Sebuah keajaiban
yang membawaku dapat menginjakkan kaki di sebuah kota yang eksotik. Ya, kota
London yang merupakan salah satu saksi bisu pertemuan aku dan kekasihku. Entah
apa ini sebuah takdir atau sebuah kebetulan, yang jelas aku beruntung dapat
menemukan wanita seperti dia. Gadis itu bernama Khamisah Ardani, biasa
dipanggil Ami. Gadis kelahiran Lhokseumawe, yang memiliki hati lembut dan
kepribadian apik.
Berawal
dariku memenangkan sebuah perlombaan fotografi yang berhadiah liburan selama 5
hari ke London. Aku memang sudah bertekad keras untuk dapat memenangkan
perlombaan ini, sampai berbagai macam perjuangan aku lakukan. Dengan
bermodalkan sebuah Kamera DSLR 1100D dan juga kemampuan dasar fotografi yang
bisa dibilang masih sangat rendah aku mencoba untuk mengikuti perlombaan
fotografi yang diadakan oleh sebuah perusahaan kamera terkemuka. Aku menemukan
info perlombaan tersebut dari sebuah akun twitter penyedia informasi lomba.
Awalnya aku ragu untuk mengikuti perlombaan ini, namun aku teringat akan pesan
guru SMP-ku dulu yang mengatakan “Siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti
berhasil!” aku langsung memacu kembali semangatku dan
bersungguh-sungguh untuk mengikuti perlombaan itu.
Hari yang ditunggu datang, tepatnya tanggal 1 September 2013, dimana aku harus
berjuang untuk mempertaruhkan semua keringat dan materi yang sudah aku
keluarkan. Pukul 08.00 WIB para peserta lomba dikumpulkan disuatu ruangan untuk
pengarahan lomba. Aku memandang ke sekelilingku sambil tertegun melihat
sainganku yang terlihat sudah professional dalam bidang
fotografi. Namun hal itu tidak menyurutkan niat dan semangatku untuk tetap
berjuang dan memenangkan perlombaan itu. Aku menenangkan diriku dari nervous dan
kembali mendengarkan pengarahan lomba. Setelah kira-kira 15 menit mendengarkan
pengarahan, kami dituntun menuju ke lokasi perlombaan. Ternyata, lokasinya
tidak jauh dari tempat pengarahan tadi. Lokasinya adalah sebuah taman dari kantor
perusahaan tersebut yang sangat indah dipenuhi dengan berbagai macam tumbuhan
dan juga ikan hias. Baiklah, aku sudah berada di lokasi dan waktunya aku
berjuang.
`
Para peserta diberi waktu 1 jam untuk mengabadikan 5 objek berbeda dan nantinya
akan disortir menjadi 3 foto. Aku sempat bingung dengan perintah tersebut,
dengan polosnya aku mulai mengabadikan apa yang aku lihat. Pertama, aku memfoto
sebuah ayunan yang berayun karena tertiup angin yang kencang. Mungkin itu
terdengar aneh, namun bagiku objek itu menarik dan baru aku saja yang
mengabadikannya. Setelah kurang lebih 10 menit, aku menemukan objek baru, yaitu
sebuah bola yang berada di tengah kolam yang sedang dimainkan oleh ikan koi.
Aku kembali mencari objek yang lain, akhirnya aku menemukannya dalam 5 menit
kemudian. Objek ketiga yang aku abadikan adalah seorang peserta lomba yang
sedang mengecek kameranya sambil duduk di bangku taman menghadap ke arah kolam
dan gedung. Aku lumayan iseng awalnya, namun gambar itu menarik juga.
Waktu terus berjalan, perlombaan sudah 45 menit berlangsung. Aku harus
mengabadikan 2 objek berbeda lagi. Objek keempat yang aku abadikan adalah
seekor kucing yang sedang duduk termenung melihat tempat sampah dipojok taman,
dan objek yang kelima adalah sebuah pohon jati yang sedang meranggas. Akhirnya,
aku sudah mendapatkan 5 objek berbeda dan kini waktunya aku untuk menyortirnya
menjadi 3 foto. Waktu tersisa 5 menit untuk melakukan penyortiran. Dan
akhirnya, aku memutuskan untuk memilih foto pertama, ketiga, dan kelima. Aku
memindahkan foto tersebut ke flashdisk lalu menyerahkannya ke
panitia. Panitia mengatakan bahwa mereka akan mengumumkan pemenang perlombaan
itu pada tanggal 5 September 2013. Aku langsung bergegas pulang untuk
beristirahat setelah bergelut seharian dengan fotografi.
