(Un)broken Wings


Bukankah kau yang berkata padaku bila kita hidup membutuhkan sepasang sayap? Sepasang sayap untuk menembus langit dan bertengger di awan kebahagiaan bila kita telah lelah? Aku belum sampai di awan kebahagiaan itu, tapi kau patahkan sayapku. Aku jatuh. Aku tak bisa terbang hanya dengan satu sayap.
             Rhea menghentikan sejenak pena yang sedari tadi menari-nari di buku hariannya. Dibacanya berulang-ulang kalimat yang telah ia goreskan tadi. Kalimat yang sebenarnya ingin ia teriakkan pada Tegar setahun yang lalu. Rhea terhenyak, seketika itu ia alihkan matanya di setiap sudut kamar. Di dinding kamarnya telah sesak oleh berbagai bingkai penghargaan yang telah ia raih. Lulusan summa cumlaude, juara nasional debat bahasa inggris, dan masih banyak lagi. Ada senyum kecil tersungging di bibir Rhea namun senyum itu berubah getir saat matanya berganti haluan dan berlabuh di sebuah bingkai foto dengan ukiran bunga warna karamel di meja samping tempat tidurnya.
Rhea beranjak dari tempatnya. Dipandangnya foto yang terbingkai indah itu. Di sana ia melihat seorang lelaki yang menggamit pinggangnya dengan mesra.
“Maafkan aku, Ben, ucap Rhea lirih.
***
            Rhea melirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya. Rasa khawatir mulai menyeruak di dadanya ketika ia menyadari seseorang yang ia tunggu telah terlambat hampir satu jam. Terus menerus ia menyibak tirai di ruang tamunya berharap seseorang yang ia tunggu segera datang.
            “Nunggu siapa, Rhe?” tanya ibunya saat melintasi ruang tamu dan mendapati wajah anaknya cemas luar biasa.
            “Tegar, Bu.
            “Coba ditelpon saja, Nak.
            “Sudah Bu, tapi tidak aktif.
            Tak lama kemudian, terdengar suara motor di depan rumah. Rhea sekali lagi menyibak tirai di ruang tamunya. Lelaki berjaket biru laut itu tampak memarkir motor dan membuka helmnya. Ah... Tegar, itu dia! Perasaan lega, bahagia sekaligus kesal bercampur di hati Rhea saat menyambut lelaki itu.
            “Tegar!” teriak Rhea setelah membuka pintu rumahnya. Lelaki yang belum sempat mengetuk pintu rumah itu nampak sedikit kaget.
            “Rhea, eh maaf aku sedikit terlambat. Ada pekerjaan mendadak di kantor.
            “It’s okay. Tapi lain kali kabari aku kalau kamu terlambat.
            Lelaki itu mengangguk. Setelah mendapatkan izin dari si empunya rumah untuk mengajak putrinya keluar, Tegar pun membonceng Rhea menembus malam kota Malang menuju restoran favorit mereka yang berada di jalan Gajayana.
            “Hei... kok bengong?” ucap Rhea sembari tangan kanannya mengguncang pundak Tegar, sesaat setelah mereka sampai di restoran.
            “Ah... iya... eh... mau pesan apa kamu?” tergagap Tegar menjawab pertanyaan Rhea. Lamunannya seketika buyar. Entah apa yang ia lamunkan, namun sepertinya Tegar memikirkan sebuah masalah yang sangat membebani pikirannya. Tak ada canda tawa seperti yang biasa terdengar saat mereka bersama.
            “Kamu ada masalah?” tanya Rhea setelah memesan dua porsi nasi goreng seafood dan dua gelas cappucino latte untuk makan malam mereka.
            “Hmm?? Tidak apa-apa kok, mungkin aku sedang capek saja,” jawab Tegar. Mata sayunya menyapu sekeliling restoran. Hanya ada dua pasang pengunjung saat itu selain dirinya dan Rhea.
            “Aku tahu kau bohong, Gar. Aku sudah mengenalmu lebih dari 5 tahun. Matamu takkan berani menatap mataku saat kau bohong. Coba tatap mataku dan bilang sekali lagi kalau kau tidak apa-apa.
            Tegar menatap mata Rhea. Dalam. Lama. Hening. Tiba-tiba terlihat kabut menyeruak di mata Tegar dan tak lama kemudian kabut itu membentuk genangan air mata yang masih tertahan di pelupuk matanya. Seorang laki-laki yang selama ini berhasil menyembunyikan air matanya di depan Rhea saat ia sedih atau menghadapi masalah kini sepertinya tak mampu ia tahan.
