Perjuangan Cintanya


Kali ini aku ingin sekali menceritakan tentang sebuah kisah nyata mengenai kisah cinta dua insan, yang menurutku kisah ini begitu menginspirasi dan patut untuk aku share kepada kalian saudaraku yang aku cintai karena Allah, sebagai pengingat untuk kita semua dan tentunya untuk diriku sendiri.

Ia adalah seorang wanita yang memiliki paras cantik, fashionable, dan sikap yang sangat ramah, sebut saja namanya Bunga, ia jauh lebih tua 3 tahun dariku, maka aku memanggilnya dengan sebutan kakak, karena ia memang kakak kelasku di kampus, ia sedang mengambil kelas mata kuliah yang sama denganku, semenjak 2 semester ini. Ia sudah menikah, dan inilah mengapa beliau mengikuti kelasku karena ia pernah cuti hamil, pasca menikah.

Di pagi hari itu, adalah dimana aku berada di kelas yang sama dengannya, dan aku memang sekelompok dengannya untuk tugas akhir semester kami, kelompok baru diberikan seminggu yang lalu, dan baru kali ini kelompok kami berkumpul untuk mendengarkan penjelasan mengenai tugas kami. Aku duduk tepat di samping kanannya, ini pertama kalinya aku sekelompok dengannya dan duduk tepat berada di sampingnya, ia mulai mengajak ku ngobrol, dan mendiskusikan mengenai tugas kami, ketika kami memulai kuliah dan dosen memulai penjelasan, kami semua diam dan fokus pada penjelasan dari dosen kami, selesai perkuliahan kami tidak langsung pulang, melainkan masih melanjutkan diskusi mengenai tugas kami tersebut.

Di sela-sela diskusi, aku tiba-tiba dikejutkan oleh pertanyaan ka Bunga pada ku,

Ka Bunga : "Liv, umur lo berapa?" tanya ka Bunga padaku serius.

Aku : "Ha? umurku ka? umurku 19 tahun ka, kenapa ka?" jawabku kaget.

Ka Bunga : "Oh, 19 tahun, ko belum nikah?"

Aku : "Waduh, kakak nanyanya, hehe belum ka, do'akan saja lah ka.."

Ka Bunga : "Emangnya lo nggak berminat untuk nikah muda?"

Aku : "Wah, nggak gitu juga ka, minat ko, ya do'ain aja deh ka pokonya, hehe"

Ka Bunga : "Udah ada calon?"

Aku : "heh? hehe"

Ka Bunga : "Lo Ta'aruf ya?"

Aku : "iya ka, insyaa Allah.."

Pembicaraan berhenti sejenak, kemudian aku melanjutkan bertanya kepada ka Bunga.

Aku : "Kakak, nikahnya dari kapan?

Ka Bunga : "Gue nikah udah dari semester 1 liv.."
Aku : "Hah serius ka?"

Ka Bunga : "Ia serius, tapi baru cuti semester 3, itu cuti hamil."

Aku : "Oh gitu, gimana ka rasanya udah menikah?, ko kakak bisa menikah muda, gimana ceritanya?"

Ka Bunga : "Wah liv, macem-macem rasanya, oke gue kalo udah ngomongin masalah menikah, gue bakalan serius banget."

Aku : "Wah, ayuk deh ka.." Sambil menggeser bangku mendekati ka Bunga.

setelah itu kami mulai berbicara dengan serius, dan teman-teman yang lain pun ikut nimbrung untuk mendengarkan cerita ka Bunga.