Selama proses penjurian yang berlangsung dari tanggal 2-4 September 2013, aku
habiskan waktuku untuk terus memanjatkan do’a agar aku dapat memenangkan lomba
itu. Andaikan tidak menang pun tidak apa-apa, namanya juga sebuah perlombaan
pasti ada yang menang dan yang kalah. Aku sangat gelisah tak dapat tidur dengan
nyenyak karena bayang-bayang akan hasil perlombaan yang semakin dekat. Aku
lebih banyak menghabiskan waktu untuk di rumah, keluar rumah pun hanya untuk
mencari makanan karena Ibu tidak masak. Ya, selama kurang lebih 3 hari aku
seperti itu.
Akhirnya, setelah melalui masa-masa yang membuat hariku dag-dig-dug,
tanggal 5 September 2013 pun tiba. Inilah hari pengumuman pemenang perlombaan
Fotografi. Aku datang ke lokasi pengumuman pemenang di Aula Perusahaan yang
menyelenggarakan lomba tersebut. Aku duduk di deretan ke-tujuh dari depan.
Pembawa acara pun membuka acara pengumuman tersebut dan suara tepuk tangan
penonton bergemuruh di aula. Rasanya atmosfer
ini membuat jantungku semakin berdetak kencang. Ternyata, hadiah yang dibagikan
beraneka ragam serta nominasinya pun banyak. Hadiah utama yakni Liburan ke
London selama 5 hari bagi Juara I. Inilah hadiah yang sangat aku inginkan.
Hadiah lainnya adalah Liburan ke Bali selama 5 hari, Laptop, Tablet PC, dan
lainnya. Nominasi juaranya adalah Juara I sampai V, Juara favorit, dan Juara
ter-kreatif. Meskipun banyak hadiah dan nominasi yang ada, aku tetap berharap
untuk memenangkan nominasi Juara I dengan hadiah Liburan ke London.
Waktu semakin cepat berlalu, sampai pada akhirnya nominasi puncak akan
dibacakan oleh pembawa acara. Aku masih belum memenangkan nominasi apapun, dan
aku sangat pesimis.
“Juara I Lomba Fotografi 2013 yang akan mendapatkan
hadiah Liburan ke London selama 5 hari adalah…… “, pembawa acara membuat
seluruh yang hadir di aula mengalami serangan jantung mendadak
begitu pun aku.
“Adalah……”, aku berdoa dalam hati dan menunduk.
“Adalah Fery Ardian dengan objek foto Ayunan terhempas
angin ! “.
Sontak aku kaget dan seakan tak percaya dengan nama
yang disebutkan oleh pembawa acara.
“Kepada saudara Fery Ardian, diharapkan naik ke atas
panggung”, aku pun berdiri dan bergegas naik ke atas panggung. Aku diberi applause oleh
ratusan orang yang hadir di aula.
“Selamat kepada saudara Fery Ardian yang telah
memenangkan hadiah liburan ke London pada tanggal 15-19 September 2013. Hadiah
ini dipersembahkan oleh *****. Dan semua akomodasi, pengurusan visa dan paspor,
uang saku, dan lainnya sudah termasuk di dalamnya.”
Aku bersalaman dengan Vice Directure PT.
***** Indonesia dan menerima sebuah piagam penghargaan serta cenderamata
berbentuk segiempat bertuliskan namaku.
*****
Singkat cerita, waktu yang dinantikan sudah tiba. Setelah berbagai perlengkapan
yang akan ku bawa telah siap, tiket penerbangan, visa UK dan pasporku juga
sudah siap, aku segera pamit kepada Ayah dan Ibu. Memohon do’a restu agar
diberikan keselamatan selama perjalanan dan dapat kembali ke rumah dengan
selamat. Do’a orang tua sangat penting, karena ridha Tuhan merupakan ridha
orang tua. Aku berpamitan dan mohon maaf atas segala kesalahanku agar aku
bersih dari dosa. Ayah mengantarkanku menuju Bandara Internasional
Soekarno-Hatta, namun Ibu tidak ikut lantaran banyak pekerjaan rumah yang harus
diselesaikan. Sesampainya di Bandara, aku memeluk Ayah dan menitipkan salam
untuk Ibu. Aku langsung menuju Terminal 2 keberangkatan Internasional. Kebetulan
aku flight pukul 09.00 WIB dengan Pesawat Garuda Indonesia.