            “Ada apa denganmu, Gar? Bolehkah aku menanggung sebagian beban masalahmu? Bukankah kita adalah sepayang sayap yang bila salah satu sayapnya rapuh maka jalan kita akan terseok?” ucap Rhea dalam hati, seolah menjawab tatapan mata Tegar.
            “Rhe...,” bibir Tegar bergetar. Ucapannya tercekat. Rhea terdiam. Ia menunggu kalimat apa yang akan diucapkan Tegar selanjutnya.
            “Aku ingin kita putus.
            Rhea terbelalak. Ia tak menyangka kalimat selanjutnya yang Tegar ucapkan adalah kalimat yang dulu pernah membuatnya sulit membangun suatu hubungan kembali. Tegar lah yang dulu meyakinkan dan menjanjikan bahwa takkan ada lagi hati yang terluka. Bahkan kehadiran Ben tak mampu menggoyahkannya. Tapi sekarang?
            “Kau mencintai wanita lain?”
            “Aku hanya mencintaimu Rhea. Sungguh!”
            “Lantas?” Sekuat tenaga Rhea membendung air matanya. Ia tak ingin terlihat rapuh. Lagipula, dulu ia pernah berjanji pada Tegar agar tidak menumpahkan air mata pada lelaki yang menyakitinya. Kini, ia ingin patuhi janji itu, meskipun lelaki itu adalah kekasihnya, Tegar.
            “Aku tak pantas bersanding denganmu.
            “Alasan klise! Kalau tak pantas, mengapa tak kau putuskan aku sejak 5 tahun yang lalu? Mengapa baru hari ini kau merasa tak pantas bersanding denganku?” cecar Rhea.
            “Aku sudah berusaha selama ini, Rhe....”
            “Berusaha apa?”
            “Berusaha agar aku pantas denganmu tapi ternyata.....” ucap Tegar menggantung.
            “Kenapa, Gar? Apa aku salah?” Rhea melunak.
            Tegar terdiam. Tak mampu lagi ia bendung air mata yang sudah bergemuruh di pelupuk matanya. Dikepalkan tangannya berharap suara tangisnya tak pecah di restoran. Ia sungguh mencintai gadis di depannya itu, namun segala keterbatasannya bak tembok raksasa yang memisahkan mereka. Tegar menarik tangan Rhea dan mengajak Rhea keluar dari restoran.
            “Kau lihat itu?” tanya Tegar sembari menunjuk motornya yang terparkir tepat di sebelah kiri restoran. Rhea tak bergeming. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya.
            “Aku hanya memiliki motor itu selama 4 tahun bekerja. Sedangkan kau? Kau bisa saja mendapatkan 3 motor seperti itu hanya setahun setelah kau bekerja. Aku hanya lulusan SMA, Rhe. Sedangkan kau? Kau adalah lulusan terbaik di universitas yang mungkin hanya bisa aku bayangkan saja. Aku juga bukan lelaki rupawan seperti Ben, aku hanya lelaki biasa yang beruntung mendapatkan cinta yang luar biasa darimu.” Tegar menghentikan sejenak perkataannya. Ia mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih terpaku di sampingnya itu.
            “4 tahun semenjak kita lulus SMA, aku selalu berusaha agar lebih pantas denganmu. Siang malam aku bekerja dengan giat dengan harapan agar jabatanku sedikit demi sedikit lebih tinggi dari seorang kurir perusahaan. Tapi apa? Sampai sekarang aku masih seorang kurir. Kurir yang bersanding dengan seorang manajer perusahaan nasional? Apa kau tak menyadari itu?” Tegar tertunduk. Wajahnya tak mampu lagi menopang segala kerapuhan hatinya.
“Aku tak malu dengan keadaanmu, Gar. Mengapa kau malu?” Rhea menerawang.
“Karena aku seorang lelaki, Rhe.
Rhea memandang hampa. Waktu serasa berhenti saat itu. Hanya suara deru motor yang terdengar sayup-sayup menyapanya. Membawanya pada sepotong kenangan saat bersama Tegar.
