Di Balik Kepergianmu


Tiba-tiba aku menyukai cara kita untuk saling membuntuti atau bersembunyi di balik alasan saling mengagumi. Namun aku ingin menuliskan beberapa hal. Selain kita bukan lagi anak ingusan yang masih percaya bahwa kebersamaan akan selalu menyenangkan, suatu saat kau juga pasti paham bahwa dalam hidup ada kalanya kita harus melepaskan sesuatu yang kita anggap terbaik hanya demi mendapatkan ketenangan. Ketenangan yang tak membutuhkan banyak pengorbanan tentunya. Atau kelak kita akan bertengkar, saling diam, dan membunuh kabar yang seharusnya terkirim sebelum salah satu dari kita cemas mempertanyakan.

Atau tepatnya begini. Aku pernah mengalami beberapa kegagalan dalam hidup. Termasuk kegagalan usahaku membohongi diri untuk menganggap bahwa kamu tak pernah datang dalam hidupku. Tapi aku juga mempunyai pencapaian besar dalam hal ini, ialah ketika aku mampu mematahkan harapanku sendiri, berperang hebat dengan keinginanku untuk memiliki. Ya, aku menang. Meski harus pulang tanpa perayaan.

Sakit? Memang. Perih? Sangat.
Seperti yang aku pernah tulis, “Jangan pernah membohongi rasa yang bernama jatuh cinta jika kamu tak ingin merasakan tajamnya jarum yang kau sematkan ke jantung sendiri”.

Kau tahu, pernah ada dua kejadian paling berbahaya dalam hidupku. Yang pertama; ketika aku mengalami kecelakaan yang membuatku harus berhenti beraktifitas selama berminggu-minggu. Kedua; saat aku menangkap tatapan matamu dengan mataku. Kenapa dua kejadian itu kuanggap berbahaya?

Di kejadian pertama, aku harus melewati masa traumaku karena hampir saja nyawaku diakhiri oleh Tuhan melalui perantara kendaraan berbadan panjang; trailer. Syukurnya, aku masih diselamatkan oleh Tuhan dan diberikan nyawa sambungan untuk menjalani kehidupanku. Aku harus menyembunyikan apa yang aku alami kepada banyak orang. Aku tidak ingin orang lain merasa khawatir terhadap hal yang kualami.

Di kejadian kedua, lagi-lagi aku dituntut untuk menyembunyikan banyak hal. Gugup, itu salah satunya. Aku yakin kau juga mempercayai, betapa rasa gugup adalah perihal paling susah disembunyikan ketika kita berhadapan dengan orang yang kita kagumi. Sama halnya aku, yang berusaha sedemikian rupa agar terlihat tenang, tetap santai, dan menguasai keadaan. Apalagi ketika melihat bibirmu yang sedang meyampaikan beberapa kalimat dan kau tutup dengan sebuah senyuman. Namun sekali lagi, aku merasa beruntung dan diselamatkan. Diselamatkan oleh sedikitnya waktu dan sempitnya ruang untuk kita bertemu.

Meski memiliki menjadi hal yang tak mungkin lagi, aku tetap percaya bahwa tak pernah ada yang salah dari jatuh cinta. Lagi pula, Tuhan pasti lebih mengerti, jika kau sudah berhasil kumiliki, tentunya tak akan ada perihal yang kupinta dalam doa-doaku lagi. Doa yang selama ini mungkin Tuhan bosan mendengarnya. Hanya kata-kata kau yang tak pernah ada habisnya. Jadi ada baiknya jika kalimat doaku kuubah untuk kebaikanmu saja. Aku hanya salah satu dari mereka yang meyakini bahwa sekali waktu Tuhan sengaja mengirimkan seseorang yang hanya datang untuk memeluk kita dari belakang. Jika ia sudah tak merasakan apa-apa lagi, seiring waktu mereka juga akan pergi tanpa pernah sempat kita miliki. Justru ini ketakutan yang sering kucemaskan. Jika memiliki hanya akan memberiku rasa kehilangan, mungkin alangkah baiknya aku hanya bercanda dengan kekaguman ini saja. Sekali lagi kujelaskan bahwa kepergianmu ialah satu dari sekian hal paling menyedihkan yang tak pernah sekalipun aku inginkan.