Setelah setengah jam menunggu di ruang tunggu, akhirnya aku pun dapat masuk
pesawat juga dan duduk di Seat 32B. Aku duduk bersama seorang Manajer
perusahaan tekstil yang sedang mengisi waktu liburannya. Selama penerbangan aku
berbincang dengannya dan ternyata dia juga seorang United Fans sepertiku. Pesawat yang aku naiki pun mendarat di
sebuah kota transit, yakni Dubai. Para penumpang termasuk aku berganti pesawat
dan menaiki pesawat British Airways
tujuan London. Lagi-lagi aku tidak dapat tidur, meskipun kantuk sudah merasuk
ke dalam tubuh namun mata ini enggan untuk dipejamkan. Pemandangan sepanjang
penerbangan menuju London jauh sangat berbeda dengan pemandangan dalam
penerbangan menuju Dubai. Setelah sekian jam aku merasakan guncangan perjalanan
udara, akhirnya pesawat yang kutumpangi pun mendarat di Bandara Internasional
London Heartrow yang merupakan bandara tersibuk di dunia. Akhirnya aku dapat
menginjakkan kaki di kota yang sangat indah dengan nuansa romantic. Ya, London lah kota tersebut. Kota yang juga merupakan
ibukota dari Kerajaan Inggris yang menyimpan ribuan sejarah dan keelokan.
Ketika aku turun, aku tidak lupa untuk mengambil gambar pesawat yang akan
terbang di landas pacu. Aku hidupkan kembali smartphone-ku dan
membuka Twitter untuk iseng-iseng menulis tweet yang berisi “Sentuhan pertama di London, UK.” Baru terposting
15 detik, teman-temanku langsung meng-quote retweet. Ada yang bertanya,
“Itu ngimpi ya ? Hahaha”, ada juga yang mengucapkan syukur dan selamat. Ya, aku
membalas satu persatu mention dari teman-temanku. Setelah mengecek twitter, aku langsung menelpon Ibuku di
Jakarta. Mengabarkan bahwa aku sudah sampai di London dengan selamat dan
berjanji akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya seperti pesan orang tuaku
sebelum berangkat. Setelah ku tutup telpon, aku langsung memberhentikan Taxi dan
memberikan secarik kertas yang berisi destinasi hotel yang akan ku jadikan
tempat menginap selama aku di London.
Tidak sampai 15 menit, aku pun sampai di Hotel yang dimaksud dan membayar
argo Taxi yang aku tumpangi. Aku menuju ke Lobby utama
dan Check-in dengan menggunakan VIP-Card yang
diberikan oleh PT. ***** Indonesia disaat aku memenangkan perlombaan. Aku
langsung diberikan kunci kamar, dan diberikan pengarahan bahwa kamarku bernomor
317 dan terletak di lantai 3. Aku diantar oleh Room Boy menuju
ke kamarku dengan menaiki lift ke lantai 3. Letak kamarku tak
jauh dari lift sehingga lebih mudah untuk naik turun. Aku
mengucapkan terima kasih kepada Room Boy dan
berniat memberinya tip, namun ia menolaknya dengan alasan profesionalitas dan
kebijakan perusahaan. Aku pun langsung membenahkan pakaianku dan meletakkannya
di dalam lemari hotel yang sudah ada di sudut ruangan. Saat sedang asyik
membereskan pakaianku, tiba-tiba terdengan suara kresek-kresek seperti
plastik. Ternyata suara itu bersumber dari bungkus Mister Potato yang aku bawa
dan lupa aku nikmati di perjalanan. Tak apalah, justru Mister Potato lebih nikmat
dimakan pada saat aku melakukan perjalanan wisata ke berbagai tempat menarik di
London. Aku langsung meletakkan 5 bungkus Mister Potato dengan berbagai variant rasa.
Setelah semuanya tertata rapi di kamarku, aku tidak langsung beristirahat.
Entah mengapa aku tidak sedikit pun merasakan kelelahan, mungkin karena
semangat dan atmosfir kota London yang membuatku seperti ini.
Aku membuka tirai jendela dan memandang sekeliling. Alangkah menakjubnya kota
London, pemandangan yang tergolong Romance dan juga klasik yang
sangat menarik minat wisatawan yang berkunjung semakin membuatku terpukau.
