Dear...


Dear …
Pagi semesta, suhu udara saat ini begitu terasa. Menyambangi sebuah kamar. Beberapa sinar terang memasuk paksa melalui jendela. Aku terbangun, ya, dengan sebuah hening pastinya. Ada yang berbeda. Kenapa suasana saat ini begitu sepi? Apa terlalu siang aku bangun? Tapi, ah tidak. Faktanya kicauan burung itu masih terdengar merdu ditelingaku. Selamat pagi.
Perjalanan pagi ini cukup tenang. Aku berjalan sendirian di setapak sepi ini. Sudah terbiasa, tanpa seseorang yang seharusnya menjadi sumber penyemangat. Aku tidak heran dengan suasana seperti ini, karna keseharianku memang inilah yang ku alami. Dalam dilema mengharap, dalam tundukanku merenung, dalam diamku berdoa, memang ada nama  seseorang yang ku sisipkan disebait doaku. Seorang yang selalu mencuri pandangnya terhadapku, seorang yang tak pernah henti membuat rinduku berontak, dan yang selalu membuat detak jantungku seperti lari jika aku bertemunya. Apa pagi ini akan sama seperti pagi-pagi sebelumnya? Pagi dimana aku meletakkan harap pada seseorang yang sebenarnya belum tentu mengetahui rasaku. Dasar bodoh! Kenapa kau lagi-lagi memikirkannya? Apa tak ada waktu lain untuk memikirkan hal bodoh ini. Tolong, jangan rusak pagiku, Tuan.
“Atalia..! Taliaaaa!”
Seperti suara yang ku kenal. Siapa? Aku menoleh dengan santai.
“Tal, tugas yang minggu kemarin lo ceritain ke gue udah selesai?” Tanya Bara.
Ya, Bara. Mungkin aku belum mengenalkannya. Ialah sesosok arjuna yang menjadi kedambaan selama ini. Aku hanya mampu menatapnya dalam hening, tak lain tak bukan memang karna selalu terpesona dengan sosoknya. Sosoknya yang selalu membuatku bergumam rindu dan berdecak kagum. Oh Baraaa…,
“Tal, masih ngantuk yah? Ditanya kok diem?” Bara mulai sewot.
“Eh iya Bar, maaf. Masih pusing baru bangun tidur.” Aku kebingungan.
“Ah elomah, tumben gak naik sepeda. Bareng gue yuk?”
Bara menggenggam tanganku, tanpa meminta persetujuan ia sering melakukan itu. Tapi aku tak pernah marah. Aku bahkan tak melepas genggamannya seperti jika laki-laki lain yang melakukan itu. Genggaman Bara berbeda, entah genggamannya atau Baranya lah yang berbeda.
                                                                             ****
Bel istirahat mengagetkanku. Astaga! Jadi sejak tadi aku ketiduran? Memang begini jika tidak ada guru dikelas. Dimana teman-teman lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan pilihan terbaik disaat-saat seperti itu ya, hanya tidur.
“Tal, lo gak makan? Apa gak punya duit? Kantin yuk…” Bara tiba-tiba mengagetkanku.
“Apa banget sih lu? Dateng-dateng rusuh. Sono ngantin sendiri!” aku menyulutnya dengan masa bodohku.
“Yaudaaah, galaunya lanjutin dah tuh…” Bara menyindir sambil berjalan keluar dari kelasku.
Oh Tuhan, seharusnya aku mencegah dia. Membiarkan ia tetap berada disini, duduk tepat dihadapanku, dan mendengarkan semua isi perasaan yang meluap untuknya. Lagi-lagi aku bertindak bodoh, tak mengenal lelah aku memendamnya. Memendam sesuatu yang seharusnya ku beritahukan kepada yang bersangkutan. Talia sungguh tolol.
                                                                                    ****

Dear diary …
Pemilik rasa rindu, apa kabar dengan ketidak pedulianmu? Kau tak tahu, atau hanya berpura-pura tidak tahu? Aku lelah dengan segala tanya disela harapku. Kamu selalu sibuk melirik kuntum yang cantik, tapi mawar yang harum dihadapanmu tak pernah kau lihat. Aku, entah sampai kapan aku kuat dengan sebuah tumpuan dalam mencintaimu. Kau tak henti-hentinya menorehkan luka dalam segenap keseharianku. Tuan, apa kau masih tak sadar jika benciku adalah usaha dalam menutupi cinta nan menggebu? Jika cuekku adalah cara untuk mengubur hasrat perhatianku padamu. Kamu tak akan pernah sadar, karna kamu memang bukan perasa. Oh Tuhan, tolong kuatkan aku dalam memperjuangkannya. Berikan aku kepercayaan untuk dapat memilikinya, walau suatu saat. Dengan berjuta lelah disetiap rindu. Kuatkan aku, Tuhan. Kumohon, kuatkan hatiku.

Handphoneku tiba-tiba berdering, dan dilayar tercantum sebuah nama yang ku kenal. Dimas Albara. Ada apa dengan dia?
“Iya, halo, Bar?” sapaku hangat.
“Aduh, Tal… Daritadi gue kan ngechat elo diline, pasti gak diread deh! Malesin lo. Lagi ngapain sih? Curhat dibuku diary lo pake tinta merah? Gak aus apa, non? Padahal gue udah duduk bengong di kafe daritadi cuma buat nungguin lo, gue mau curhat penting dan banyak banget, Taaal…..”
Tut tututututtt …. Aku tak sempat mendengarkan celoteh dari Bara yang bawel itu, jika sudah bicara tak cukup waktu sebulan untuk menanggapinya. Membosankan.
                                                                                   ****
“Mau curhat apa? Sorry yah lama..” kataku.
“Gue mau curhat soal Alika, dia deket-deket cowo lain, Tal. Di twitterpun dia keliatan mesra banget sama beberapa cowo, tanpa ngerti perasaan gue sedikitpun. Gue cape, Tal.. Dia sama sekali gak pengertian!” keluh Bara.
Aku hanya menghela nafas, sesak rasanya telah berjuang sendiri. Tapi orang yang diperjuangkan justru memilih orang lain. Aku hanya memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Tak seperti biasanya, Bara terlihat amat murung. Sepanjang ia bercerita hanya menunduk, Bara betul-betul lelah dengan keadaan. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, untuk bilang ‘lupakan dia’? Aku tak mampu kejam dengan memberikan saran macam itu, aku tahu wanita yang selalu menjadi tujuan dihidup Bara adalah Alika. Maka tak mungkin aku patahkan semangatnya dengan memberi nasihat seperti itu.
“Sabar yah, Bar, kalo Alika jodoh lo pasti bakal jadi milik lo seutuhnya kok.”
“Tapi, Tal.. Kalo ngomong soal jodoh, gue jadi nyadar sendiri. Gue dan Alika gak mungkin berjodoh. Kita beda agama, dan lo bisa liat sikap Alika yang suka gunta-ganti pasangan. Gue gak mau jodoh gue kelak justru bukan perempuan yang seiman dan bukan perempuan baik-baik.”
“Terus mau lo apa, bodoh? Ninggalin gak mau, berjodoh juga gak mau. Yang tolol itu siapa sih?” selaku dengan sedikit emosi.
Bara menunduk, bahkan tundukannya semakin dalam. Ia seperti menyembunyikan tangis. Aku sangat mengenal Bara, ia adalah sosok laki-laki yang sangat setia. Tak mudah jatuh hati pada wanita sembarangan. Dan jika sudah cinta, Bara tak mudah untuk melepaskan cintanya. Dalam keadaan apapun. Aku jadi menyesal telah mengucap kata-kata macam itu. Akupun tak berani berkata apa-apa lagi, sudah ku pahami dukanya Bara. Aku hanya akan berusaha menenangkannya, dan menghibur laranya. Semoga ia lekas sembuh dari penyakit cintanya.
“Bara, ke timezone yuk? Udah lama nih gak ayoo..” setengah membujuk Bara.
“Gak mood ah, Tal.”
“Gue jadi moodbooster lo deh…”
Tanpa mendengar komentarnya, aku menarik tangan Bara dengan paksa. Tak peduli dengan sanggahannya. Sampai saat ini aku belum bisa berjalan beriringan dengannya, menjadi yang selalu diutamakan olehnya, dan dijadikan akhir dari tujuan hidupnya. Tapi aku akan berusaha, berusaha untuk menjadi matahari yang terang. Menerangi tiap gelapnya, mengobati tiap lukanya, dan menghapus tiap dukanya. Bara, kamu selalu menjadi yang nomor satu dihari-hariku. Walau kamu tak melakukan hal yang sama.
                                                                                 ****
Dear diary …
Malam, pengisi jiwa dan raga. Apa yang sedang kau lakukan dengan perempuan hayalanmu? Masihkah ia yang kau jadikan cinta matimu? Apa tak kau sadari sinar rembulan disini mulai redup karna kau abaikan rasanya? Tidak menjadi masalah kau lanjutkan cinta yang kau dambakan, asal cinta tersebut tidak melukai atau menyakitimu. Kamu tak tahu, betapa hancurnya aku jika melihatmu menunduk lelah karna merasakan abaian cinta. Padahal, kejadian yang sama selalu ku alami setiap harinya. Aku merasakannya sendirian, memeluk erat sakitnya pun sendirian. Sebegini sakitnya kah, mencintai namun tak terbalas? Aku berusaha kuat, berusaha tegar dihadapan siapapun. Ku tutupi rasa sakit dan pemberontakan yang ku alami karna rindu. Aku pandai bermain drama, bukan? Selama ini berpura-pura mengikhlaskanmu mencintai perempuan lain, perempuan yang samasekali tidak pantas memiliki cintamu. Berpura-pura memberimu saran untuk bertahan, padahal akulah yang sedang mati-matian berjuang untuk bertahan. Lelah ku menjelaskan dalam diam, namun kau abaikan dengan senyum simpulku yang seolah merelakan. Tak apa, asal kau bahagia, maka ku terima segala resiko dalam mencintaimu. Berani mencintaimu, berarti berani melihatmu bahagia, walau bukan bersamaku. Selamat mendamba keabu-abuan, tak perlu takut. Seberapa lamapun kau mencintainya, aku akan tetap menunggumu menyambut cintaku.


