Jodoh ada ditangan-Nya


Malam itu, dikala rintik hujan temani kesendirianku. Terdengar dering handphoneku yang menandakan pesan baru masuk. Ya, ternyata  dari kamu. Aku ingat dalam pesan itu kau memintaku agar kita menyudahi apa yang sudah kita tuliskan dalam buku kenangan. Sepintas goresan senyum ketegaran sengaja dibuat oleh wajah ku meskipun kenyataannya hati ini tersayat. Sekian banyak kenangan yang sudah kita tulis dalam beberapa kesempatan tak lagi bermakna untukmu. 

Rasanya baru kemarin aku bertemu dan dengan cepat menepikan hati pada segala semoga yang kupanjatkan pada Tuhan dengan mewakilkan kamu sebagai jawabannya. Sungguh bodoh jika itu ku anggap mimpi, tapi memang seperti mimpi dalam kenyataannya. 

Kepergianmu terlalu cepat bagiku, bagaimana kamu begitu teganya meninggalkan yang segalanya sudah terisi perihal kamu. Rindu yang telah lama bersedia menunggu, bersedia menikmati duka, ikhlas dengan segala luka bukannya kau tata dengan rapi justru sedemikian kau buat remuknya 
mendengar segala kesaksian pahitmu.

Padahal kemarin, ragamu masih sanggup disentuh manjanya aku.
Kemarin, ragamu adalah sandaran paling nyaman bagi lebam yang hidup menyesakkan.
Kemarin, ragamu adalah terapi kehidupan disaat aku begitu monoton dalam sakit yang tak sepantasnya.
Dan kemarin, engkau raga dari segala tubuh dimana rindu hanya menuju satu. Puannya. Sekarang, apalagi ragamu, sehempas angin yang tak lagi dapat kupeluk saat sakit atas rindu terlalu keterlaluannya, tak lagi dapat ku ciumi aroma tubuhnya yang merebah  bagai racun dalam darah, sehingga segalanya hanyalah kamu ditubuhku.

Malam itu, aku seperti raja dalam permainan caturmu. Kau buat skakmat. Aku tak tahu harus bagaimana, aku telah jatuh. Jujur aku tak sanggup merelakanmu pergi, hatiku ada disana, bersamamu.
Bukannya aku tak mengerti, tapi memang mengawali ikhlas harus dimulai dari hati, sementara itu hatiku tak sengaja kau bawa lari. Pahamilah, aku tak sanggup hidup tanpa hati.

Malam itu, apa yang bisa kutampakkan dihadapanmu selain sebuah kepura – puraan ? Tak ada.
Mataku enggan membuka, sebab aku tahu, akan ada basah yang tak lagi dapat dibendung mataku dengan melihat setapak demi setapak suatu perpisahan denganmu. Menatapmu aku tak yakin sanggup, Puan.

Kau lihat senyum itu ? Di wajahku ? Hanya agar kamu tak mengira – ngira aku luka.
Biar, sekalipun kamu ku tahan, akhirnya akan meninggalkan juga—kan.

Sekalipun aku ingat betul, katamu “aku tidak pergi untuk meninggalkan, apalagi menjauhimu, sayang. Aku pasti pulang”. Walau begitu apa yang kau sisakan untuk ku nikmati sekarang ? Kesendirian, bukan.

Dengar, aku tak yakin sanggup menjalani kesendirian tanpa dirimu dengan waktu yang cukup lama, sekalipun iya, aku harus cukup kuat untuk membangun hati yang tabah.

“berbaliklah, lalu pergi”. Aku hanya tak ingin kau sempat melihat diam yang tak mampu dijelaskan; tangisku. Supaya kau ingat, kutinggalkan pelukan. Kelak ketika kamu jatuhkan rindu di tanah dahulu, kenanglah aku; gigil yang masih perlu hangat --- kamu.

Dan malam itu aku sadar, meskipun ribuan tangis ku jatuhkan, ratusan mohon ku lantunkan, kamu tak akan tetap tinggal. Kemudian hari aku hanya percaya, jika memang dirimulah apa yang selalu kupinta dalam semoga pasti Tuhan akan menjadikannya, namun jika tidak, tetap terbilang “Jodoh ada ditangan-Nya”.