Dalam hati aku mengucapkan syukur atas berkat dan karunia Tuhan yang
mengantarkanku ke salah satu kota terindah di dunia.
Aku beranjak dari kegiatanku memandang keindahan London untuk berganti pakaian
yang lebih tebal agar aku tidak kedinginan. Setelah berganti pakaian, aku pun
pergi keluar untuk berjalan-jalan disekitar hotel. Aku belum berani untuk
melakukan perjalanan ke tempat yang lebih jauh seperti beberapa obyek wisata
yang sangat terkenal karena aku harus terlebih dahulu beradaptasi dengan
London. Aku beruntung karena mendapatkan penginapan yang dekat dengan obyek
sentral di London, yakni Istana Buckingham yang merupakan tempat teromantis
selain Eiffel Tower. Terlihat di sepanjang jalan banyak sepasang
kekasih yang sedang menikmati indahnya kota. Sedangkan aku, hanya sendiri
ditemani dengan sebuah Kamera yang membantuku mengabadikan berbagai kegiatanku
selama disini. Aku pun duduk di sebuah kursi disamping halte bus dan membuka
sebungkus Mister Potato rasa Barbekyu. Aku menikmati snack kentang
yang sangat enak dan berkualitas ini sambil memikirkan ingin kemana aku besok.
Tanpa terasa Mister Potato rasa Barbekyu yang sedang kunikmati habis, aku pun
segera membuang bungkusnya ke tempat sampah sambil berlalu meninggalkan tempat
persinggahanku tadi. Kini aku berniat untuk kembali menuju hotel karena tanpa
kusadari waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 GMT. Sesampainya di kamar hotel
aku langsung menanggalkan seluruh pakaianku dan segera mandi. Setelah mandi,
aku menikmati indahnya pemandangan London di kala malam. Sungguh menakjubkan !
Setelah puas, aku langsung tidur agar besok dapat bangun pagi dan jogging di
kawasan sekitar hotel.
*****
Alarm dari handphone-ku berbunyi, menandakan waktu sudah pagi. Aku pun
menyempatkan diri untuk sejenak memandang ke arah luar jendela sambil menikmati
matahari yang terbit. Nice! Hari
pertama menikmati rutinitas normal di London. Kini waktunya jogging pertama
di London dan tidak lupa mendengarkan lagu-lagu The Beatles yang
sangat mendukung suasana pagi ini. Aku mengitari jalan di sekitar hotel sambil
melihat-lihat tempat mana yang menarik untuk ku kunjungi hari ini selain 7
destinasi yang sudah aku siapkan. Sekitar setengah jam aku jogging,
aku pun kembali ke hotel untuk mandi dan sarapan. Wow! Menu hari ini ternyata sungguh menarik, yakni Bubur. Ternyata
di Inggris juga ada bubur, namun bubur disini dikemas berbeda. Setelah aku
menghabiskan buburku, aku langsung keluar untuk berjalan-jalan.
Destinasi
pertamaku adalah sebuah istana yang sangat terkenal di dunia. Banyak pasangan
yang melangsungkan pre-wedding disini. Tak lupa juga, tempat
ini pun dijadikan lokasi resepsi pernikahan Pangeran Williams dan Kate
Midleton. Sebut saja tempat itu Istana Buckingham yang letaknya tak jauh
dari tempat penginapanku. Aku sungguh orang yang beruntung karena dapat
menginjakkan kaki di tempat yang indah ini. Dapat terlihat dari kejauhan ada
tentara yang berjaga di depan pintu istana. Aku berjalan di sebuah jalan yang
sangat indah dengan pohon-pohon yang rindah di sekelilingnya. Aku jadi
membayangkan bahwa aku dan juga calon istriku kelak melintasi jalan ini dengan
kereta kuda dan dikawal oleh ratusan tentara. Ah, nampaknya aku
bermimpi. Aku menyusuri jalan disekitaran Istana Buckingham tanpa lupa
mengabadikan moment indah ini. Aku pun selfi menggunakan
kameraku sendiri, karena kebetulan jarang ada orang yang melintas. Mungkin ini
masih pagi dan mereka masih ada yang tertidur ataupun sarapan. Aku menghabiskan
hari pertamaku di Istana Buckingham, dan aku sedikit lelah. Aku memutuskan
untuk kembali ke hotel menaiki taxi. Sesampainya di hotel, aku
meng-upload beberapa foto selfi-ku di depan Buckingham
dan ternyata respon teman-temanku sungguh antusias. Mereka sibuk mengomentari
foto-foto ku. Aku hanya tersenyum sendiri sambil berharap mereka pun dapat ke
tempat ini. Hari sudah mulai gelap, aku pun menutup hari dengan beribu
kata syukur. Hari pertamaku di London sudah berlalu. Aku tidak berniat untuk
pergi malam ini karena udara di luar sangat dingin. Aku pun tidur lebih awal
dan berharap besok dapat kembali meneruskan perjalanan wisataku.
