Antara Aku, Pelangi, dan Hujan


Seindah apa pun wujudnya, ia tetap lah pelangi; seelok apa pun rupanya, ia hanya bisa dipandang. Aku tak akan pernah bisa meraba hangat dan bermesraan dengannya. Kulit kami tak pernah bersinggungan sedetik pun. Entah ia hangat atau dingin aku tak akan pernah tahu.

Hujan kembali turun di bulan Desember tepatnya di tahun kelimaku setelah hubunganku dengan gadis pelangi usai. Sudah sebulan kami tak berjumpa membuat rasa rindu tertahan lebih lama di relung hati. Sebulan tanpa komunikasi yang apik membuat diri merasa resah. Aku meninggalkannya sejenak dan mencoba memahami setiap keping cerita yang kami buat. Bulan lalu aku lari dan mengasingkan diri dalam sebuah perjalanan panjang. Menjelajah ke beberapa negara, yaitu Malaysia, Vietnam Selatan hingga utara, dan berakhir di kota Bangkok, Thailand. Lewat perjalan itu aku memutuskan untuk memerdekakan rasa dari semua belenggu yang mendera.
Lima tahun sudah aku merangkai cerita dengannya, seorang perempuan pelangi yang keindahannya selalu berhasil membuatku mabuk kepayang. Banyak cerita sekali yang tercipta mulai dari manis, kecut, dan kadang pahit. Bersamanya aku melewati banyak episode ajaib yang berada di luar dugaan. Aku tak pernah menyesal sedikit pun atas jalinan cerita yang tercipta karena ia adalah bagian terpenting dalam hidupku. Meski hingga detik ini, aku tak pernah melihat bibir manisnya yang ranum. Bahkan aku tak pernah punya keberanian untuk mengikrarkan rasa. Itu semua kusimpan saja hingga bertahun-tahun lamanya. Sudah kubilang bahwa seindah apa pun bentuknya, ia tetap pelangi. Aku tetap menikmati keindahannya meski tak pernah merasa bersentuhan dengannya.
***
“Jangan lupa dengan agenda kita hari ini, ya. Aku harap pertemuan kita nanti menjadi pelipur rindu,” kataku lewat percakapan melalui telepon.
“Tanpa kau ingatkan pun aku sudah paham. Sampai jumpa nanti, bye!” kalimat terakhirnya dilanjutkan dengan nada panggilan terputus.
Rencananya kami akan bertemu di sebuah kedai makan. Tempat itu bukan tempat biasa kami bertemu karena tempat kegemaran kami untuk makan bersama sambil berdiskusi tentang banyak hal kini sudah beralih fungsi menjadi sebuah apartemen. Sangat disayangkan memang karena tempat yang menyimpan banyak cerita tentang diskusi-diskusi hangat kami sudah sirna.
***
Di kedai itu, aku memesan segelas teh hangat. Cukup untuk menangkan diri dari rasa gugup menanti kedatangannya. Detik berlalu lebih cepat dari yang diduga. Ia datang dan melempar senyum manisnya. Masih sama manisnya dengan senyum yang pertama kulihat lima tahun yang lalu.
“Bagaimana dengan perjalananmu?”, suaranya terdengar lembut.
“Menyenangkan,” jawabku.
Aku bercerita tentang prosesi menyepi yang kujalani di Sa Pa, sebuah kota kecil di utara Vietnam. Entah dengan alasan apa aku menjadi jatuh hati pada kota itu. Sepi dan berkabut hampir setiap saat menciptakan sebuah suasana yang damai meski badan kurusku menggigil sejadi-jadinya.
Obrolan-obrolan ringan meluncur begitu saja. Tawa dan keakraban yang kami jalin menjadi pelepas rindu. Semua kerinduan terbayarkan dengan pertemuan ini.
Aku memberinya sebuah cinderamata khas kota itu, yakni sebuah syal dan tas rajut yang merupakan buatan tangan masyarakat suku Hmong. Ia tampak senang dan seketika mengumbar senyum merekahnya meski ia mengatakan bahwa sepotong kartu pos yang aku kirim saat perjalanan itu lebih berharga dari apa pun.
Hujan turun cukup deras sehingga membuat kami bertahan lebih lama di kedai itu untuk menunggu hujan reda. Kami tertawa riang bersama rinai hujan yang turun.
“Jadi, rasa mana yang kau bebaskan lewat perjalanan panjangmu?”, tanyanya dengan lembut.
“Aku membebaskan diri dari semua kenangan tentang dirimu dan juga tentang perempuan yang sempat menghadirkan kesejukan hujan setahun terakhir,” kataku.
Dan kami kembali tertawa. Rinai hujan di balik kaca kedai makan itu seakan membuat suasana syahdu yang tercipta semakin romantis. Suasana semakin menghangat di tengah dinginnya hujan yang turun.
“Sudah mau memasuki tahun keenam. Kau tetap punya tempat khusus di hatiku, semoga tetap terjaga,” kataku sambil menatapnya sehingga menimbulkan sebuah kehangatan. Ini kali pertama aku merasa hangat bersamanya setelah beberapa bulan tidak bertemu.
“Aku teringat pada kepingan cerita yang terjalin bersamamu. Kau harus tahu bahwa bagian favoritku selama lima tahun terakhir itu adalah dialog-dialog singkat yang tak lebih dari sepuluh menit di sebuah bangku stasiun setiap sabtu sore,” ujarku sambil menatap tajam matanya.
 “Sabar, ikhlas, dan berpikir positiflah terhadap segala hal. Dengan itu saja dunia akan terlihat lebih berbeda. Apakah kau percaya bahwa Tuhan Maha Bijaksana?” ucapnya dengan lembut.
“Aku percaya, bahkan seratus persen percaya!” jawabku dengan mantap.
“Kau harus percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan cerita terbaik kepada hamba-Nya. Mungkin saat ini cerita kita terhenti, namun kita tidak pernah tahu rahasia-Nya. Barangkali Tuhan memisahkan kita sementara agar kita mampu belajar untuk menjadi seseorang yang setia perihal mencintai,” nasihatnya yang membuat dadaku seketika gemetar.
Aku memegang teguh kalimat tersebut. Ia laksana mantra ajaib kala aral menghadang jalanku untuk mengejar cita. Meneguhkan hati untuk selalu bersiap menerima segala keadaan dengan pikiran yang lebih terbuka. Benar saja apa yang ia katakan bahwa dunia terasa lebih berbeda.
Meski tak pernah mengecap hangatnya, perempuan dihadapanku ini meninggalkan jejak yang membekas telah bertahun lamanya. Aku tak pernah berusaha untuk mengendapkan cerita-cerita bersamanya. Biarlah semua terjadi sealami mungkin dan ia menjadi bagian yang tak pernah bisa aku lupakan.
***
 “Pernah aku ditanya orang, apa itu bahagia? Kau tahu apa jawabanku?” suaranya yang  beradu bersama desis hujan.
Aku menoleh sekilas menghadap wajahnya dan kemudian menggeleng pelan. Satu sampai tiga menit suasana menjadi hening. Aku menunggu jawaban darinya.
“Aku jawab hujan,” katanya mantap seraya menjulurkan tangan kanannya yang menengadah untuk mengemis rintik hujan nan bahagia. Aku pun mengikuti gerakannya.
“Mengapa hujan yang membuatmu bahagia?” tanyaku.
“Rintiknya yang berjatuhan seolah menari berputar bersama angin yang menyampaikan sebuah pesan hidup. Pesan ketenangan dan gairah baru untuk menjalani kehidupan,” jawabnya merdu.
Kami larut dalam obrolan-obrolan hangat menyatu bersama hujan. Kami tertawa lepas bersama. Ia menjelma menjadi seberkas rinai hujan yang membasuh kemarau panjangku. Ia yang mengenalkanku pada hujan yang berbahagia dan suasana damai. Langkah kecilku kembali berjalan menuju arah yang seharusnya, yaitu mengejar mimpi.
Maka setelah itu, aku mempunyai kebiasaan baru. Menikmati tarian rintik hujan bersama segelas teh hangat. Bagiku itu adalah merupakan perpaduan yang sempurna. Kesejukan rintik hujan, namun dipadu oleh hangat segelas teh.Awalnya biasa. Tentu ingatan cerita masa lampau bersama seberkas sinar pelangi tak mampu aku ubah. Tak sanggup aku lakukan sedikit pun. Bayang-bayang tentang pelangi itu tak pernah memudar. Hanya saja aku mempunyai episode baru. Ceritanya adalah aku mulai mengagumi hujan.  

