Cukuplah Jadi Keleluasaanku


Dalam sesak nafas yang harus aku tanggung tiap malam, ada nikmat merindukanmu secara diam-diam dan temaram.
Kekasih, suratku ini anggap saja aku yang mengigau tengah malam. Biarkan suaraku menjelajahi cuping-cuping telingamu. Aku tak akan berteriak memekakannya. Kan kubiarkan ia ramah pada dua gendangnya. Kuminta percaya saja.
Kau, masih perlukah aku berbicara keras-keras tentang cinta setelah setabah-tabahnya aku menunggumu dengan luka, dengan kecewa?! Masih perlukah cinta aku gadang-gadang, kusuguhkan dengan nampan ketika merindukanmu aku lakukan dari mulai banyak bicara hingga hanya bisu dan air mata yang aku punya?! Perlukah?!
Aku malu pada waktu. Malu karena begitu keras kepala mempertahankanmu yang memikirkanku saja bisa jadi sesekali waktu. Tapi, kau tahu bahwa hati bagi manusia adalah lawan terberat untuk dipungkiri?! Ia mampu memenjarakan logikamu, membakar hidup-hidup nuranimu. Dia kadang tidak masuk akal dengan sangat terlalu.
Kepadamu pemilik rinduku selama beberapa waktu, kelak aku pasti akan lelah begini. Aku akan tidak ingin sama sekali mengingatmu dalam bentuk apa pun, menggilaimu dalam sepuisi apa pun, merindukanmu dalam sediam apa pun. Tidak ada apa pun dalam diriku yang bersedia menganggapmu lagi sebagai sesosok peri jelita berwarna keemasan. Tak akan.
Tapi, sebelum masa itu tiba, biarkan aku larut dalam sesuka-sukanya rasa. Biarkan rindu dan buahnya kubungkuskan padamu. Biarkan gila tetap seperti itu. Dan biarkan aku mengatakan bahwa mencintaimu cukuplah menjadi keleluasaanku.