Bangunkan Aku Saat September Berakhir


Bangunkan aku saat september ini telah berakhir. Saat aku lebih tua dan lebih bijak untuk mengerti bahwa kepergian bukanlah kehilangan. Bangunkan aku saat september ini telah berakhir. Saat aku lebih pintar dan lebih dewasa untuk memahami bahwa merelakan bukanlah melepaskan. 

Sudah lama ku terpejam, masih terbuai mimpi yang membuatku tak kunjung tersadar. Malas membuka mata, malas berhadapan dengan dunia, malas menghadapi realita. Ya, kuakui impian indah itu terus membayang. Namun terlalu tinggi untuk digapai dengan tangan. Terlalu jauh untuk dikejar dengan langkah.
 
Mimpi ini membuatku terperosok semakin dalam. Makin dalam. Semakin dalam. Dan terlalu dalam. Hingga kusadari sesuatu. Ini mimpi yang sama. Mimpi indah yang tidak akan pernah menjadi nyata. Mimpiku yang berada di ujung langit yang mustahil untuk digapai, mustahil untuk diraih, dan mustahil sampai di sana. Terlebih karena aku sendirian.

Aku harap aku masih mempunyai kesempatan untuk membuat mimpi ini tak hanya sekedar mimpi. Bukan sebagai khayalan, melainkan buah harapan yang berakhir manis menjadi bukti. Aku harap aku masih memiliki alasan untuk membuat cerita ini tak hanya sekedar cerita. Bukan untuk sebuah akhir yang bahagia, melainkan sebuah pilihan yang berakhir baik untuk kita bertiga. Aku, kamu, dan semesta. 


Jadi bangunkan aku saat september ini telah berakhir. Saat aku sudah lebih tua dan lebih bijak untuk mengerti bahwa kepergian bukanlah kehilangan. Jadi bangunkan aku saat september ini telah berakhir. Saat aku sudah lebih pintar dan lebih dewasa untuk memahami bahwa merelakan bukanlah melepaskan.