Hem, ku tutup malam lelahku. Malam ini berakhir dengan cukup menyenangkan, aku mengabiskan waktuku bersama Bara. Ia banyak meluapkan sakitnya dengan bermain bersamaku. Setidaknya aku lega, karna selalu ada disaat ia membutuhkanku.
Sender: Dimas Albara
“Udah tidur, sek? Anak baik-baik sih, jam segini aja udah tidur. Thank’z for today, yah? Kalo gak ada lo, tau deh gue bakal segalau apa…”
Bara mengirim message, jemariku bergetar untuk membalasnya. Ku hempaskan handphone di kasur, aku tak ingin berbincang dengannya di malam ini. Hanya mampu memeluknya melalui doa dari kejauhan, agar ia tak merasa kesepian dikala hening menyapanya. Tuhan, kutitip Tuan pemilik hatiku. Jangan buat Ia sedih karna dukanya. Ingatkan Ia padaku jika Ia sedang berduka, niscaya Ia akan bahagia. Malam, kegelapan.
                                                                                        ****
Aneh, kenapa kelas sepi? Dimana rimbanya anak-anak yang biasa meramaikan suasana kelas? Apa mereka belum datang? Ku kira, akulah yang datang paling terlambat, karna aku memang selalu datang telat. Telat untuk memiliki hatinya Bara, juga. Aduh, masih pagi isi relungku sudah tentang Bara. Gimana bisa move on? Tapi, ah buat apa juga move on! Toh dengan mencintai Bara dapat membuatku merasa bahagia, ya bahagia. Walau tak memilikinya.
“Tal, lo gak mau liat si Bara ribut ama Reza? Lagi panas-panasnya nih,” tiba-tiba Nia datang dengan nafas yang terengah-engah.
“Hah? Ribut ama Reza? Ribut kenapa sih mereka, udah gede juga!” aku bicara sambil meninggalkan Nia.
Apa yang terjadi dengan Bara? Setau ku, Reza memang laki-laki yang dekat dengan Alika. Bisa dibilang laki-laki yang cuma dipermainkan hatinya dan senasib dengan Bara, lalu kenapa mereka bertengkar? Bukankah seharusnya mereka bersatu untuk menghancurkan perempuan jalang macam Alika? Terlalu istimewa jika mereka ribut hanya karna memperjuangkan perempuan yang tak pantas samasekali untuk diperjuangkan. Dasar para lelaki bodoh!
“Heh, ada apa sih ini? Itu si Bara sama Reza lagi ngapain?” rusuhku ketika melihat Reza dan Bara sedang bermain basket secara kasar di lapangan.
“Lo liat sendiri deh, Tal! Dua cowo itu lagi duel, duel buat ngerebutin Alika.” Jawab Aninda setengah berbisik.
Dan di kejauhan, aku melihat sosok perempuan laknat. Yang sedang bangganya memamerkan kedua cowo yang bertengkar hanya karna memperebutkannya, sungguh sikap yang menjijikan! Siapa lagi kalau bukan, Alika.
“Kelamaan lo berdua duelnya, keburu gue aus ngeliat tingkah lo-lo pada. Gece ahh!” gerutu Alika.
“Bangga lo yah? Hah, bangga lo?! Perempuan gak punya harga diri, dasar! Laki-laki mana aja mau lo ambil hatinya, setelah itu lo buang persis kaya sampah. Inget karma woy! Suatu saat muka mulus lo bakal berubah ngebusuk, kalo sikap lo masih kaya gini.” Aku bicara sambil menjambaknya, aku tak mengampuninya sama sekali. Sikapnya sudah tidak pantas untuk dihargai.
“Lepas gak, tangan lo? Sakit tau! Lepasin gak?” Alika merengek kesakitan dan aku melepas jambakanku.
“Kenapa lo, mbak? Cemburu yah, ngeliat Bara memperjuangkan gue mati-matian? Aduh, Ataliaa yang cantik.. Sadar diri dong, untuk ada dihatinya aja lo gak pantes, apalagi sampe diperjuangin kaya gue? Haha, susah sih kalo jadi cewe gak ngaca. Udah sih, berenti aja ngejar-ngejar Bara, lo tuh gak akan pantes buat jadi gandengannya Bara. Pantesnya yaa, jadi jongosnya Bara! Tuh baru pantes, haha..” Alika mengoceh dengan bangganya didepan banyak orang.
Aku tak mampu berkata apa-apa, hanya menatap matanya dengan mata yang berkaca-kaca. Alika sungguh kejam, Ia tega mengatakan hal itu dihadapan banyak orang. Aku sungguh malu, kenapa sesakit ini memendam perasaan? Aku berusaha untuk tak menghiraukan setiap kalimat yang keluar dari mulut kotornya, tak pantas pula untuk didengarkan. Lebih baik sekarang adalah menghentikan Bara dan Reza, tidak seharusnya mereka melakukan hal yang merugikan seperti ini.
“Stooop, stoooop, stooooop!! Bara, Reza stooooooppp!!!” aku memberhentikan mereka dan berdiri ditengah lapangan. Reza dan Bara berhenti memainkan basket, mereka saling menatap. Keringatnya betul-betul bercucuran, hanya untuk membuktikan keseriusannya kepada perempuan disudut sana; Alika.
“Sebegini bodohnya kah, kalian berdua? Terlalu mencintai perempuan yang tak pantas untuk dicintai. Lihat perempuan yang kalian perjuangkan itu, Ia tidak samasekali iba melihat kalian beradu di tengah lapangan saat terik-teriknya. Ia justru tertawa bahagia melihat kalian berjuang mati-matian, tak terlihat pula niatnya untuk menyudahi keributan kalian berdua. Dia justru bangga melihat kalian bertengkar, terluka hati dan fisik. Mau sampai kapan kalian seperti ini? Jawab!! Kenapa kalian hanya diam, lelaki tolol.” Bentakku yang membuat seisi lapangan tercengang.
Aku menarik lengan Bara, membawanya ke sudut koridor. Mengusap keringatnya yang bertubi-tubi berjatuhan, Bara terlihat pasrah. Ia pasti kelelahan, akupun hanya menyembunyikan isak tangis yang seharusnya meledak. Sekacau inikah pagiku yang seharusnya bahagia? Hanya dengan menghabiskan energi untuk bertengkar dengan Alika, lalu menyerakkan suara dengan berteriak untuk menasehati Bara dan Reza. Pagi yang sangat ku benci, Barapun hanya diam. Karna memang aku tak butuh penjelasannya, dimata Bara aku bukanlah siapa-siapa. Jadi tak berpengaruh untuknya, melihatku berjuang sekeras ini. Jika ditanyakan seberapa butir lelahku karna mencintai Bara, pasti akan kubawa ribuan pasir dipantai untuk mengimbangkannya. Hanya dapat ku ucapkan ‘Selamat pagi’ melalui sikap kecewaku padanya, kecewa karna Bara yang setiap harinya terus mencintai perempuan yang salah. Semoga kau bahagia, dengan kebodohan yang kau pilih.
                                                                                            ****
Dear diary …
Tuhan, aku ingin bercerita padamu. Jangan beritahukan ini pada siapapun. Aku ingin, hanya aku dan Engkau yang tahu.
Tuhan, kata-Mu tulang rusuk dan pemiliknya tak akan pernah tertukar. Kata-Mu, sebuah kesabaran akan dibalas beribu kebahagiaan dihari kemudian. Kata-Mu, telah Kau siapkan pasangan terbaik untuk orang yang baik pula. Lalu kenapa aku belum merasakan hal itu? Apa memang Alikalah pemilik tulang rusuk Bara, atau Alika yang banyak bersabar dalam mencintai Bara, mungkin Alika memang pasangan yang terbaik untuk orang sebaik Bara. Benarkah, Tuhan? Jujur aku kelelahan menghadapi hal ini, tapi aku belum siap untuk meninggalkan dan kehilangan Bara. Bukan aku mendikte-Mu, tapi tolong berikan aku jawaban atas sebuah penantian. Agar waktuku tak habis sia-sia, agar cintaku tak pupus terpaksa. Lagi-lagi ku memohon, tolong kuatkan aku dalam mencintainya. Karna sampai matipun akan tetap memendamnya, aku tak akan pernah berani untuk mengungkapkan padanya. Aku wanita, dan akupun tak akan punya keberanian untuk memulainya. Sekali lagi, tolong kuatkan hatiku, Tuhan.

