamera yang kubawa mengalami masalah. Lensanya berembun sehingga gambar yang diambil tidak dapat terlihat sempurna. Tak apa, biarkan mata dan otakku yang merekam keindahan ini. Tak lupa, aku ‘mengunjungi’ memorial Soe Hok Gie yang ada di Puncak Mahameru ini. Di tempat inilah terakhir kali Beliau memandang, bernafas, dan bersahabat.

Tak berapa lama, Sulis sampai di puncak, beberapa menit kemudian Tim Agus, disusul Tim Daniel, dan setengah jam kemudian barulah Tim Atang dan Mupay berjalan bersama saling berangkulan, saling menguatkan, menapaki tanah tertinggi ini bersama. Persahabatan  yang indah, dan mengharukan. Kami yang sudah sampai lebih dulu menyambut dan menyalami mereka. Kami berkumpul dan mensyukuri momen-momen kebersamaan kami di tempat yang kami impikan bersama ini. Berdiri bersama di Tanah tertinggi di Pulau Jawa. Sungguh perasaan senang dan syukur yang tak terlukiskan.
Walaupun matahari sudah cukup tinggi, namun suhu udara sangat dingin pagi ini. Mungkin karena angin yang bertiup cukup kencang, sehingga suhu yang kita rasakan lebih dingin dari suhu udara yang sebenarnya.
Cukup lama kami menikmati altitude 3676 mdpl ini. Kami baru turun dari puncak sekitar pukul setengah Sembilan. Sebenarnya aku masih ingin lebih lama lagi di puncak ini, tapi aku sadar, sampai puncak itu baru setengah jalan. Karena tujuan perjalanan sebenarnya adalah rumah. Ya. Pulang dengan selamat sampai rumah adalah tujuan utama kami berpetualang selama ini.
Sampai bertemu lagi, Mahameru.