Kerinduan di Dalam Diamku



Entah darimana sebaiknya kumulai kisah ini. Entah pula apakah kisah ini menarik atau tidak. Kisahku ini seperti setangkai rumput yang tadinya kokoh berdiri namun kemudian terinjak rebah, layu, tak berdaya dan terhempaskan begitu saja. Atau mungkin pula kisahku ini bagaikan setitik debu di antara jutaan titik debu lainnya di padang pasir yang tampak tak berarti dan dihempaskan begitu saja.

        Rasanya telah kutuliskan kisah ini ribuan kali, berharap ada satu yang bisa kau baca di sana. Namun kenyataannya tak ada satu pun yang kau baca. Tak ada satupun yang membuatmu bisa berubah seperti dulu. Mungkinkah karena aku menuliskan rasa rindu ini di atas angin yang terlalu sulit untuk kau genggam dan kemudian kau simpan dalam dekapanmu. Mungkin angin yang paling tahu rasa rindu ini kepadamu. Dan ia hanya bisa mengembalikan hembusannya dalam sikap diamku.

         Sejujurnya ingin ku utarakan rasa rinduku kepadamu, tetapi sayangnya aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya bisa memendam rasa ini dalam-dalam dan menyimpannya rapat dalam hatiku. Selama ini aku berusaha membuat diriku sibuk agar tidak ada sedikit pun celah agar bayanganmu bisa masuk dan membuatku merindu. Terkadang aku benci merasakan rindu. Aku benci bagaimana rasa rindu itu membuatku gelisah dan tak tenang. Aku benci bagaimana rasa rindu itu selalu membuatku memikirkanmu. Aku tidak bisa berhenti untuk terus-menerus memikirkanmu sepanjang waktu. Rasa ini benar-benar menyiksaku.
        Kau terus berputar-putar di kepalaku, menghitung setiap detik yang berlalu, dan mengganggu kinerja otakku. Entah sampai kapan kau akan terus memenuhi kepalaku, membuat waktuku habis karena terus memikirkanmu, dan membiarkan aku secara perlahan menjadi tidak waras. Aku merasa bersalah karena sudah lancang merindukanmu. Aku merasa bahwa aku bukanlah orang yang pantas untuk merindukanmu dan mengharapkanmu. Aku terlalu berambisi untuk dapat membuatmu menjadi satu-satunya wanita yang bahagia karena hadirku, namun kenyataannya aku hanya mampu terdiam.

        Di luar sana banyak yang merindukanmu dan banyak pula yang mengharapkanmu. Rasanya tak adil jika hanya orang lain yang dapat mengungkapkan kerinduan itu kepadamu melalui jutaan kata ungkapan mesra yang dapat menggetarkan hatimu. Aku pun ingin sekali melakukannya. Namun lihatlah, diam yang selalu menyelimutiku. Atau kebisuanku yang mendekap rindu ini hanya karena tak ingin terabaikan. Aku terlalu takut jika ungkapan rindu ini terabaikan. Namun diam inilah yang membuatku bisa lebih mengerti arti dari semua rasa ini.

***

        Tidak henti-hentinya aku membaca percakapan kita dalam pesan-pesan singkat itu berkali-kali hanya untuk merasakan kembali kehangatan yang dulu kudapatkan darimu. Aku selalu menikmati kata demi kata yang kau tuliskan. Hal itu bisa membuatku sedikit tenang dan membuatku merasa seolah-olah kau ada. Namun terkadang hal itu juga yang membuatku menjatuhkan air mata. Aku merasa kesepian. Apa kau bisa membayangkannya? Apa kau bisa membayangkan rasa kehilanganku saat kau menjauh dan pergi?

         Aku tak pernah melupakan apa yang kini telah membuatmu pergi. Kau sendiri yang mengatakan bahwa itu karena ulahku.
Mungkin ini sebuah hukuman dari kenangan. Karena dulu, air mata yang terjatuh di pipimu selalu disebabkan olehku. Karena dulu, tawamu yang menyuarakan nada-nada bahagia sempat tertahan oleh keegoisanku. Karena dulu, kesalahan terfatalku adalah membiarkanmu berlalu. Barangkali, Tuhan hendak mengajarkan aku tentang arti merelakan. Apa yang kudapat dari segala rasa yang kuberi namun tak pernah mendapat balasan. Barangkali kau hanya cinta titipan yang kapanpun bisa direnggut kembali oleh Tuhan. Atau barangkali, aku yang terlambat memahami bahwa ucapanmu serta tingkah lakumu yang pernah berarti untukku, nyatanya tak pernah berbekas apa-apa di hatimu.

        Merelakan bukanlah hal yang sulit untuk diucapkan, hanya mungkin butuh waktu untuk dilakukan. Butuh waktu yang tak sebentar bagi hati untuk merapikan serpihan demi serpihan. Butuh waktu yang tak sebentar bagi diri untuk menerbangkan segenggam kemungkinan-kemungkinan. Butuh waktu yang tak sebentar untuk menyadari bahwa satu-satunya jalan adalah dengan membiarkanmu pergi. Dan aku butuh lebih dari sekedar waktu untuk memahami bahwa kita sudah tidak seperti dulu lagi. Untuk memaklumi bahwa hubungan kita sudah tak sedekat dulu lagi. Untuk mengerti bahwa aku sudah tak berarti untukmu lagi.

        Dari hati yang terdalam, izinkan aku mengucapkan maaf untukmu. Maaf, aku terlanjur mencintaimu begitu dalam. Maaf jika perasaan ini hanya bisa terkunci dalam hati. Maaf jika telingamu belum sempat mendengar nama siapa yang selalu membuatku tersenyum lebar. Maaf jika kamu terlalu menghiasi setiap harapan yang ku terbangkan dengan sangat tinggi. Dan maaf, jika aku sulit berpindah ke lain hati. Inilah aku yang dengan tanpa keberanian untuk mengakui hal itu di hadapanmu. Inilah aku, yang masih tetap begitu hingga membiarkan perasaan itu perlahan membunuhku.

         Tapi, mungkin itulah cara semesta membuat hatiku dewasa. Kini, aku akan mencoba pergi untuk melarutkan rasa. Semoga hatiku lupa caranya menyesal pernah terjatuh padamu. Semoga hatiku pun lupa caranya pulang jika nanti datang saatnya meninggalkanmu. Semoga bibirku mudah mengingat bagaimana caranya tersenyum sebelum kamu yang menjadi alasan untuk senyumku itu. Pada akhirnya, semoga kamu menemukan bahagiamu yang paling membahagiakan dari ia yang nanti kan berada di sampingmu. Pergilah dengan sepasang tangan yang akan membawa harapan terindah dalam hidupmu itu menjadi kenyataan yang kau impikan.


           Semoga saja bukan hanya aku yang merasakan susahnya merindu. Ku harap kau turut merasakan hal yang sama. Namun, apakah mungkin? Aku tak yakin karena aku tak pernah mendengar kata rindu itu terucap dari bibir manismu. Bagaimana jika selama ini aku telah merindukan orang yang tidak pernah merindukanku? Aku bingung, tapi aku tahu aku berhak merindukanmu karena aku mencintaimu.