Saat Tiba Waktunya



Memang, memang. Aku bukanlah orang yang pandai merangkai kata. Apalagi seperti pujangga yang pandai melukiskan keindahan ke dalam kata-kata. Yang kubisa hanya diam.

Tapi dalam diamku ini...

Kutanamkan benih-benih cinta di hati dengan kasih sayang. Dengan kesetiaan mencoba memekarkan kuncupnya. Dengan kesabaran kutunggu perkembangannya.

Mungkin aku bukanlah orang yang mengerti tentang liku-liku cinta dalam kehidupan. Bahkan mungkin tak mampu memahamimu. Aku pun tak mengerti kenapa aku begitu mencintaimu, seperti halnya aku tak mengerti mengapa jantung ini berdegup dengan sendirinya. Mungkin cintaku akan berakhir saat jantungku berhenti berdetak.

Dari itu semua, yang kubisa hanyalah mencintaimu sepenuhnya. Memberikan segala yang aku punya dan mencoba untuk mengertikan dirimu. Mencoba, mencoba dan terus mencoba. Walau mungkin kamu jenuh dengan berbagai tingkahku. 

Dan saat tiba waktunya...

Dengan kebijaksanaan, kupanen buah cintaku. Dengan keikhlasan, kuterima segala hasil. Kubersyukur pada Tuhan jika hasilnya baik. Dan tetap bersyukur pada Tuhan jika sebaliknya. Karena cinta sejati tidak mengenal penyesalan. Tidak mengenal kekecewaan. Dan tidak mengenal kesakitan. Karena cinta yang sesungguhnya akan bertahan sampai pada kematian.




"Perjuangkanlah cinta sejatimu 
selagi kamu masih bisa merasakannya, 
sebelum Tuhan mencabut nikmatmu atas cinta."
@feryardn