***
Kami masih saling berhadapan. Hujan di luar sudah reda dan ini saatnya kami berpisah meski berat rasanya untuk pergi. Suasana kedai menjadi sepi. Kini hanya kami berdua, antara aku dan pelangi.
“Rasa mana yang kau bebaskan? Bukankah sekarang semuanya sudah terasa bebas?” katanya.
Aku mengangguk setuju dengan kalimatnya. Beberapa saat hening tercipta bersama angin yang bertiup perlahan.
“Sebelum kembali ke tanah air, aku mengunjungi kembali Wat Arun. Bukan hanya goresan namanya yang sudah tak ada, tapi bahkan aku tak bisa menikmati keeksotisannya. Candi itu sedang dipugar,” kataku.
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”
“Mungkin di tahun keenam nanti,  aku ingin membeku di ketinggian Himalaya,”
Ia menyimpulkan senyum seraya menjabat tanganku dengan erat sekali.
“Jaga kesehatanmu. Jalanmu masih sangat panjang. Tetap sampaikan harapanmu kepada Tuhan. Aku berdoa kelak segala semoga itu mampu teraminkan,” kalimat itu menjadi penutup sebelum akhirnya kami beranjak dari tempat itu untuk berjalan berlawanan menuju tujuan masing-masing.
Antara aku, pelangi, dan hujan. Kami tak pernah menemukan titik temu. Semua berjalan menuju arah yang berlawanan. Namun aku percaya, suatu hari aku mampu memadukan pelangi dan hujan.