Ternyata Tuhan Tidak Sekejam Itu


Aku berada fase ini: mencintaimu saja, tanpa ingin siapa-siapa.


Aku juga tidak mengerti mengapa ada perasaan sedalam itu. Perasaan yang membuatku buta akan adanya kebahagiaan lain. Aku tidak bisa menatap rasa dari orang lain, sebab dalam pikiranku hanya kamu. Bahkan sekedar berteman saja aku enggan. Jangankan membuka hati, mengetahui seseorang memiliki perasaan kepadaku saja, aku akan segera menjauhinya. Begitulah aku ingin menjaga perasaan ini kepadamu. Bagiku tidak ada cinta lain selain cinta kepadamu.

Namun suatu hari perasaan itu menghempaskanku. Ternyata kau tidak memiliki sikap yang sama denganku. Bukan aku saja orang yang kau inginkan. Kau melepaskanku dengan pelan-pelan, tanpa aku sadari. Sudah sejauh itu saja kau menjauh. Membuat semua yang sudah kubangun di kepalaku runtuh.

Aku hampir saja kehilangan akal sehat. Merasa hidupku tidak berarti lagi. Bertanya pada diriku sendiri,dengan siapa aku hidup nanti? Perasaanku terlanjur kuserahkan kepadamu seluruhnya. Remuk sudah semua doa. Bahkan aku sempat berpikir, kenapa sekejam ini Tuhan menciptakan akhir?

Hari berlalu dengan lelah dan patah hati. Hingga akhirnya aku tersadar lagi. Aku salah!

Di dunia ini ada fase seseorang akan mencintai sepenuh hati. Setidaknya sampai kali pertama ia patah hati. Saat di mana seseorang menumpangkan kebahagiaannya hanya kepada satu orang yang lain. Aku memilih kaulah orang itu. Padahal kebahagiaan tidak pernah benar-benar bisa ditumpangkan kepada seseorang. Sebab terlalu sayang seringkali mengaburkan batas mana hal yang sewajarnya dan mana hal yang tidak seharusnya. Aku tidak menyadari, bahwa kebahagiaan bersamamu hanya berlaku saat kau bersamaku, jika kau memilih pergi seharusnya kebahagiaan itu juga berpindah pada orang lain. Tanpa perlu kusesali. Karena di dunia ini begitu banyak cinta yang indah, dan yang lebih indah.