Suasana perpustakaan siang ini sangat sepi, memang semua anak sudah pulang. Namun, tidak semua. Masih ada satu siswi yang setia duduk menikmatinya; sepi. Di ruangan dingin yang memang sudah terbiasa tanpa suara. Ruangan ini selalu menjadi tempat yang diidam-idamkan siswi tersebut. Entah kenapa, Ia sangat menyukai kesepian. Suasana sepi memang sudah menjadi sahabat terbaiknya sejak si cinta bertepuk sebelah tangan, dengan kata lain ya, tak terbalaskan. Kegiatannya yang sangat digemari adalah menulis diary dengan menggunakan tinta merah, menurutnya hal itu adalah bentuk luapan sebuah duka yang sudah tak kuat Ia pendam. Miris bukan? Tak pernah bercerita pada siapapun, tentang perasaannya. Kecuali kepada Tuhan dan buku diarynya. Sangat tegarkah siswi tersebut? Atau memang, Ia terlahirkan hanya untuk memendam sesuatu yang membara dan tak dapat digambarkan? Menyedihkan, sungguh menyedihkan orang-orang seperti itu. Dengan bodohnya Ia memendam perasaan, Ia bertahan. Kuat sekali bahkan, setiap senyumnya seolah kebohongan. Bagaimana tidak, Ia mampu menutupi dukanya dihadapan orang banyak. Tak semua wanita seperti dia, dan mungkin memang hanya dialah wanita bodoh yang begitu kuat mempertahankan keyakinan rasanya untuk tetap mencintai orang yang tak pernah peduli dengan keadaannya. Entah sampai kapan, mungkin hingga matahari terbenam tanpa meninggalkan senja. Dan yang jelas, Ia hanya akan bahagia bila yang tersayang merasa bahagia. Simple sekali keinginannya, bermain-main dengan rasa pedih sudah biasa. Tapi cantik, Tuhan tidak tidur. Ia maha melihat dan maha mengetahui. Mungkin hari ini kau belum dapat memilikinya, tapi suatu saat? Bisa saja Ia dapat kau genggam dan menjadi milikmu seutuhnya. Ya, tidak ada yang tahu rencana Tuhan.
“Tal, balik bareng gue yuk? Taliaa, eh Taliaa!!” Bara tiba-tiba datang memecah lamunanku.
“Hah, eh iya.. Dih, Bara, lo belom pulang? Ngapain lo masih disini?” aku gelagapan.
“Mestinya gue yang nanya, lo ngapain masih disini? Bengong yah? Tuh buku diary pasti abis diisi, gue liat isinya dong. Seumur-umur gue sahabatan ama lo, lo gak pernah ngasih liat isi diary lo itu. Kenapa sih? Banyak banget apa rahasianya?”
“Sejak kapan lo jadi kepo, Bar? Mbo` yah terserah gue, apa kek isinya. Itu bukan urusan lo! Ayo pulang.” Aku melewehinya, menarik tangannya untuk keluar dari perpustakaan. Bara hanya terbengong, wajahnya saat itu begitu lucu.
                                                                                      ****
“Makasih tumpangannya yah, Bara?” aku turun dari motornya yang sudah berada tepat didepan rumahku.
“Makasihnya, gak ngasih apa-apa nih?” ledek Bara.
“Emang lo mau apaan?”
“Cium kek, apa kek. Sesuka yang ngasih aja, gue mah..” Bara menatapku dengan lekat.
“Gue siram mau, Bar?” seraya aku bertanya, Bara hanya memberi respon cuek dan berlalu begitu saja.
Setiap harinya begini, aku pulang dan pergi diantar Bara. Ia tak pernah merasa lelah walau harus menjadi supirku setiap harinya. Saat-saat seperti inilah yang membuatku sulit lupa bahwa aku sedang mencintai Bara. Aku terlalu dekat dengannya, kedekatan ini yang membuatku merasa hangat. Setiap berada disamping Bara, hanya kenyamananlah yang kurasakan. Seolah aku ingin lebih lama berdua dengannya, menatap matanya, digoda olehnya, oooh Bara.. Andai kamu tahu yang sesungguhnya, aku lelah bersikap stay cool dihadapanmu. Aku ingin bermanja, layaknya seorang wanita normal yang butuh diperhatikan. Itulah aku yang sesungguhnya. Tapi kamu mana mau tahu, mana peduli, mana mungkin mengerti. Jika aku hanya ingin memiliki.  Ah, sudahlah! Aku cape bergumam sendiri.
“Talia pulang, Maa…” teriakku seraya membuka pintu.
“Iya sayang, pulang diantar siapa? Bara yah, kok gak disuruh masuk sih, Baranya?”
“Ih, ngapain banget orang kaya begitu diajak mampir, maa.. Malesin aja!” jawabku sambil mencium pipi mama dan masuk kamar.
Siang ini amat panas, melelahkan. Tidur adalah teman terbaik untuk saat-saat seperti ini. Tapi, tiba-tiba handphoneku bordering. Siapa lagi yang berani mengganggu siangku? Lagi-lagi nama Bara tercantum disana.
“Apaan sih, Bar? Hari gini nelpon..” keluhku.
“Gue kecelakaan, Tal.. Segerombolan ngehadang gue dijalan, gue dipukulin, muka gue bonyok dihajar abis-abisan.”
“Hah, ya Tuhaan! Posisi lo dimana sekarang, cepet bilang..”
“Di Jalan Dolar, di perempatan yang hampir deket sama komplek gue!” telpon kumatikan, mengambil jaket dan segera keluar rumah.
“Talia mau kemana lagi sih, kan baru sampe kok udah mau pergi lagi?” Mama bertanya dan aku tak sempat berpamitan.
“Talia pergi cuma sebentar maa, tadi dapet telpon penting..”
Di siang yang mestinya ku gunakan untuk menghempaskan tubuh di kasur, justru malah ku habiskan dengan berlari-larian mencari taksi. Aku begitu khawatir, takut sesuatu yang parah terjadi pada Bara. Tuhan, tolonglah dia. Dan bantu aku yang sedang berusaha memperjuankannya.
“Baraaa, yah ampun Baraa.. Tolong, tolooong!!” aku begitu syok ketika melihat Bara tergeletak di pinggir jalan
Bara saat itu sudah tidak sadarkan diri,  banyak orang yang iba melihatku berteriak-teriak. Bara dibopong banyak orang menuju taksi tadi yang mengantarkanku ke tempat ini. Terlalu khawatir, aku memaksa supir taksi untuk cepat-cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Keringatku bercucuran, tapi aku tidak peduli! Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Bara, semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya.
Sesampainya di rumah sakit, aku mengambil langkah seribu untuk mengambil bed trolly. Memohon kepada suster agar iba dan mau  membawa Bara ke ruang UGD secepatnya, Bara dimasukkan ke ruang UGD dan aku ditahan suster agar tak turut serta masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Maaf mbak, lebih baik mbak tunggu disini. Biar kami menangani masnya terlebih dahulu.” Ujar seorang suster.
Dengan begitu cemas, aku duduk memeluk lututku di koridor Rumah Sakit. Aku begitu takut, takut akan terjadi sesuatu hal buruk terhadap Bara. Bara adalah laki-laki yang begitu kucintai, aku tak akan sanggup kehilangannya. Tak terasa air mata mengalir di seluas pipiku, begitu deras. Aku hanya menunduk dan mencium lututku, terlalu mengkhawatirkannya. Belum tentu orang yang dicintai Bara melakukan hal yang sama, aku tak sanggup menghadapi masa-masa seperti ini. Ini sungguh-sungguh seperti mimpi buruk. Tuhan, lagi-lagiku meminta.. Tolong kuatkan hatiku dalam mencintainya..
“Taliaa, Bara gak kenapa-napa, kan? Gak terjadi apa-apa sama Bara kan, nak Talia?” Ibu Bara datang, tak kalah khawatirnya dibanding aku.
“Taliaa juga belum tau, Bu.. Tadi sih, lagi ditanganin dokter. Tunggu disini aja, kita berdoa sama-sama biar gak terjadi apa-apa sama Bara..” ujarku seraya menghapus air mata.
Ibu Bara memelukku begitu erat, air matanya pun mulai mengalir dan membasahi punggungku. Aku yang hanya sekadar temannya saja sangat khawatir pada Bara, apalagi Ibunya? Bisa ku rasakan seberapa besar rasa khawatir yang ada dipikiran Ibu Bara, karna aku dan beliau adalah seorang wanita yang sama-sama menyayangi Bara teramat-sangat.
“Keluarga Dimas Albara,” aku dan Ibu Bara segera beranjak dari tempat duduk, ketika dokter memanggil.
“Iya, Dok, saya Ibunya..” jawab Bu Laras.
“Bara sudah melewati masa-masa kritisnya, Bu. Ia hanya mengalami luka-luka ringan, Barapun sudah sadar dan sudah diperbolehkan untuk pulang.” Ujar Dokter.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak yah, dokter..” Bu Laras memasuki kamar Bara.
“Iya, Ibu, sama-sama.” Dokterpun meninggalkan kami.
Aku hanya menunggu dari luar kamar Bara, rasanya sangat lega mendengar kabar baik ini. Doaku diijabah Tuhan, tidak terjadi hal buruk pada Bara. Terlihat dari luar melalui pintu berkaca, Bu Laras memeluk Bara begitu erat. Beliau meminta Bara menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi, aku ingin masuk kamar Bara tapi tiba-tiba saja handphoneku dering. Mama telepon.
“Iya, halo, Ma?”
“Talia, emang bener si Bara kecelakaan? Kok kamu gak bilang sama Mama sih?”
“Lho, Mama tau darimana kalau Bara kecelakaan?”
“Tadi Bu Laras yang kasih tau Mama, kamu tuh yah.. Kalau ada apa-apa gak mau bilang, suka banget sih mendem sesuatu. Kalau hal penting begini, Mama dikasih tau dong!”
“Maaf, Ma, tadi aku buru-buru banget. Boro-boro sempet ngasih tau Mama, maaf yah?”
“Yaudah, sekarang kamu masih di Rumah Sakit? Mama kesana yah?”
“Gak perlu, Ma, gak usah.. Bara aja udah mau dibawa pulang, mending kalau Mama mau jenguk langsung ke rumahnya Bara aja yah? Ini juga aku sama Bu Laras udah mau bawa pulang Bara kok. Daaa Mama, sampai ketemu di rumahnya Bara..” aku menutup telpon Mama.
                                                                                ****
Sesampainya di rumah Bara, aku langsung menuntunnya ke kamar untuk beristirahat. Bara hanya dua bersaudara, dan Ia anak bungsunya. Kakanya sudah kuliah. Terkadang aku iri dengan keluarga Bara yang masih lengkap, sangat berbeda dengan keadaan keluargaku yang sudah broken home.
“Non, makasih yah tadi udah nolongin gue..” ujar Bara sambil meledekku.
Aku hanya tersenyum, merapikan selimut Bara, dan sejujurnya saat itu aku sangat salah tingkah. Bara terlihat terus memandangku, aku semakin malu dan menyembunyikan senyumku dengan menunduk. Bara memang rese! Ia justru semakin memandangku dengan lekat.
“Weh de, kejadiannya gimana sih? Kok bisa sampe kaya gini? Kenapa lu gak ngelawan?” Bang Ryan tiba-tiba memasuki kamar Bara tanpa permisi.
“Haduh, jangan bahas ini dulu napa, Bang.. Gue aja gak tau mereka itu siapa, tiba-tiba mereka datang dan mukulin gue rame-rame! Pengecut banget, kan?”
“Yah ampun, kok lo bisa gak tau siapa yang mukulin lo, Bar? Emang mukanya gak keliatan?” aku ikut nimbrung percakapan mereka berdua.
“Kalo gue tau mah, udah gue laporin polisi, Tal…” keluh Bara sambil menghela nafas.
“Pengecut banget dah tuh orang, tapi kita bisa kok minta polisi buat nyelidikin. Dan gue rasa, itu ulah temen lu sendiri yang punya dendam pribadi sama lu, de..” ujar Bang Ryan.
“Engga, Bang.. Engga, kalo menurut gue kita gak usah lapor dulu ama pihak kepolisian. Ini bisa ngebahayain keselamatan gue sendiri, bisa aja salah satu dari mereka ketangkep, minta tolong sama temennya buat ngehabisin gue, ya kan?”
“Bener juga tuh, malah bisa ngebahayain diri lo sendiri, Bar! Gue saranin, kita calm aja dulu. Pasti pelakunya gak jauh-jauh dari temen kita sendiri..” aku turut mengambil kesimpulan.
Tiba-tiba Mamaku datang dan ikut meramaikan suasana tegang kita, keluargaku memang cukup dekat dengan keluarga Bara. Dari kecil aku dan Bara memang sudah sangat dekat, kami dibesarkan bersama. Ayah Bara menganggapku sebagai anak perempuannya, sejak Papaku pergi meninggalkan Mama. Dan kebetulan Bara tidak memiliki saudara perempuan, jadilah aku dianggap sebagai saudaranya. Ya, hanya sebatas saudara. Barapun hanya menganggapku sebatas itu, memang akunya saja yang selalu berharap lebih. Tapi sepertinya untuk saat ini memang lebih pantas aku dan Bara hanya bersahabat dan bersaudara. Berdoa sampai tangan Tuhanlah yang mempersatukan kami. Suatu saat nanti.
                                                                                        ****
Dear diary …
Sesuatu menggelintir dihatiku, mendebu seperti pasiran yang terletak di sejajar pantai, membatu bagai karang di lautan. Setiap hembusan nafasku terasa sesak, sesak menanti sebuah kepastian. Kepastian dari Tuhan tentang kisah dan jalan alur cintaku, kenapa begini? Lagi-lagi aku sulit memahami getaran yang ada dihatiku, getaran yang begitu kencang. Sehingga membuat detakku tak beraturan.
Sulit ku gambarkan, bagaimana rasanya jatuh hati. Sejak umurku beranjak remaja, sebuah rasa tak wajar menghampiri kebersamaanku dengan laki-laki yang sangat ku kenal. Akrab tersapa dalam keseharianku. Ribuan kalimat cinta, ku lantunkan didalam hati. Namun tak pernah sedikitpun ada hasrat berani untuk berkata jujur. Berujar tentang perasaanku padanya, atau hanya sekadar memberikan kode untuknya. Aku begitu ragu, ragu dalam mengungkapkan hal ini. Aku takut, ketika aku luapkan semua isi hatiku, Ia justru marah dan benci padaku. Benci pada rasa cintaku yang lancang memilihnya. Memang, aku tahu aku sangat tak pantas untuknya. Tak akan pernah pantas bersanding dengannya, tak akan pantas berjalan seiringan disampingnya, apalagi sampai memiliki hatinya. Itu tak akan pernah terjadi dihidupku.
Tapi Tuhan, apa salah jika aku berharap; Ialah yang menjadi tujuan hidupku? Apa salah jika aku berharap separuh tulang rusuknya, ada pada tubuhku? Atau memang aku selalu salah, dalam hal mencintainya? Aku benci, ketika banyak mata lawan jenis yang menatap ketampanannya. Aku tidak suka ada yang mendekatinya. Aku ingin, hanya akulah yang ada dikesehariannya. Tapi, aku tak pantas Tuhan.. Aku sungguh-sungguh tak pantas! Ia begitu sempurna, jika memang sempurna hanya milik-Mu.. Ku anggap dia adalah satu-satunya makhluk yang kau ciptakan dengan kelebihan yang disebut sempurna.
Tak henti-hentinya aku meminta, meminta dalam sajak.. Sebuah sajak yang mungkin sudah bosan untuk Kau pahami. Tapi tak apa, Engkau tempatku mengadu satu-satunya. Aku hanya memiliki-Mu, Tuhan. Rasa cintaku padanya tak akan pernah melebihi rasa cintaku untuk-Mu. Ku mohon kuatkan aku, kuatkan hatiku dalam mencintainya..