*****
Alarm kembali membangunkanku,
kini aku sangat semangat di hari kedua. Seperti biasa, aku jogging di
pagi hari dan setelah itu sarapan. Aku merencanakan sebuah perjalanan menuju
destinasiku yang kedua dan ketiga, yakni Menara London dan juga Katedral St Paul. Menara London yang terletak di pusat London
merupakan peninggalan sejarah dan telah melayani keluarga kerajaan selama
ratusan tahun. Selain itu menara ini juga pernah menjadi penjara, gudang
senjata, dan bahkan kebun binatang. Sedangkan Katedral St Paul adalah salah
satu tempat wisata yang paling terkenal di kota London, dengan kubah yang dibingkai
oleh menara gereja Wren. Aku sungguh sangat lelah di hari kedua ini, aku
kemudian memutuskan untuk pulang dengan taxi. Seperti biasa,
aku tak lupa meng-upload foto-foto perjalananku. Respon dari
teman-teman pun sangatlah antusias. Aku pun mandi dan makan malam, namun
setelah itu aku tidak langsung tidur. Aku berniat mengunjungi destinasiku yang
ke empat, yaitu The Shard. The Shard merupakan bangunan tertinggi di Eropa
yang terletak di Inggris dengan tinggi 1.016 kaki
atau 310 meter. The Shard terdiri 95 lantai menawarkan pemandangan
sejauh 40 mil ke seluruh kota London. Bangunan ini memiliki 11.000
panel kaca. Aku merasakan bagaikan di dunia mimpi. Bayangkan saja, aku menikmati
indahnya malam di tengah kota terindah dengan ketinggian 310 meter .
Ketika aku sedang takjub, tiba-tiba aku dikagetkan oleh seorang gadis yang
sangat asing bagiku. Ia menyapaku dengan ramah meskipun kami belum mengenal
satu sama lain.
“Good evening,
sir”, sapa hangat dari gadis itu.
“Good evening”,
jawabku dengan tersenyum.
Aku merasakan sebuah hal yang berbeda pada diriku,
entah karena memang suasana yang berbeda atau hal lain yang belum ku ketahui.
“Kamu dari Indonesia, ya ?”, tanya gadis itu kepadaku.
“Iya, aku dari Indonesia. Kok kamu
tahu ?”, sambil tersenyum aku balik bertanya kepadanya.
“Wajah Indonesia-mu itu kelihatan. Oh iya, perkenalkan
namaku Ami. Nama lengkapku Khamisah Ardani.”
“Waduh, aku Indonesia banget dong
? Hai, Ami. Namaku Fery Ardian, panggil saja Fery atau Ardi.”, jawabku sambil
mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Iya, wajah yang mudah ku kenali. Hai, Fery. Senang
berkenalan denganmu.”, jawabnya sambil menjabat tanganku.
“Kamu ngapain disini sendirian ?”, tanyaku pada Ami.
“Aku? Lagi nikmatin pemandangan indah. Kalau kamu
sendiri ?”
“Aku sama seperti kamu, katanya sih di sini itu tempat yang cocok untuk menikmati pemandangan malam
London”, jawabku.
“Wah, pengetahuan kamu tentang London sudah
luas ya.”, sahutnya sambil tertawa.
“Luas dari mana ? Aku masih awam tentang kota ini,
sampai-sampai mau mencari destinasi perjalanan saja harus googling dulu.”,
timpalku sambil membalas celotehannya.
“Apa iya ? Kalau begitu kita bisa kan jalan-jalan
bareng ? Kebetulan aku juga masih belum tahu juga tempat menarik disini. Oh
iya, kamu kesini dalam tujuan apa, Fer ?”
“Boleh, mi. Besok kita jalan bareng ya. Aku kesini
karena menang lomba fotografi, itu pun menurut aku hoki-hokian. Aku
berkesempatan menikmati London selama 5 hari dan hari ini adalah hari kedua.
Kalau kamu gimana ?”