Ka Bunga bercerita :
"Gue, itu dulu p*c**du a*k**ol dan n*a*rk**a cuma gue ga sampe parah banget. Trus, gue kenal sama suami gue yang sama-sama p*c**du juga sama kaya gue cuma dia lebih parah, kita kenal seminggu, dan suami gue langsung bilang mau nikah sama gue, dan gue waktu itu masih SMA dan belum boleh dapet restu menikah sama keluarga gue, terutama bokap gue, dan gue bilang itu ke suami gue 'kalau lo emang mau nikah sama gue, lo harus ketemu sama bokap gue, minta sama bokap gue kalo emang lo serius mau nikah sama gue!' dan ternyata suami gue dateng ke bokap gue, minta izinlah dia buat nikah sama gue, bokap gue nentang, dan sampe ngusir dia, ya, gue taulah bokap gue ga setuju kenapa dan wajar banget dia ga setuju karena ngeliat suami gue yang keadaannya kaya gitu. tapi akhirnya gue dan suami gue pun berusaha meyakinkan kedua orang tua gue supaya mereka mengizinkan suami gue menikahi gue , sampai pada akhirnya orang tua gue luluh juga, dan menikahlah gue dengan dia saat semester 1 kuliah.
Awal-awal masa pernikahan itu bukan masa-masa yang mudah, lika-liku, ujian, gue dan suami gue hadapin, saat itu gue dan suami gue harus sembuh dari a*k**ol dan n*a*rk**a dan suami gue yang harus di rehabilitasi, dan gue berusaha untuk selalu mendampingi dia dan mensupport dia dalam menghadapi masa-masa itu, sampai sembuhlah dia dan sampai sekarang. Makanya gue baru punya anak pas semester 3.
Dulu saat masa-masa sulit itu suami gue sempet nanya sama gue gimana kalo suatu hari nanti rumah tangga gue dan dia berantakan karena keadaan gue dan dia yang berantakan. Dan gue bilang ke suami gue 'sekarang kita jalanin aja rumah tangga kita ini, ga usah mikir kemungkinan-kemungkinan begitu. Kita ini udah berantakan, suatu hari kalau kita cerai seluruh dunia udah ga mandang aneh lagi, toh karena emang pasangan kaya kita ga aneh kalo kaya gitu. Tapi kalo kita bisa membangun rumah tangga kita dengan baik, kita bisa sukses dan bahagia, maka dunia bakalan tercengang kalo pasangan ancur kaya kita masih bisa mempertahankan rumah tangganya.' kenapa gue bilang gitu ke suami gue, karena gue berpikir bahwa menikah itu bukan sekedar keputusan, melainkan komitmen. Dan semenjak itu, itulah komitmen antara gue dan suami gue, dimana gue harus bisa mempertahankan rumah tangga gue dan suami gue."

Aku benar-benar tercengang dengan pernyataan itu, demi Allah mau menangis rasanya saat itu, cuma bisa berkata "aamiin.. semoga Allah mengabulkan harapanmu ka.."

Di sela itu salah seorang temanku bertanya kepadanya,
"Ka, suami lo kan ganteng, lo ga khawatir cewek-cewek ngerebut suami lo dari lo, secara gitu anak-anak kelas kita aja pada berharap punya suami yang mukanya kaya suami lo, hehe.."

Dan ka Bunga menjawab dengan tenang,
"Khawatir sih iya, tapi ga lebay banget juga.. Gue ga mau kaya di sinetron-sinetron, yang ketika suaminya direbut terus istrinya ngelabrak atau ngebinasain tuh cewek-cewek yang berusaha ngerebut suaminya, yang sekarang gue pikirin adalah gimana caranya gue bisa memperbaiki diri gue, sikap gue, penampilan gue, dan banyak hal dalam diri gue supaya suami gue ga lari dari gue, dan gue menjadi satu-satunya perempuan yang ada di hati suami gue."

Sontak, terkagum-kagum aku mendengarnya,
"Maasyaa Allah kakak.. keren bangeeet.." terharu.

ka Bunga melanjutkan cerita,
"Ada satu hal yang mesti kalian tahu, tentang hubungan intim suami istri, karena betapa beda rasanya ketika berhubungan badan dengan suami lo, hubungan itu terasa bukan dengan hawa nafsu.. itu beda banget, gue susah deskripsiinnya, yang jelas, yang lo rasa adalah rasa tulus dalam hubungan tersebut."

Aku menanggapi,
"Oh gitu ka, ya Allah banyak banget ilmu yang aku dapet ya dari cerita kakak, seneng banget bisa ngobrol sama kakak.."

Ka Bunga menjawab,
"Ya, gue juga seneng berbagi cerita dengan kalian, karena gue juga mau berbagi kebahagiaan bersama kalian.."