Hoouh, lelahnya hari ini. Tak ada waktu istirahat sedikitpun, dibenakku masih terlintas Bara. Masih tentang Bara, aneh memang. Ia tak pernah berhenti menjadi isi dalam kepalaku.
“Talia sayang, kamu udah bobo?” Mama tiba-tiba mengetuk pintu kamarku.
“Mama, belum maa.. Aku masih belum ngantuk”
“Sayang, mama mau tanya sesuatu boleh?”
“Bolehlah maa, emang mama mau tanya apa?”
“Mama mau ngomong sama kamu soal Aryan, kakanya Bara..”
“Oh, Ka Ryan.. Kenapa sama Ka Ryan, Maa?” aku kebingungan.
“Tadi Mama, Bu Laras, dan Pak Taruli udah bicarain hal ini. Aryan itukan sekarang udah kuliah, dikit lagi sarjana. Tapi sampai saat ini, dia belum keliatan punya pacar. Kamu tau kan, kalau keluarga kita dan keluarga Pak Taruli itu sangat dekat. Mama selaku satu-satunya orang tua kamu, yaa ambil keputusan untuk menjodohkan kamu dengan Aryan, kakanya Bara..”
Aku terpekik, sungguh bagai ada petir besar yang menyambar pada hatiku. Tak mampu berkata apa-apa, hanya tercengang dengan ucapan Mama tadi. Mataku berkaca, tapi aku tak mau tunjukan ini pada Mama. Hanya memeluk erat bantal beserta diaryku. Aku benci, namun tak dapat berontak!
“Talia kok diem aja? Kamu setuju kan dengan pilihan, Mama?”
Tak ingin terlihat berontak, aku berusaha menutupi tangis dengan senyum. Menatap mata Mama dengan amat lekat.
“Maa, Bang Ryan itu udah dewasa. Aku juga udah dewasa, biarin aku sama dia milih jalan yang terbaik sendiri yah, Maa? Belum tentu Ka Ryan setuju dan mau dijidohin sama aku, tau sendiri.. Ka Ryan itu gantengnya badai, Maa.. Lah aku? Ampun deh, gak ada apa-apanya.”
“Talia, tapi kayanya Ryan setuju-setuju aja dijodohin sama kamu. Dia menganggap pilihan orang tuanya adalah pilihan yang terbaik, kamu tenang aja.. Kamu gak kalah cantik kok sama temen-temennya Ryan. Udah deh, udah malem! Kamu bobo yah, bahas ininya lanjut besok aja.. Besok kan kamu sekolah” Mama terus bicara sambil merapikan tempat tidur dan selimutku.
Mama mematikan lampu kamarku, seketika kamarku gelap gulita. Sunyi tak bersuara, dan didalam hening yang membuatku terbiasa, aku hanya menangis. Meratapi semuanya, nasibku tak berubah. Apa ini jawaban dari ribuan doaku? Apa ini yang telah Tuhan rencanakan? Hatiku tak berhenti bergumam, kenapa harus Aryan? Kenapa bukan Bara saja, laki-laki yang selalu kuharapkan menjadi akhir ceritaku. Kenapa semuanya tak sesuai dengan apa yang ku inginkan? Sakit dan perihnya begitu mengiris, namun aku tak berani menghujam Mama dengan ketidaksetujuanku. Oooh, nafas ini semakin sesak. Air mata tak berhenti mengalir, alirannya semakin deras. Aku tak mampu menghentikannya, serasa dukaku semakin mendalam. Tiba-tiba…..
Sender: Dimas Albara
“Cape yah, non? Ngurusin gue seharian.. Sebagai upahnya, besok lo gue teraktir di kantin deh! Ambil apa aja yang lo mau, nanti gue yang bayar. Walau ngutang, hehe…”
Tak kusadari, air mataku semakin deras. Tak dapat ku gambarkan, bagaimana dukanya aku. Sakitnya rasa yang menggelegar, semoga hanya aku saja yang merasakannya. Selamat malam.
                                                                                        ****
Seperti biasa, suasana pagi yang mungkin sering kualami. Tanpa beban dan masalah. Tapi ada yang aneh, apa yang terjadi dengan mataku? Oh Tuhan, mataku sembab. Seperti terkena luka lebam yang sangat parah, aku bahkan merasa kesulitan ketika melihat. Mungkin ini dampaknya jika menangis begitu hebat, setelah menangis justru malah tertidur. Aku takut keluar kamar pagi ini, sungguh sangat takut. Takut Mama melihat mataku, dan menanyakan hal apa yang sudah terjadi sehingga mataku seperti ini. Aku tak mungkin menutupinya, Mama selalu memperhatikanku.
Ku cari cara, apa dengan memakai kacamata hitam? Ah, itu sangat tidak mungkin. Tujuanku ini ke sekolah, bukan ke mall. Membuka pintu kamar pelan-pelan, melangkahkan kaki layaknya seorang pencuri yang ingin membabas habis rumah targetnya. Sesampainya di meja makan, aku berusaha agar Mama tak memperhatikan gerak-gerikku. Menunduk dan terus menunduk, aku tak sedikitpun menampakkan wajahku pada Mama. Hal ini sengaja kulakukan, aku takut ketika Mama menyadari bahwa mataku bengkak karna menangis, pasti perkiraannya aku sedang ada masalah. Dan aku belum siap untuk menceritakan bahwa aku tidak setuju dengan rencananya untuk menjodohkanku dan Ka Ryan.
“Sayang, susunya diminum yah.. Mama sengaja bikin rotinya gak pake selai kacang kesukaan kamu, selai kacangnya habis. Gapapa kan kalau pake selai coklat aja?” Tanya Mama.
“Ya, Ma…” jawabku sambil menunduk.
Keluar dari pintu rumah dengan lega, Mamaku tak menyadari ada yang berbeda dengan fisikku. Syukurlah.
Gerbang sekolah menyambutku dengan angin yang sangat kencang, aku berjalan sambil menunduk. Memasuki koridor sekolah, jalanku semakin santai. Ya, santai karna menutupi keanehan pada fisikku ini.
“Atalia, dari tadi ditungguin Bara tuh di kantin. Katanya, kalau Talia udah datang langsung disuruh ke kantin.” Sapa Aninda.
“Eng, iya iya.. Makasih yah udah dikasih tau.” Jawabku singkat.
Aku tahu perintah itu, tapi aku tak peduli. Menurutku sekarang, yang terbaik adalah menjauhi Bara. Aku ingin berusaha lupa bahwa aku mencintainya, aku ingin menghapusnya dari setiap bait doaku yang selalu terlantun hanya untuknya. Aku lelah, ku ingin berusaha untuk menerima kenyataan. Walau sulit, sangat sukar! Berusaha melupakan seseorang yang sudah bertahun-tahun di cintai. Tapi ini ujian dari Tuhan, yang menandakan bentuk kasih sayangnya untuk yang tersabar. Aku tak mau mengeluh, ku jalani setiap kehendak Tuhan dengan segala kelapangan hati. Ku berdoa, agar masalah ini bisa dengan baik ku terima. Mungkin Ka Ryan memang seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pendampingku, ku serahkan segalanya padamu, Tuhan.
“Taliaa cantik, emangnya Aninda belum nyampein ke elo yah? Kan tadi gue suruh ke kantin..” tiba-tiba Bara datang sambil menepuk pundakku.
“Gue banyak PR, Bar…”
“Sok rajin, deh! Bentar ajaa, kita sambil curhat-curhatan…” ajak Bara setengah merayu.
“Engga Bara, sekali engga yah engga!!” jawabku sedikit membentak.
Bara sempat kaget melihatku membentaknya, aku tak peduli. Ia pergi, dengan langkah gontai meninggalkan kelasku. Ada sesal yang tertinggal, sempat ingin memanggilnya untuk kembali.. Tapi itu tak mungkin, aku harus kuat bersikap seperti ini. Harus, harus kuat.
                                                                                        ****
Bel pulang sekolah berdentang, seiringan dengan itu handphoneku berdering. Pesan singkat dari Mama!
Sender: Mama.
“Sayang, tadi kata Ryan.. Hari ini dia mau jemput kamu sepulang sekolah, mau ajak kamu ngobrol berdua tentang yang Mama omongin semalam. Bersikap yang baik didepan calon, yah, sayang.. Bighugs cantik”
Kaget, mataku terbelalak! Aku belum siap jika hal ini terjadi, dan ternyata benar.. Tepat didepan mataku, jauh diluar gerbang, sudah datang pria yang cukup tampan dengan motor merahnya. Aku belum siap, sangat belum siap. Tapi bagaimana? Nampaknya Ka Ryan sudah melihatku yang mengetahui keberadaannya, mau tak mau demi menjaga sopan dan santun, akupun menghampiri Ka Ryan.
“ Udah lama nunggu yah, Tal?” sapanya begitu hangat.
“Engga kok, baru aja keluar kelas.” Jawabku ringan.
“Mau kemana kita hari ini, Tal? Makan yuk, kayanya aku gak pernah neraktir kamu deh. Bara kan sering, aku deh sesekali. Mau gak?”
“Terserah kaka aja..”
Motornya melaju meninggalkan sekolahku, rasanya aneh. Tak ada debaran apapun saat aku bersamanya, tak seperti saat aku bersama Bara. Tak juga rasa nyaman hadir menemani heningnya kebersamaanku dengan Ryan. Apa memang karna belum ada rasa? Atau memang karna tak pernah merasa cinta? Di kafe, dia duduk berhadapan denganku. Aku sibuk merapikan cara dudukku, dan diapun tak berhenti menjatuhkan pandangannya terhadapku. Jujur, saat itu yang kurasakan adalah risih! Seseorang yang sudah seharusnya menjadi kakakku, justru malah menjadi teman laki-lakiku. Terasa aneh, aku ingin siang ini cepat berlalu. Padahal awalnya aku ingin mencoba untuk menerima tawaran Mama, tapi bagaimana bisa kuterima tawaran itu sedangkan rasa hati tak sanggup untuk menjalaninya.
“Talia mau makan apa, kok daritadi bengong aja?” Tanya Ryan, memecah keheningan.
“Sebenernya sih, aku gak laper.”
“Lho, kalau gak laper ngapain kita kesini?”
“Tadikan Ka Ryan yang ajak, aku sih terserah aja…” aku langsung memalingkan pandanganku kearah lain.
“Yaudah deh yaudah, kita pesen minum aja yah? Buat nemenin ngobrol.. Setuju gak?”
“Terserah Ka Ryan aja…”
Ryan sibuk memesan minum dan menanyakan padaku minum apa yang akan dipesan. Tapi jawabanku selalu sama, “Terserah Kaka aja” nampaknya Ia bosan. Tapi aku sungguh tak peduli, aku berusaha menutupi ketidakpedulianku. Tapi tak bisa, seolah aku mengeluarkan sikap cuekku. Sikap yang biasanya tak pernah ku berikan pada Bara. Aku betul-betul berharap agar siang ini cepat berlalu.
“Talia, Mama kamu udah cerita belum tentang kita bedua?” Tanya Ryan, aku sempat tersendak saat minum ketika Ia bertanya mengenai hal ini.
“Udah kok.” Aku berusaha tenang.
“Menurut Talia, usul kaya gitu bagus apa engga?” Ia menatapku dengan lekat dan mengerutkan dahinya.
“Gak tau, menurut Ka Ryan gimana?”
“Ditanya kok malah nanya balik sih, Tal?”
“Ka, PR aku numpuk banget tau. Tugas juga banyak yang belum aku kerjain, pulang yuk?”
Ryan sempat menggaruk kepala dan kebingungan, dengan berat hati pula aku mengatakan hal itu. Semoga saja Ia tak kercewa dengan apa yang aku ucapkan tadi.
                                                                                  ****