“WOW! Kamu beneran ? Hebat kamu, Fer! Aku
disini liburan, kebetulan sudah satu minggu dan hari kamis nanti aku kembali ke
Jakarta.”, jawabnya.
“Apa ? Hari kamis ? Duh,aku juga pulang
hari kamis, Mi.”
“Cie, jangan-jangan kita satu pesawat ?
Aku flight pagi, Fer.”
“Aku juga, Mi. Ini sih keajaiban banget, ya. Aku Seat 20A”,
jelasku padanya.
“Lho, aku 20B. Kita sebelahan!”
“Alhamdulillah, ada teman ngobrol nanti.”, sahutku
dengan senang.
Kami pun menghabiskan malam dengan berbincang. Ternyata,
dia menginap di hotel yang sama denganku. Tepatnya di Lantai 4 nomor 417, yang
berbeda satu lantai denganku. Entah ini sebuah kebetulan atau memang takdir,
aku merasakan senang sekali dapat mengenalnya. Meskipun aku baru mengenalnya,
namun aku tidak canggung untuk mencubitnya. Aku bagaikan sedang terbuai
dalam atmosfer cinta yang hebat. Kehangatan tawanya mengalahkan
dinginnya
London.
Malam sudah semakin larut, dan
kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel. Aku pun mengatakan bahwa besok
akan jogging dan dia pun ingin ikut bersamaku. Sebelum kami
berpisah di lift, aku juga memberikan secarik kertas yang
bertuliskan nomor teleponku. Jadi jika suatu saat ada keperluan, dia dapat
dengan mudah menghubungiku. Pertemuanku dengannya ditutup dengan senyuman
manisnya. Aku pun terlelap bersama rasa jatuh cinta pada pandangan pertama.
*****
Matahari sudah bersinar di ufuk timur, hari sudah berganti menjadi tanggal 17
September 2013. Aku memulai hari dengan jogging bersama Ami.
Seperti biasa, aku berkeliling hotel sambil sedikit melakukan olahraga
kelenturan otot. Setelah jogging, kami sarapan bersama di
ruang makan hotel. Sambil makan, dia menceritakan bahwa dia adalah wanita
keturunan Aceh. Tak heran bila dia mengenakan kerudung. Di wajahnya pun ada
nuansa Acehnya. Setelah sarapan, kami menuju kamar masing-masing untuk bersiap
menuju ke destinasi yang sudah aku siapkan.
Di hari yang ketiga ini, aku berniat untuk mengunjungi destinasi kelimaku,
yakni Menara Big Ben dan Sungai Thames. Big Ben sejak
lama telah menjadi ikon kota london. Sebuah menara jam besar yang berada di
ujung Utara Istana Westminster di London ini merupakan menara jam tertinggi
ketiga di dunia. Sedangkan Sungai
Thames adalah sebuah sungai yang mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan
kota London dengan laut. Kebetulan
lokasinya berdekatan, jadi kami bisa mengunjunginya sekaligus. Kami menumpangi
Bus tingkat khas London yang berwarna merah. Ini adalah hal yang sangat diinginkan
oleh ku sejak kecil. Sepanjang perjalanan, Ami memfoto objek yang dilihatnya.
Bus kami terhenti di sebuah
halte di dekat Menara Big Ben. Di seberang halte ada sebuah Box Telepon Umum
yang menjadi icon kota London. Aku pun langsung mengabadikannya
seperti para wisatawan lainnya.
“Fer, naluri fotografer kamu kelihatan, lho!”,
tegasnya padaku.
“Hah? Kamu lagi ngigo?”,
candaku.
“Beneran, tahu. Coba lihat hasil foto kamu tadi, itu
seperti yang diambil oleh para fotografer terkemuka di dunia. Mereka
memiliki feeling yang sama seperti kamu.”, tuturnya untuk
meyakinkanku.
“Iya, deh. Thanks ya, Mi.”
“Kembali kasih, Fer. Yuk,kita ke Big Ben.
Fotoin aku ya, Fer!”, pintanya sambil bergegas menuju Big Ben.
“Iya, Ami.”
Aku pun mengabadikan momen-momen bersama Ami di Big
Ben. Kami menghabiskan waktu di Big Ben dengan bercanda. Ketika sedang asyik
bercanda, aku teringat bahwa ada sesuatu yang aku bawa di tasku.
“Mi, mau gak ?”, tawarku sambil membuka bungkus Mister
Potato rasa Pedas.