Setelah itu ka Bunga pamit pulang, begitu juga dengan kami, dan akhirnya berakhirlah pembicaraan kami dan bergegas pulang menuju kos-kosan masing-masing.

Sepanjang jalan, aku masih terkagum-kagum dengan pernyataan-pernyataan ka bunga sepanjang pembicaraan tadi, tak ku sangka, dulu ketika ia baru masuk ke kelasku dan kami tau bahwa ka Bunga sudah menikah, kami kira ia menikah karena MBA (Married By Accident) karena penampilan ka Bunga yang sangat gaul dan modis, seperti anak-anak gaul ibu kota yang tidak jarang tertimpa MBA. tapi ternyata tidak. Ia menempuh pernikahan dengan cara yang halal. Ada kisah nyata nan indah dibalik pembicaraan orang lain yang tak baik terhadapnya ketika itu, sungguh banyak sekali hikmah sangat membuat aku terkagum-kagum. yang membuat aku terkagum-kagum adalah ketulusan suami ka Bunga yang ingin menikahi ka Bunga, walau kondisinya saat itu suami ka Bunga masih kec**duan a*k**ol dan n*rk**a tetapi ia adalah sosok sangat gentleman, ia mengingankan berhubungan dengan ka Bunga secara sah/legal, yaitu dengan cara menikahi ka Bunga, "Gue ingin menikah agar tidak terjadi hal yang enggak-enggak.." dan ketika ka Bunga menyuruh sang suami meminta ka Bunga kepada ayah ka Bunga, ia pun bersungguh-sungguh untuk datang menemui ayah ka Bunga dan memohon restu, walau ayah ka Bunga ketika itu menolak dan bahkan mengusir suami ka Bunga, namun ia tidak pantang menyerah hingga akhirnya walau cukup lama ia berjuang, hati kedua orang tua ka Bunga pun luluh juga dan mengizinkan mereka berdua menikah. Selain itu aku kagum dengan kesungguhan ka Bunga sebagai seorang istri, yang benar-benar ada di saat suka duka sang suami, ketika suami sedang berada dalam masa-masa sulit, yaitu sedang dalam rehabilitas, ka Bunga selalu ada mendampingi suaminya, bahkan ia menjadi motivator untuk suaminya dengan pernyataan yang menjadi sebuah kekuatan besar untuk mempertahankan hidup dan rumah tangga mereka. Mereka yang berusaha bertahan dan membuktikan pada dunia bahwa mereka bisa membangun rumah tangga dengan baik dan bisa bahagia walau dengan keadaan yang buruk ketika itu. Aku juga melihat bahwa cinta yang dibangun dengan cara yang halal maka akan menjadi semurni-murninya cinta. ada pepatah mengatakan, "Tidak ada cinta jika tidak terjadi pernikahan karena pernikahan adalah pembuktian dari cinta itu sendiri. Setulus-tulusnya cinta adalah cinta yang terikat oleh pernikahan." Dan itu adalah pelajaran berharga untukku ketika aku berumah tangga nanti.

Selain itu aku belajar untuk memandang orang lain tidak hanya dari penampilannya saja, melainkan aku harus objektif dalam menilai. Aku tidak pernah menyangka orang seperti ka Bunga pikirannya sungguh sangat dewasa, sikapnya sangat bersahaja dalam meyikapi problema kehidupannya.

Banyak dan banyak hal yang aku dapatkan.. Semoga hikmah yang aku dapatkan bisa menuntunku untuk banyak-banyak mencari ilmu dan menerapkannya agar kelak aku bisa menjadi istri shalihah untuk suamiku tercinta, dan ibu yang baik untuk anak-anakku, buah hatiku terkasih, wanita sholihah sebaik-baik perhiasan dunia. aamiin..

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya untukku, ka Bunga dan suaminya, serta untuk kita semua. Baarakallaahu fiik..


*Kisah ini adalah kisah nyata, mohon maaf jika ada kesalahan dalam cerita karena penulis menceritakan sesuai dari informasi yang penulis dapat, dan jika ada kesalahan maka itu hanya karena kekhilafan penulis. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun. Semoga bermanfaat

Karya : Alivia Oktaviani
Tangerang, 14 November 2012/29 Dhul Hijja 1434H