Sesampainya dirumah, aku tak henti-hentinya mendumal pada Mama. Betapa marahnya aku, yang seharusnya sudah beristirahat tenang dikamar justru malah harus berkencan ria dengan pria yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Aku merasa tak enak, tapi aku tak mampu menahan waktu lebih lama untuk bersamanya. Andai saja dia, Bara…
“Makan siangnya gimana sama Ryan? Ryan orangnya dewasa, kan?” Mama tiba-tiba menyambangiku dengan pertanyaan membosankan.
“Aku cape, Maa..”
“Lho, siapa yang tanya kamu cape atau engga, Tal?” Tanya Mama ringan.
“Ih si Mama, anak Mama tuh aku atau Ryan, sih?” aku menyulut Mama sambil masuk ke kamar.
Mama diam, aku diam. Terkadang aku selalu serba salah melakukan hal yang membuatku nyaman, aku betul-betul tak bisa berada disampingnya lebih lama. Namun aku tahu hal ini akan membuat Mama kecewa, aku diam, dan bertahan pada keheninganku. Aku mengacuhkan sepi, mendekati penenangku. Buku diary…

Senja, langit tak menampakan cerahnya diakhir hariku. Menulis, tempatku merasa tenang dan dapat menghempaskan rasa lelah diujung semu. Masih pada topik yang sama, duka. Mungkin tak setiap orang mengalami hal yang sama sepertiku, tapi setidaknya, adakah orang yang dapat bersabar melebihi aku? Aku bosan mengeluh, tapi jika memapahnya sendiri, pun aku takkan mampu. Butuh sandaran, butuh pelukan, butuh penegak dalam lemahku. Tapi mana ada? Mamaku sendiri belum tentu akan melakukan hal itu. Biar ku nikmati perih dan sakit ini, sudah terbiasa. Dan akan terbiasa untuk selamanya. Cukup kehilangan sosok Papa, apa aku akan kehilangan orang yang kucintai juga? Bara, jika telingamu tuli, matamu buta, dan tak punya rasa.. Mungkin sudah ku maklumi, apa penyebab kau tak sadar rasa dihati ini. Tapi tidak. Tidak mungkin kau menderita separah itu, sedang aku selalu berada disampingmu. Jika hal ini lagi-lagi ku lakukan, maka akan dinilai mendikte Tuhan. Diam. Hanya diam teman terbaikku. Aku tak ingin banyak bicara. Biar Tuhan saja yang berupaya menyampaikannya. Selamat beristirahat.
                                                                                  ****
Malam, pukul 19.28. Pr-ku yang bertumpuk kukerjakan satu-persatu, baru saja selesai makan malam dengan menu sederhana. Makan malamku seperti biasanya, hanya berdua dengan Mama. Niat muliaku malam ini adalah, menyelesaikan segala tugas dan pekerjaan rumahku. Tapi mata terasa berat, lampu meja belajar yang seharusnya menerangiku malah terasa membuat gelap suasana dan membuatku semakin mengantuk.

“Talia, Bara nelpon kamu tuh ke telepon rumah..”
“Tanyain dia mau ngapain, Ma…” jawabku santai
“Hey, kamu aja yang ngomong sana! Mama gak enak ngomongnya..”

Aku beranjak dengan rasa malas yang luar biasa, apalagi kalau harus mendengar suara rusuhnya, huff! Tapi tak seperti biasanya Ia meneleponku ke telepon rumah.

“Halo, selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” ledekku.
“Heh, bocah buluk! Diline gak diread, disms gak dibales. Kemana sih luu?”
“Kemana-mana hatiku senanglaah…” jawabku dengan nada santai
“Tadi emang lu makan siang bareng sama abang gue, yah?”
“Kalo iya kenapa, kalo engga kenapa?”
“Jawab aja, sihh! Lu pedekatean yah sama abang gue?”
“Hemm, engga kok biasa aja..”
“Malem ini temuin gue ditaman depan rumah lu. Ada yang pengen gue omongin penting, gak ada alesan! Gak pake lama.”
“Tapi, Baaar, tapi, halo haloo”

Teleponnya sengaja dimatikan, biasanya aku yang selalu mematikan teleponnya. Jangan-jangan ini tentang Alika, aku benci mendengarkannya.