“Wah, mau dong, Fer. Kebetulan aku juga
suka Mister Potato. Kentangnya itu berasa banget! Jadi
ketagihan waktu makan.”
Kami menikmati suasana Big Ben
ditemani sebungkus besar Mister Potato yang kubawa. Rasanya ini adalah momen
yang tidak akan ku lupakan. Baru semalam aku mengenalnya, namun aku bagaikan
sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Rasa jatuh cinta ku terhadapnya
semakin besar dan seakan ingin mencuat dari hatiku. Aku paham dengan keadaan
ini, aku harus mengungkapkannya pada waktunya nanti.
Kami melanjutkan perjalanan
menuju sebuah jembatan yang sangat terkenal. Jembatan itu bernama Tower
Bridge atau Jembatan Menara. Sebuah struktur dan situs yang paling
mengesankan di ibukota, Tower Bridge
di London telah berdiri di Sungai Thames sejak 1894 dan merupakan salah satu landmark yang paling dikenal di dunia. Di
jembatan ini, perasaanku sudah semakin klimaks, namun entah mengapa hatiku berkata bahwa
belum saatnya untuk mengungkapkanya. Aku pun tetap menjaga sikap agar tidak
terlalu ketahuan bahwa aku menyimpan rasa terhadapnya.
Setelah puas berada di
Jembatan Menara, aku bersama Ami menyusuri jalan di tepi Sungai Thames. Kami
menemukan banyak sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih di tepi sungai
romantis ini. Aku tetap bersabar, menjaga nafsu untuk mengucapkan perasaanku
kepadanya. Setelah lama kami berjalan, kami menaiki sebuah perahu untuk
menyusuri Sungai Thames. Sungguh sangat luar biasa dapat mengarungi sungai
terkenal ini. Ami sangat senang bisa berada disini, dia berterima kasih
kepadaku karena telah menemaninya menikmati London. Kapal pun bersandar di
tempat kami menaikinya pada waktu naik tadi. Hari sudah mulai gelap dan kami
memutuskan untuk menikmati malam indah di London dengan mengunjungi London
Eye atau disebut juga Millennium
Wheel, sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia setinggi
135 meter atau 443 kaki.
Aku menaiki London Eye bersama Ami. Sungguh malam yang sangat
indah. Benar saja, kami dapat menikmati keindahan kota London dari sini. Dari
sebuah gondola kami dapat menikmati keutuhan malam di London. Hatiku sangat
senang, namun disisi lain pun ada perasaan aneh yang semakin lama tak dapat ku
pendam. Aku pun memberanikan diri untuk mengungkapkannya pada Ami, gadis manis
keturunan Aceh.
“Mi…”, panggilku memecahkan keheningan.
“Iya. Apa, Fer ?, sahutnya kaget.
“Aku mau bilang sesuatu. Mungkin ini sudah saatnya aku
jujur sama perasaanku sendiri, Mi.”
“Fer, jangan terlalu lebay, ah !”,
candanya sambil mencubitku.
“Aku gak lebay. Aku mau mengungkapkan
perasaanku sama kamu. Sejujurnya aku menyimpan ini sejak pertama kali bertemu
kamu di The Shard. Kamu sungguh gadis yang mampu membuatku jatuh cinta. Aku
cinta sama kamu, Mi.”, ucapku dengan tegas.
“Apa ? Hmmmm…”,
kata-kata yang keluar dari mulutnya menunjukkannya sedang bingung.
“Disini, di London Eye, tempat
romantis yang dipuji-puji oleh masyarakat dunia aku mengatakan perasaanku
terhadapmu. Ami, mau kah kamu menjadi kekasihku ?”
“Kalau kamu menyadari sikap aku ke kamu, pasti kamu
sudah tau apa yang akan terjadi dan keluar dari mulutku, Fer. Sejujurnya aku
juga suka sama kamu, aku juga cinta sama kamu. Tapi, aku wanita, tidak mungkin
untuk mengatakannya terlebih dahulu. Aku mau menjadi kekasihmu, Fer.”
Jawaban yang keluar dari
mulutnya sontak membuatku sangat bahagia. Aku langsung memeluknya tanpa izin
terlebih dahulu. Aku merasakan telah menemukan jawaban cinta yang selama ini ku
cari. Aku telah berhasil mengutarakan sejujurnya perasaanku pada wanita yang
baru dua hari aku kenal dan ternyata dia pun memendam perasaan yang sama.