***
Sekolah sudah nampak sepi. Hanya ada beberapa siswa yang masih nampak duduk-duduk bercengkrama menunggu rapat OSIS yang belum juga dimulai. Jam pulang sekolah memang sudah berlalu satu jam yang lalu, namun Rhea masih belum juga nampak. Tegar yang sudah terbiasa bersama Rhea mendadak cemas. Di mana gadis itu? Tegar mencari di setiap sudut sekolah namun nihil. Bertanya pada anak-anak OSIS pun percuma karena mereka juga tak melihatnya. Lama Tegar berfikir, tiba-tiba ia teringat bangku di belakang sekolah yang biasa digunakan siswa-siswa nakal sebagai tempat pijakan untuk cabut saat jam sekolah. Ya, pasti Rhea duduk di sana.
Tegar menghentikan sejenak langkahnya setelah menemukan Rhea di bangku tua itu. Gadis itu memangku tas maroon-nya dan di tangannya terlihat kertas yang sudah terlihat kumal. Mungkin ia meremasnya.
“Rhe.....,” Tegar perlahan mendekati dan duduk di sampingnya, namun gadis itu tak menjawab ataupun menoleh. Ia masih menatap nanar kertas yang ada di depannya. Cukup lama mereka terdiam. Tegar pun seolah membiarkan Rhea larut dengan perasaannya. Menunggunya hingga ia sanggup bercerita dan berbagi beban dengannya.
“Aku gagal...,” ucap Rhea lirih. Tak lama kemudian, secarik kertas kumal yang ia genggam tadi diperlihatkannya pada Tegar. Kertas pengumuman bahwa dirinya tak lolos pada sebuah lomba essay berbahasa inggris. Tegar tertawa kecil.
“Jadi karena ini?” Masih dengan senyum tersungging di bibirnya, Tegar menatap teduh mata Rhea.
“Gagal bukanlah di saat kita mendapatkan hasil yang buruk, Rhe. Gagal adalah di saat kita tak pernah mencoba dan tak akan pernah tahu hasilnya. Kau tahu mengapa namaku Tegar?” Rhea menggeleng.
“Karena ibuku berharap agar aku selalu menjadi anak yang tegar dengan apapun hasil yang aku peroleh atas usahaku,” Rhea tersenyum tipis. Entah apa yang dikatakan Tegar tentang filosofi namanya itu benar atau tidak, Rhea tak peduli. Tegar mengambil kertas lusuh yang masih diratapi Rhea itu, di sana ia menggambarkan sepasang sayap yang mengembang sempurna.
“Kita adalah sepasang sayap, Rhe. Tak akan pernah bisa terbang bila salah satu sayapnya patah. Maka dari itu, jangan sampai selembar kertas ini menghalangi jalan kita menuju awan kebahagiaan,” jelas Tegar sambil menunjuk gambar yang baru saja dibuatnya. Senyum Rhea merekah. Sejumput asa untuk mengarungi kehidupan bersama telah tergores di sudut hati dua insan muda yang dimabuk asmara itu, dulu.
***
            Rhea meletakkan bingkai foto yang ia bawa tadi. Langkah kecil menuntunnya kembali ke meja riasnya dan meraih pena yang terdiam di atas buku hariannya yang terbuka.
            Aku melirik ke arah kananku. Ah... ternyata sayapku telah kembali utuh. Aku bisa kembali terbang untuk bertengger di awan kebahagiaan. Tapi, mengapa aku belum merasa mampu untuk terbang kembali? Inikah yang disebut (un)broken wings? Di mataku, aku melihat sayap itu utuh. Namun di hatiku, sayap itu masih patah?
            “Rhe.... Ada Ben di ruang tamu,” Rhea menoleh mendengar ucapan ibunya di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
            “Ya, Bu. Tunggu sebentar.
            Rhea memoleskan sedikit bedak yang ada di depannya untuk menyamarkan matanya yang sedikit sembab. Ia tak mau kekasihnya itu tahu kalau ia baru saja menangis. Apalagi menangisi sang mantan? Oh tidak! Ben, pria berhati lembut inilah yang menemani hari-harinya belakangan ini. Sudah terlalu lama Ben menunggu Rhea membuka hati untuknya. Sebenarnya, Rhea bahkan Tegar pun sudah tahu bahwa sahabatnya sedari kecil itu menyimpan rasa untuknya. Namun, baru sekarang Rhea mencoba untuk menerima cinta Ben.
            “Ben, aku akan belajar mencintaimu. Sungguh, aku ingin mencintaimu seperti kau mencintaiku. Dulu, aku memang memiliki hari-hari yang begitu manis dengan Tegar. Tapi, bukankah hari-hari di depanku akan lebih panjang? Dan aku akan mengisi hari-hari indah di depanku itu bersamamu, Ben,” ucap Rhea lirih di depan kaca riasnya. Kini, ia siap menyambut Ben.

***