Mengambil jaket dan handphone dikamar. Kulihat layar handphone, sudah belasan pesan singkat Bara dan puluhan telepon tak terjawab darinya. Haha, Bara sebenarnya sangat membutuhkanku. Aku tertawa cekikikan sambil menyusuri setapak di perkomplekan rumahku. Terlihat seseorang duduk dibangku taman, ditetesi sedikit embun bekas hujan tadi siang. Jalan aspalpun basah, aku melangkah sangat pelan agar tak kena cipratan.

“Hay cowgan, minta nomor hapenya, doong.. Aku jomblo nih” ledekku setengah meliriknya.

Bara menunduk dan tak mengangkat kepalanya, kedua tangannya Ia masukkan ke dalam kantung jaket. Kudapati diamnya yang berbeda, membuat candaku berubah menjadi bingung. Aku duduk tepat disampingnya, membuka topi jaketnya dan mengelus rambutnya yang dibasahi rintik hujan.

“Kenapa? Iba ngeliat gue begini, yah?” tatapan Bara melekat seolah menyindirku.
“Lo kenapa? Ada masalah?” aku mengercitkan dahi.
“Gue atau elo yang ada masalah, hah? Tadi pagi pengen gue traktir, lo tolak. Abang gue dateng dan nawarin ke kafe yang mahal, lo nurut. Jangan mentang-mentang gue belom berpenghasilan terus lo pilih-pilih yah, Tal..”

Astaga, sedikit rasa bersalah hadir disegumpal pikiranku. Jadi ini masalah yang dihadapi Bara, Ia iri terhadap kakanya sendiri. Dan penyebab irinya adalah; aku. Aku tak dapat berkata apa-apa, sebenarnya bukan materi yang aku inginkan disini. Tapi bentuk sopan santunku yang tak mungkin menolak Ka Ryan yang sudah menjemput dan meluangkan waktunya untuk mengajakku makan diluar. Aku diam, Bara juga diam. Kita sama terbelenggu oleh sekelimat gengsi yang sulit dipungkiri, tundukanku semakin dalam. Tak terasa hujan membasahi kepala kita berdua, dan lama kelamaan hujan tersebut menderas. Membuat rasa dingin hadir dan sulit tergambarkan, tiba-tiba saja tangan Bara melingkar dibahuku. Kehangatan mencerca dimalam ini.

Kenapa dengan Bara? Ia terlihat berbeda dan terus merangkulku yang kedinginan, tak terasa kepalaku menyandar dipundaknya. Nyaman, hangat, tenang. Aku ingin lebih lama bersamanya, ingin kuhentikan waktu yang sedang kunikmati dengan Bara. Inilah yang kuimpikan selama ini, ingin lebih lama bersama dengannya.

“Lo sayang sama abang gue?” Tanya Bara memecah keheningan.
“Kok lo nanyanya begitu?”
“Salah yah, kalo gue mau tau tentang isi hati dan perasaan lo yang sebenarnya?”

Aku mengangkat kepalaku yang sedang bersandar lemas dibahu Bara. Menatapnya dengan lekat, sedikit kututupi mataku yang berkaca-kaca. Apa ini saat yang tepat untuk Bara tahu yang sebenarnya? Tidak. Ini bukan waktu yang tepat, aku tak ingin Ia menyangka bahwa aku perempuan gampangan.

“Gue gak mau bahas soal ini, Bar. Mumet pala gue”

Aku beranjak dan meninggalkan Bara, Bara sempat menarik pergelangan tanganku. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku berlari, sementara Bara berteriak memanggil namaku. Airmata tak dapat ku bendung lagi, rasanya kenyamanan yang kurasakan barusan bergilir dengan rasa hampa yang luar biasa melekat pada tubuhku. Berlari tak tentu arah, urat-urat kakiku melelah. Kuremas lututku, hujan terus membasahi. Tak kupikirkan lagi bagaimana nasib Bara yang kutinggalkan tadi, aku tak peduli. Aku harus berusaha tidak peduli.

