Sebuah Kota 3 Agama, 1 Tuhan, dan Ribuan Umat


Kali ini saya akan membahas secara singkat sebuah kota tua yang bernilai sejarah tinggi. Sebuah kota dengan segudang cerita. Yerusalem! Kota suci dimana para nabi dilahirkan. Kota yang sejatinya merupakan tempat yang damai ini menjadi kota konflik tiga agama yakni Islam, Kristen, dan Yahudi dari zaman ke zaman. Kota yang secara de facto dikuasai oleh Israel telah menjadi saksi bisu pertikaian darah  antara dua negara, Israel dan Palestina.

Yerusalem merupakan kota tua legendaris. Diperkirakan usianya telah mencapai 50.000 tahun. Sejak ditemukan Canaanites pada tahun 2000 SM, tanah ini menjadi rebutan berbagai bangsa. Mulai bangsa Babilonia hingga bangsa Romawi, mulai bangsa Arab hingga bangsa Israel.

Kota dengan kurang lebih 724.000 penduduk ini telah mengalami beberapa kali pemindahkuasaan. Dahulu kala, di bawah kekuasaan Islam, Yerusalem tumbuh begitu pesat. Selain itu, di era Khulafa Ar-Rasyidin, pada masa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah dan kerajaan Abbasiyyah, kota Yerusalem juga menjadi kota yang berkembang.

Saat Al-Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan Fatimiyyah berkuasa, Gereja Jirat Suci dihancurkan. Konon, kebijakan khalifah inilah yang menjadi salah satu pemantik terjadinya Perang Salib. Kota seluas 123 km persegi ini akhirnya ditaklukkan tentara Perang Salib pada tahun 1099 M dari kekuasaan Khalifah Al-Musta’li.

Pada tahun 1517, Yerusalem kembali dikuasai Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Namun, pada akhirnya Yerussalem lepas dari genggaman Turki setelah negara tersebut kalah dalam Perang Dunia I. Jadi, sepanjang sejarahnya, kota suci ini telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai ulang 44 kali.

Yerussalem merupakan kota dengan nama yang menggema di hati umat Kristen, Yahudi, dan Muslim. Kota bersejarah ini terbagi dalam empat wilayah etnis, yaitu wilayah penduduk Muslim, Armenian, Yahudi, serta Kristen.

Di dalam kota ini sendiri, terdapat 3 jenis tempat peribadatan yang berbeda dengan jarak yang berdekatan. Gereja, Masjid, serta Tembok Ratapan berkoloni dalam satu wilayah bernama Yerusalem.

Bagi kaum Muslim, kota ini menjadi tempat suci ketiga setelah Medinah dan Mekah. Di kota penuh cerita ini, kita dapat menemui bangunan Masjid al-Aqsa serta Dome of The Rock. Masjid al-Aqsa ini merupakan tempat suci ketiga bagi Islam setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Umat Muslim yakin Nabi Muhammad ke Yerusalem dari Mekkah ketika melakukan perjalanan malam yang disebut Isra Mi'raj, diyakini pula di Masjid al-Aqsa Nabi Muhammad sholat bersama para nabi lainnya. Selain itu, di dekat tempat suci Dome of the Rock, terdapat batu yang dipercaya umat Muslim, merupakan tempat yang dipijak nabi sebelum melakukan perjalanan ke surga. Umat Muslim mengunjungi situs suci tersebut sepanjang tahun, bahkan setiap Jum’at pada bulan Ramadhan, ratusan ribu umat Muslim melakukan sholat di masjid tersebut.

Di dalam wilayah Kristen sendiri terdapat Gereja Makam Kudus, yang menjadi situs penting bagi umat Kristen di seluruh dunia. Situs ini merupakan saksi sejarah perjalanan Yesus, kematiannya, penyaliban dan kebangkitannya. Menurut tradisi Kristen, Yesus disalib di sana, di Golgotha, atau bukit Calvary, makamnya yang kosong berada di dalam gereja dan juga menjadi lokasi kebangkitannya.


Sedangkan bagi kaum Yahudi sendiri, mereka memiliki Western Wall atau Wailing Wall atau Tembok Ratapan yang merupakan Sinagog terbuka bagi kaum Yahudi. Tembok Ratapan ini merupakan tempat terdekat bagi kaum Yahudi untuk berdoa ke Maha Kudus. Lokasi ini dikelola oleh Rabi dan setiap tahunnya terdapat jutaan orang Yahudi dari seluruh dunia yang melakukan ziarah.

Memang, dalam kenyataannya, kini Yerusalem menjadi kota 3 agama. Dalam satu waktu, di sana kita akan mendengar lantunan adzan dari masjid, bersanding dengan bunyi lonceng gereja, dan alunan kidung-kidung Ibrani dari sinagog. Dari tempat-tempat itu, nama Tuhan yang Satu dikumandangkan dalam berbagai dialek bahasa. Sayangnya, hingga kini bayangan surga hanya sedikit nampak di Yerusalem. Selebihnya, yang ada hanyalah neraka pertikaian darah yang berkepanjangan.