Titipan

(<)
Sebaris nama terpanjat dengan sengaja olehku dalam syahdunya suasana berkomunikasi dengan-Mu.
Aku mencintai-Mu yang tak pernah lelah melindungi dia untukku.
Dan tak jarang mencemburuiku yang terkadang menjadikanmu sebagai urutan kesekian. Maafkan aku.
Aku selalu tau kepada siapa aku akan kembali, sebab itu pula aku belum mau menemui ataupun mengejarnya.
 Aku tak tau berapa hari engkau meminjamkan raga ini padaku, aku belum tentu bisa membahagiakannya, jadi aku tak mau membuat dia sedih karna kebahagiaan sesaat.
Yang pasti, dia atau bukan dalam kisahku, aku atau bukan dalam kisahnya, aku sudah  mengupayakan dia agar selalu aman dan sehat untuk dipertemukan kepada yang layak nanti.
Aku menyentuhnya melalui angin.
**
(=)
Kau tau mengapa bintang tak ada saat mendung?
Aku rasa karna Bulan tak menginginkan kekasihnya tersengat petir.
Akupun begitu,
Saat aku tak mencantumkanmu dalam beberapa lembaran, janganlah berprasangka buruk, aku kerap merasa ada hal yang berpeluang menyakitimu, kau tak lebih terjaga disana, aku khawatir.
Aku belum seperti apa yang kau bicarakan, dan wahai kekasih, aku takut kau tak lagi tinggal saat  kau sadari itu.
Berapa kali lagi kita akan terus berjalan bersebelahan seperti ini?
Aku sangat merasa berarti.
Aku tau wanita baik untuk lelaki baik, jadi aku siap bila harus meningkatkan kualitas diri, aku akan meneruskan studiku agar kelak dapat menjadi ibu yang cerdas untuk anak-anakmu.
Jangan pergi terlalu jauh agar kelak kau dapat menemuiku disini dengan mudah dan aku telah siap.
Cinta, Kau tertambat dalam kertas putih ini dan tolonglah segara kembali.
Jangan terlalu jauh pergi agar diwaktu yang telah kita sepakati nanti kau mudah menemukanku disini...................................... 3xGemaan cemas yang selalu tertutur olehku
**
(>)
          Pagi ini aku terbangun sedikit siang sedang di atas meja makan suamiku telah menyediakan roti panggan dan nasi goreng. Aku terbangun dari panjangnya mimpi dan besarnya harap. Tuhan telah mengirimkan pengganti dia secara nyata.
          Dia yang asli telah lama menikah dengan pilihannya. Jujur saja,  ini lebih dari sekedar tercabik, entah sehancur apa aku dan entah sedalam apa lukanya, namun tidak sekalipun menjadi alasan untuk berhenti mencintainya.
Kini aku mengerti, kau adalah sebuah titipan dunia
           Kini aku bersama suamiku yang sama sekali tidak mencintaiku sebab cintanya telah dibawa mati kekasih lama yang selalu diharapkannya sampai saat ini bahkan sampai kapanpun untuk menjadi yang terakhir dalam hidupnya, akupun sama. Masih membungkus cinta yang sedaridulu ada dengan rapih dan terjaga untuk dia yang asli dan dalam lantunan doa pun namanya tidak akan pernah sirna, selalu tersirat dengan nyata, kuperuntukkan untuk kebahagiaannya.
***

Aku menemuinya duduk menangis tersungkur dipusara layaknya orang yang tak lagi punya harap, aku menghampirinya dengan air mata yang masih membubuhi pipi. Tanpa harus bertanyapun aku sempurna mengerti apa yang terjadi,
“Kau harus tau, pertemuan tak harus selalu disini.”
“Kau juga harus bisa membedakan mana hadiah mana titipan. Bila dia selamanya untukmu itu hadiah, namun bila hanya sementara itu berarti titipan, ya seperti namanya, titipan, sewaktu-waktu yang dititipkan bisa diambil kembali oleh yang menitipkan, yang penting selama kau dititipkan kau sudah menjadi penjaga yang baik, kau sudah amanah dalam tugasmu.”
Ia berdiri menghapus jejak air mata diwajahnya sembari mengelap ingusnya yang sedikit mengintip keluar. Sedangkan aku pergi melangkah meninggalkannya dan duduk membisu ditaman bunga matahari untuk menata rasa yang baru saja gempa, meski aku tau aku tak akan mampu.
“Siapa namamu?”
“Silahkan duduk.”
“Kenapa kau tau masalahku? Kenapa kau bisa berbicara seperti tadi?”
“Kau, pusara wanita dengan tahun kelahiran yang tidak jauh dariku, dan air mata. Tidakkah cukup menjadi jawaban?”
“Tetapi dengan kata-kata itu, mengapa bisa terlantur?”
“Karna aku juga mengalami, hanya beda jalan.”
“Kekasihmu meninggal?”
“Tidak, tidak orangnya, tapi cintanya untukku.”
Kami saling berbagi tangis, ikut larut dalam kesedihan masing-masing. Aku dengan kisahku, ia dengan kisahnya. Kami tak pernah lupa memberi tahu satu sama lain sebesar apa cinta kami pada titipan yang kami terima.
          Dan inilah kami, sepasang yang giving up each other, teman baik yang selalu memberi support untuk tidak lelah mengharapkan pertemuan dengan yang pernah menjadi titipan namun membekas dihati layaknya hadiah.
Suamiku ini satu-satunya lelaki yang mau menikahiku tanpa meminta sepeser saja cinta dariku dan satu-satunya lelaki yang menikahiku dan siap atas permintaanku untuk tidak dicintai.

Tuhan selalu memberi jalan untukku untuk tetap mencintai dia.

Cintaku sebesar itu padamu.
Aku masih berharap, namun kini harapku kita bertemu dan menjadi sepasang yang sangat berarti di surganya nanti.
Pertemuan tak selalu harus disini.

#Selesai