                                                                                   ****

Hari ini, aku mencari sosoknya. Sangat ramai keadaan koridor sehingga aku tak dapat menemukan wajahnya. Kenapa sesulit ini? Dimana dia? Pagi biasanya, dialah yang mencariku. Tapi pagi ini berbeda, ku kelilingi koridor kelasnya, masih tak ku dapat juga. Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan padanya, semoga saja segera dibaca. Karna ada beberapa hal penting yang ingin kusampaikan padanya.
Sender: Atalia
“Lo dimana? Ke kelas gue dong, ada hal penting yang mau gue omongin.”
Delive, tapi gak diread. Lagi ngapain yah, tuh anak? Segitu sibuknya? Apa dia belum datang? Tapi, ah, mana mungkin. Anak serajin dia selalu datang tepat waktu, dari waktu Taman Kanak-kanak sampai di SMA, kami selalu disekolahkan disatu sekolah yang sama. Cape menunggu, aku berusaha menunggunya di taman belakang. Tempat kita biasa berbagi cerita. Benar saja, si kunyuk yang daritadi ku tunggu, memang ada di tempat ini.
“Pinter lo yah, di bbm’in gak dibaca! Udah jadi jagoan yah, hah?” aku datang seraya menjenggut rambutnya dari belakang.
Ia tak menoleh sedikitpun, apa yang terjadi? Kenapa dengan Bara? Apa dia sedang ada masalah dengan Alika? Aku duduk disampingnya dan berusaha menahan semua pertanyaanku kepadanya. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Ia masih tak memulai percakapan.
“Bara, lo kenapa? Lagi ada masalah?” tanyaku memecah keheningan.
“Gue yang kenapa atau elo yang kenapa?” ia melirikku sambil memvonisku dengan pertanyaan yang tidak kumengerti.
“Heh, elo kan lagi gue tanya, kok malah nanya balik sih?”
“Jelas aja gue nanya! Lo jadian sama abang gue sendiri dan gak pernah bilang sama gue. Lalu selama ini kedekatan kita lo anggap apa, Taliaa?” Bara membentakku.
Aku diam. Bara diam. Hati kecilku yang tak berhenti bergumam, apa yang sedang Bara pertanyakan sungguh menyinggung hatiku. Sedang aku sendiri tak merasa memiliki hubungan khusus dengan Ka Ryan.
“Lo salah paham, Baraa.. Gue gak pacaran sama Ka Ryan, kita cuma deket biasa aja. Lo kok bisa tau sih, tau darimana, coba?”
“Apa penting lo nanya gue tau darimana? Kalo udah jadian juga gapapa, sih. Bukan masalah juga kok buat gue. Yang penting elo bahagia, Bang Ryan juga bahagia. Selamet yah..” Ia menjabat tanganku lalu meninggalkanku.
Aku hanya diam. Lagi-lagi diam. Sebegitu tak pentingnya kah aku dimata Bara? Ia pergi begitu saja, tanpa tahu apa yang ingin aku jelaskan. Aku tak pernah merasa nyaman jika bersama laki-laki lain selain Bara, itu karna aku masih memandang kedekatanku dengan Bara. Tapi kenapa justru sekarang Bara begitu membenciku atas semua ini?
Tak terasa, sesuatu yang kukenal mengalir jernih dipipiku. Ia membasahi ruang mataku, membuatku merenung, dan menunduk. Menjaganya agar tidak terjatuh, tapi aku tak dapat menolak. Airmata itu terus menetes, mengiringi kepergian seseorang yang sangat amat ku cintai. Ia berlalu, meninggalkanku begitu saja. Tanpa tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya, aku hanya diam. Dan untuk selama-lamanya diam.
                                                                                          ****
Asap mengepul, seperti biasanya.. Jakarta dilanda macet. Seketika cuaca yang biasanya panas gersang, tiba-tiba berubah menjadi mendung. Aku yang sedang dalam perjalanan menuju rumah Bara terjebak macet. Sudah berkali-kali kubunyikan klakson untuk menyadarkan si pengendara yang berada tepat didepan mobilku. Aneh, sore ini tak sama sekali menunjukan senja. Justru mendungnya begitu pekat, membuat suasana yang seharusnya cerah menjadi gelap. Dingin, aku memutuskan untuk mematikan air conditioner dimobilku. Tapi nyatanya membuat suasana bertambah sepi, tiba-tiba heningku membuat aku merasa tenggelam dalam kesendirian. Tidak ada suara, kucoba dengan baik mengemudikan kendaraan beroda empat. Tapi konsentrasiku buyar, semuanya berantakan. Aku menyingkirkan mobilku ke pinggir jalan, sedikit merefresh otakku yang sudah terkotori oleh kesepian. Handphoneku bordering, mengganggu renunganku. Ternyata Mama..
“Ampun deh, Tal.. Kamu lagi dimana sih? Lama banget, gak sampe-sampe. Kita semua udah ngumpul nungguin kamu lho,” suara Mama membuatku bergetar tak karuan.
“Emang ada masalah apa sih? Aku masih dijalan, macetnya minta ampun, Maa” kumatikan telpon.
Ku lanjutkan perjalanan yang sudah lumayan dekat ke arah tujuan. Diluar masih terlihat mendung, bahkan rintik hujan mulai berjatuhan. Membuat suasana hati lengkap kesepiannya. Kuputar radio mobilku, sedikit terasa ramai sesaat. Cukup baik untuk membuatku tidak galau. Penyiarnya semakin lama membuatku terkantuk, Ia terus membincangkan tentang beberapa remaja yang patah hati. Aku sempat tertawa, sempat pula merasa sedih. Radio ini bagai nano-nano, pandai sekali membuat hati orang merasa pas dengan apa yang diucapkan si penyiar.
Memasuki komplek perumahan Bara, setiap dentingan pembersih kaca mobil membuatku resah. Sebenarnya apa yang ingin dibacarakan oleh Mama dan keluarga Bara? Kenapa harus berkumpul dikediaman Bara, kenapa tidak dirumahku saja? Apa berkumpul hari ini ada sangkut pautnya dengan perjodohanku dan Ka Ryan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memasuki otakku, terus-menerus memaksaku untuk berpikir dan mencari jalan keluar dari setiap pertanyaan itu. Percuma, jarak kerumah Bara semakin dekat. Untuk apa memikirkan ini semua. Klakson kubunyikan tepat didepan pagar rumah Bara. Satpamnya membuka pintu gerbang dan mempersilahkanku untuk masuk. Kulemparkan senyum padanya, yang rela terguyur hujan demi membukakan pagar untukku. Turun dari mobil dan melangkah santai ke ruang tamu Bara.
Disana sudah terlihat Papa dan Mama Bara, dan juga Mamaku. Bara serta Ka Ryan pun ada disana, mereka terlihat sedang berbincang-bincang sambil menungguku. Bara melihat ku memasuki ruang tamunya, Ia justru beranjak dari sofa dan meninggalkan Ka Ryan yang terlihat sedang berbincang dengannya. Semua melihat ke arah Bara, lalu menatapku.
“Sayang, kamu lama banget, sih? Pasti macet deh yang dijadikan alasan..” sapa Mama.
“Emang macet kok, Maa” aku menjawab sambil menyalami para orang tua tersebut agar terlihat sopan.
“Ayoo duduk dulu, nak Talia.. Pasti cape banget yah kelamaan dijalan?” Bu Laras memegang pundakku dan menunjukan kursi yang harus kududuki. Ya, tepat disamping Ka Ryan.
Ryan tak berhenti menatapku secara jalang, tatapannya membuatku gerah dan tak betah. Semua yang ada pada diriku, diperhatikan olehnya. Aku semakin acuh terhadapnya. Kenapa bukan Bara saja yang duduk tepat disampingku saat ini? Rasanya aku ingin berontak, menolak dengan paksa. Tapi mana bisa? Aku ini siapa? Berani-beraninya menolak lelaki tampan semacam, Ryan. Ia terlihat lebih gagah dibanding Bara. Senyumnya jauh lebih mempesona dibanding senyum Bara yang membosankan dan sering kali membuatku muak. Bahkan tingkah Ryan tak pernah melewati batas sehingga membuatku ilfil seperti tingkah milik Bara. Aku hanya diam, diam dan salah tingkah. Para orang tua itupun tak berhenti menatap ke arahku dan Ryan sambil tersenyum. Mereka kelihatan bahagia dengan apa yang kualami saat ini.
“Nak Talia sudah tau apa yang ingin dibicarakan disini?” Pak Taruli memulai sapaannya kepadaku.
“Eng, engga tau, Pak…” jawabku setengah malu-malu.
“Kalo gitu biar Ryan saja yang menjelaskan ke kamu” lanjut Bu Laras.
“Aku gapapa nih, Pah? Yaudah, gini lho Talia.. Kita semua ingin membicarakan perjodohan aku sama kamu.” Ka Ryan menjelaskan padaku sambil menatapku dengan lekat.
Aku berusaha memalingkan pandanganku darimatanya. Mencari dimana sosok Bara. Apa dia masih marah padaku? Bila marah, apa masih dengan penyebab yang sama? Bara yang saat ini sungguh bukan Bara yang ku kenal. Bukan Bara yang biasanya membuatku tersenyum dengan ulah nakalnya. Ia berubah 180 derajat dari yang sebelumnya. Membuatku kelimpungan mencari cara agar dapat memperbaiki sikapnya.
“Bara mana, yah? Tumben gak kelihatan?” Mamaku menanyakan hal yang sejak tadi bergelantung dipikiranku. Pas!
“Iya nih, kok aku daritadi gak liat Bara, sih?” Ka Ryan pun turut bicara.
“Aku tau dia kemana, dia tadi ke kamarnya. Aku inikan sahabatnya dari kecil, boleh yah ngajak dia kesini? Aku ke kamarnya dulu, gitu…” cara bicara kujaga agar terlihat baik dimata mereka.
“Ide bagus, iya.. Cepet yah, nak Talia, suruh Bara kemari” Bu Laras mengizinkanku.
Aku berjalan, menyusuri koridor kamar Bara dan Ka Ryan. Ada pintu kamar yang memampang poster besar, poster rocker-star. Haha, aku terperanjat! Kamar ini, kamar Bara. Ia justru memasang poster besar tentang rocker. Seharusnya menuliskan kalimat ‘Assalamu`alaikum’ dipintu kamarnya. Dasar bocah nakal. Beda sekali dengan pintu kamar Ka Ryan, Ia terlihat amat sopan dan menuliskan kalimat ‘Ketuk sebelum Masuk’. Setidaknya kalimat itu lebih pantas dipasang dibandingkan dengan poster yang ku anggap kekanak-kanakan. Sudahlah, amat tak penting memikirkan poster yang terlampir didepan pintu. Dengan sedikit menahan tawa, aku mengetuk pintu. Kuharap Bara tidak mengamuk dan lalu mengusirku, semoga Ia menerima tamu secantik dan semanis aku.
“Baraa, eh jelek! Lagi tidur, yah? Pamali lho sore-sore gini tidur…”
Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ketukan pintu serasa tak terjawab, kemana si pemilik kamar yang seharusnya ada di dalam? Aku berusaha mengetuknya berkali-kali, sampai rasanya tanganku gatal ingin membuka pintunya saja. Kubuka pelan, sangat pelan, pintu bergeser dan menyebabkan bunyi yang membuatku takut Bara marah. Pintu terbuka. Aku terpekik. Tidak kudapati seorangpun didalam kamar tersebut, kupandangi setiap sudut kamar. Dan, nah! Itu dia, sosok yang bisa terbilang paling kucinta. Terduduk lemah disudut kamar, sedang memandangi hujan dengan lekat. Ia tak samasekali memperdulikan seseorang yang baru saja datang dan memperhatikannya. Ia tetap memandang kearah hujan yang masih turun dengan rintik, terlihat pandangannya kosong. Ku hampiri, ku datangi, ku sapa dengan hangat. Sebisa ku untuk tak mengganggu lamunannya. Agar Ia tak marah lalu membentakku.
“Baraa, sedang apa disini? Mikirin gue, yah?”
Tak ada jawaban, hening. Ia sangat cuek. Aku bosan. Ia masih tak perduli dan posisiku tetap berdiri. Aku malu untuk berdiam terus disini, tapi misiku disini untuk menanyakan apa yang sedang Ia lakukan. Aku harus berhasil, harus.
“Baraa, lu masih punya kuping, kan? Kenapa diam? Pernah kan diajarin sopan santun untuk menjawab pertanyaan orang yang sedang bertanya…”
Bara masih diam, aku benci keadaan seperti ini. Sangat benci. Ia tak samasekali bergeming, membuatku merasa lemah dan bersalah. Apa yang terjadi dengan seseorang yang sangat ku sayang? Tuhan, apa yang terjadi?
“Bara!! Kamu punya mulut, kan? Apa yang salah dengan aku? Jawab!!” air mataku mulai membasahi pipi.
Ia masih tak peduli. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu mengunci pintu kamarnya yang kedap akan suara. Aku hanya terbingung-bingung menghadapi keanehan Bara. Sebelumnya Ia tak pernah secuek ini, tak pernah sampai mengacuhkanku separah ini. Ia menatapku lekat, memegang lenganku dengan amat keras. Begitu kasar. Aku takut dan hanya bisa menutupi mulutku sambil menangis.
“Kamu bingung kenapa saya begini? Penyebab saya begini itu; kamu. Kamu Ataliaa!!” Bara membuka mulutnya.
Ia berteriak amat keras, hampir membuat pecah gendang telingaku. Dia bukan Bara yang kukenal. Kejam, kasar, membuatku penat.
“Apa yang salah dari aku? Apa?! Apa, Bara…?!!”
“Salah, salah besar! Kamu mau dijodohkan dengan kaka dari seseorang yang dekat denganmu. Apa kau tak perhatikan bagaimana perasaannya? Mungkin memang tak pernah penting bagaimana perasaannya dimata kamu. Tak akan pernah penting, Ataliaa!!” Bara menunduk dan menyembunyikan tangisnya.
Aku tak berani menatap matanya. Hatiku bagai disambar petir dan dilanda kekeringan. Kaget, hancur, syok. Semuanya bercampur menjadi satu. Sebelumnya Bara tak pernah seserius ini, candaannya kadang membuatku amat muak. Masih dalam tundukan, dan rasa bingung, tiba-tiba ketukan pintu dari luar terdengar. Suara lembut menyapaku dan Bara.
“Talia, Baraa… Kalian ngapain didalam? Kok pintunya dikunci?” suara lembut yang dimiliki Ryan membuatku dan Bara tercengang.
“Engga, Bang… Gue lagi ngajakin Talia maen petak umpet..” Bara menjawab amat santai, sambil membukakan pintu.
Pintu dibuka, senyum Ryan melengkung sempurna. Bara terlihat biasa-biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa barusan. Aku masih dalam tundukanku, masih berdiri tepat didepan tempat tidurnya. Bara menarik tanganku dengan lembut, membawaku kedepan Ryan yang terlihat sedang menungguku.
“Nih, permaisuri lu, gue kembaliin. Bilangin Mama sama Papa, gue gak bisa turut serta sama acara lu berdua. Gue tiba-tiba ngerasa gak enak badan.”
“Oalah, ampun deh, Bar.. Lo tuh yah, masa acara sepenting ini mau dilewatin begitu aja, sih? Gak nyesel, nih? Entar gue kerokin deh pas acaranya udah selesai, suer dah…” Ryan merayu dengan mata yang setengah mengedip.
“Engga dulu deh, Bang..  Sorry banget dah, yak? Tenang aja sih, kalo udah lamaran baru gue nampakin batang idung!”
“Okelah, oke. Ayo, Tal.. Ibu sama yang lainnya udah nungguin daritadi tuh” kini giliran Ryan menggandeng tanganku.
Ia menarik tanganku dan membawaku pergi dari hadapan Bara. Bara masih berdiri diambang pintunya, memandang kepergianku bersama Ryan. Sesaat Ia tertunduk dan tak lagi menunjukan senyumnya yang indah. Aku berusaha menahan tangis. Ku tahan dengan baik dan sempurna, berusaha agar tak ada yang tau dukaku dan Bara.
                                                                                       ****
Malam, selamat merasakan dingin yang meradang, Pangeranku. Masihkah engkau mengacuhkan kecintaanku? Didalam duka dan keseharian yang terbiasa kulalui bersamamu. Kenapa ada kala kau bersikap seperti sosok yang tak kukenal? Begitukah caramu menyampaikan perasaan nan meluap? Lalu bagaimana dengan aku yang sudah bertahun-tahun memendam rasa sendirian? Aku masih kuat dan berdiri tegar, tak pernah memaksamu untuk mengerti keadaanku seperti apa yang kau lakukan tadi. Begitu kasar, membuatku jera dalam mencintaimu. Aku sabar, kutahan amarah ku yang membuatku sesak. Kamu masih dengan keadaanmu, tak perduli.
Tak pernah kau ceritakan bagaimana perasaanmu. Tak kau beritahu pula apa yang kau mau dariku. Kau misterius dimataku. Begitu sering mengacuhkanku, tapi tak pernah membuat cintaku pudar walau secenting saja. Bagaimana caraku menjelaskan rasa hati yang gelisah, ketakutan, ketika dunia memaksaku menerima seseorang sempurna yang tak kucintai. Aku ingin menyudahi semuanya, meninggalkan kamu dengan keadaan yang acuh padaku. Tapi mana bisa? Mana mampu? Apa tak ada lagi ujian yang lebih berat dibanding ini, Tuhan? Aku akan membopong semuanya sendiri, datangkan lagi. Aku ingin kau uji lebih berat lagi.