Sungguh, Tuhan menyimpan sebuah rahasia yang tidak diketahui siapapun. Sebuah
takdir yang mempertemukanku dengannya di kota terindah yang pernah aku kunjungi
ini. London menjadi saksi bisu awal kisah cintaku bersama Ami tepat di tanggal
17 September 2013. Aku tak akan melupakan kenangan ini. Aku berjanji akan
datang kembali bersamanya ke kota ini.
Malam semakin larut, kami pun
kembali ke hotel dan menuju kamar masing-masing. Sebelum berpisah, aku
mengucapkan kata “I Love You” dan dia
pun menjawabnya dengan kata “I Love You,
too” yang membuat aku tersipu malu. Sungguh hari yang indah dengan penutup
kata yang indah. Aku tertidur lelap dengan rasa lelah yang tak akan ku lupakan.
*****
Hari berikutnya, di tanggal 18
September 2013, aku dan Ami mengunjungi sisa-sisa destinasi wisataku. Kami
mengunjungi banyak tempat, yakni Shakespeare's Globe Theatre, Kebun binatang
ZSL London, Wembley Stadium, Masjid Pusat London, British Museum, dan ditutup
dengan makan malam di Restoran Kuba yang bernama Floridita. Sungguh malam
terakhir di kota London yang indah bersama kekasih baruku. Besok kami akan
meninggalkan kota yang menjadi bukti kisah cinta kami. Kembali ke Negara asal, Indonesia.
Setelah selesai makan malam
yang ditemani dengan iringan musik klasik, kami pun bergegas kembali ke hotel.
Kami sama-sama merasakan letih yang tiada tara. Namun itu semua mampu terobati
dengan canda tawa yang keluar dari mulut kami berdua. Malam ini kami harus
berkemas untuk keesokan harinya meninggalkan kota London. Ini adalah momen
tersedih dalam perjalananku. Aku tak kuat untuk mengucapkan “Good Bye” pada
kota indah ini. Aku tak dapat tidur dengan nyenyak, rasanya gelisah sekali.
Akhirnya aku memutuskan untuk duduk termenung memandang keindahan malam
terakhirku di London lewat jendela kamar.
*****
Pagi pun datang, aku
membangunkan Ami dengan menelponnya lalu mengajaknya sarapan. Selesai sarapan,
dia mengajakku untuk berbelanja sejenak sebelum ke Bandara. Kami membeli
beberapa souvenir khas London dan juga makan untuk dimakan di pesawar nanti.
Setelah selesai, menuju hotel untuk check-out lalu menuju
Bandara Internasional Hearthrow dengan menggunakan Taxi. Aku jadi
teringat ketika baru sampai London dan menaiki Taxi sendiri
menuju hotel. Namun kini, keadaan berbalik 180 derajat. Aku menaiki Taxi berdua
dengan kekasih baruku.
Akhirnya, kami sampai di
Bandara dan melakukan Boarding lalu menaiki pesawat yang akan
membawa kami menuju Dubai untuk transit. Sebelum naik, kami meminta tolong
seorang petugas bandara untuk mengabadikan momen terakhir kami, yakni di
Bandara Internasional Hearthrow. Air mata menetes mengalir dipipi Ami saat
menaiki pesawat. Dia tak kuat untuk berpisah dengan kota ini.
“London menyimpan banyak kenanganku, kenangan baruku
bersamamu. Aku tak sanggup untuk meninggalkannya”, ujarnya sambil menangis
dipelukanku.
“Memang benar, menyimpan kisah antara aku dan kamu dan
kota inilah yang mempertemukan aku dan kamu yang sekarang menjadi kita. Kamu
tak boleh sedih, karena aku berjanji akan membawamu kembali ke kota ini tepat
di tanggal 17 September 2014. Ya, tepat 1 tahun pertemuan kita.”, tegasku
padanya.
“Terima kasih, sayang. Aku juga berjanji padamu untuk
tetap menjaga hubungan kita.”, katanya sambil tersenyum.
Aku pun menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Pesawat sudah siap untuk
lepas landas meninggalkan London. Aku dan Ami hanya mampu mengucapkan salam
perpisahan melalui jendela pesawat. Berat hati kami untuk meninggalkan kota
ini, namun apa daya memang seharusnya kami meninggalkannya. Semoga Tuhan
memberikan kami kesehatan agar kami dapat datang kembali di kota kenangan,
London.