Tangisan terus melinangi pipiku, tak henti-hentinya aku mengeluh dan memohon iba. Masih terus meratapi nasibku dengan memandangi buku diary yang lama-kelamaan mulai lusuh. Terus diam, aku sungguh-sungguh tak kuat menjalaninya sendirian. Akupun tak pernah ingin Mamaku tahu apa yang sedang kualami. Cukup aku dan Tuhan saja yang tahu, karna bagiku sebuah masalah adalah privacy sendiri yang seharusnya diselesaikan tanpa mengeluh dan tanpa membagikan masalah tersebut dengan orang lain. Dan menutupinya adalah cara terbaik agar orang lain tak menjadi iba denganku. Begini setiap harinya, aku harus tabah menjalaninya sendirian. Harus kuat, harus bisa, harus tegar. Pasti masalah ini akan berakhir, walau ketika masalahnya berakhir pasti akan ada masalah baru yang datang. Begitu seterusnya. Semua tergantung kita, bagaimana cara menjalani kehidupan yang ditempa masalah dan musibah. Karna dikehidupan pasti ada kesulitan, Tuhanpun tak akan tuli dan buta. Ia tahu mana yang terbaik dan yang tidak. Dengan kesabaran, lagi-lagi aku menguatkan hati untuk bertahan diatas terpaan duka yang mendalam. Selamat malam.
                                                                                           ****
“Pagi ini mau sarapan apa, sayang?” Mama menyapaku begitu hangat pagi ini.
“Apa aja deh, Maa.. Yang penting aku makan” jawabku sambil sedikit meledek Mama.
“Oke, Mama bikinin roti coklat kesukaan kamu aja, yah?”
“Terserah Mama….” Aku mencium pipinya dan Mama tersenyum.
Jika melihat senyuman Mama, inilah yang membuatku tak ingin membantah dengan apa yang diinginkannya. Walau aku sendiri tak sanggup menjalaninya, tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tak melawannya. Apalagi pilihan Mama memang baik untukku sendiri. Mengalah adalah jalan terbaik, biar tangan Tuhan yang turut memperbaiki agar apa yang kujalani dapat membuatku bahagia.
“Mamnya yang banyak yah, sayang.. Biar berat badan kamu nambah, kata Ryan kamu kurusan” ujar Mama seraya menuangkan susu coklat kegelas yang ada dihadapanku.
“Hah, emang iya yah, Maa?” aku pura-pura kaget sambil menyeruput susu coklatku.
“Mama juga gak tau sih, tapi katanya gitu. Yaudahlah kamu buruan, entar telat sekolah lho.. Kata Ryan juga dia bakal anter kamu ke sekolah pagi ini”
Aku yang sedang asyik menghabiskan makananku tiba-tiba merasa tak nafsu makan. Moodku harus berantakan karna Aryan, sedangkan aku tak pernah nyaman bersama dengannya. Tapi apa boleh buat, tetap harusku terima, karna biar bagaimanapun Ryan tetap calon tunanganku.
Makan kusudahi, percuma juga kulanjutkan. Aku takut Ryan sudah menunggu didepan. Setelah bersalaman dengan Mama, aku berjalan kearah pintu untuk keluar rumah. Kubuka pelan lalu menutupnya dengan lambat. Kubalik badan dan kudapati sebuah motor besar berwarna merah, seperti motor yang kukenal. Si pengemudi dengan gagah memakai jaket dan helm, tanpa menengok kearahku sedikitpun. Kuperhatikan lagi, bila memang Ryan, kenapa memakai celana abu-abu? Seperti celana SMA yang biasanya anak sebayaku pakai. Kudekati hingga berjarak hanya beberapa senti, semakin dekat dan terus mendekat. Tapi Ia tak kunjung menoleh ke arahku, siapa dia? Untuk apa pagi-pagi begini membuatku bingung bukan kepalang! Kuteplak pundaknya, Ia tak menoleh. Kupukul kembali pudaknya, barulah Ia menoleh.
“Mau naik gak? Gue tinggal, nih…” ternyata Bara, suaranya begitu akrab kukenal.
“Kok elo sih yang kesini, bukannya Ka Ryan, yah?” aku bertanya sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Oh, jadi kalo gue yang anter lo sekolah, gak boleh gitu? Gak inget lo dulu, sebelum dijodohin sama abang gue, lo barengnya sama gue, kan?”
Aku mengalah, tanpa menjawab sepatah katapun, aku menaiki motornya. Menuruti apa yang diminta, motor melaju sangat kencang. Membuatku merasa gugup berada diboncengan Bara. Sepanjang perjalanan, Ia tak sama sekali mengajakku berbincang. Ia hanya mendiamiku, tanpa suara dan terlihat cuek-cuek saja dengan kegelisahanku. Dasar lelaki tak punya hati, seharusnya Ia tahu kalau aku ketakutan dibonceng olehnya. Lelaki gak peka, lelaki tak punya perasaan. Aku sangat membencinya, tapi selalu merasa nyaman berada didekatnya. Tidak seperti jika aku bersama Ryan, semua bergelut dan membuatku bosan. Bara selalu membuatku tersenyum dalam keadaan apapun, meski aku sangat amat membenci setiap tinghkahnya.
Motornya sampai dipekarangan sekolah, membuat jantungku berhenti berdegup. Aku tak sama sekali memikirkan bagaimana jika Ryan kerumah dan menjemputku namun aku sudah pergi. Yang ada dipikiranku sekarang adalah bahagia, dan hanya ingin tersenyum. Ia memarkir motornya dengan rapih, aku turun dengan memegang pundaknya. Ia tak marah, bahkan dengan sabar menungguku hingga turun ditanah parkiran. Tak menoleh barang sedikit, Ia tetap terlihat cuek hinggaku menepuk pundaknya dan mengucapkan terimakasih. Ia tak menjawab, namun hanya menoleh dan memberikan senyum yang membuat pagiku terasa indah. Lengkap dengan apa yang kuinginkan.
Harapanku adalah Bara berusaha merebutku dari Ryan, dan Ia akan berjuang untuk mendapatkanku. Aku sangat amat mengimpikan itu. Karna yang aku ingin adalah menjadi tunangan Bara, bukan Ryan. Walau aku tak berani mengungkapkan isi hatiku pada siapapun, aku hanya memendamnya dan berusaha menutupinya sebisa mungkin. Berjalan dikoridor kelas pagi ini terasa sangat indah, untuk menyegarkan pikiranku yang baru saja pening oleh beberapa masalah yang memuakkan. Selamat pagi.
                                                                                       ****
“Siang Maa, Talia pulaaaang…..” suaraku menggelegar, menghampiri Mama yang sedang memotong tangkai bunga lalu mencium pipinya.
“Aduh ini anak Mama udah gede tapi masih aja manja…” ledek Mama.
“Oh, jadi Mama gak mau nih, aku cium? Okefine”
“Engga sayang, Mama bercanda tauuu”
Dan kami tertawa bersama, saling tak peduli dengan masalah yang sedang dihadapi masing-masing. Mama sudah cukup lama sendiri, tanpa seorang suami yang seharusnya membantu untuk membesarkanku. Tapi tak pernah terlihat duka diseraut wajah Mama, Ia selalu menjadi sumber penyemangat dikeseharianku. Inilah penyebabnya, mengapa aku tak pernah berani menampakan perihku didepan Mama. Selalu berusaha kuat, bukan berusaha.. Tapi berpura-pura untuk terlihat kuat. Aku tak ingin kalah saing dengan Mama, aku ingin terlihat lebih tegar darinya.


                                                                                    ****
Dear.. Senjaku
Aku ingin ceritakan hari indah yang sulit kulukiskan, tentang kebersamaanku dengannya sejak pagi hingga sepulang sekolah tadi. Setiap waktu, kusenyumi kejadian yang aku dan dia alami berdua, Ia tak akan tahu, Tuhan. Aku bagai seorang pemusik yang kini sedang memainkan biola, mengalunkan kalimat indah tentang rasaku padanya. Apa Ia tahu tentang rasaku yang kini membeku, setiap harinya hanya teruntuk padanya. Mungkin kau biarkan rasa lambat laun membasi, terhadap dia yang tak kunjung membalas rasa yang ada. Tak apa, Tuhan. Dengan kudapat menghabiskan waktu bersamanya saja, itu sudah lebih dari cukup. Dan tak perlu lagi kumengeluh tentang perihku, akan kupapah sendiri dukaku. Duka yang terselimuti beribu suka saat bersamanya, dan hanya kepadanyalah aku menjatuhkan harap yang teramat besar. Kamu; yang tak pernah tahu tentang isi perasaanku.

Aku tak pernah bosan menuliskan setiap kalimat tentang perasaanku terhadap Bara. Ya, setiap harinya dengan kalimat yang hamper sama. Entah kapan setiap tulisan ini dapat dibaca olehnya, mungkin dengan kesabaran yang luar biasalah yang membuat aku bertahan dengan semua ini. Suatu saat, ketika Bara membaca tiap kalimat yang tercipta dari isi hatiku, Bara akan merasa betul-betul menyesal karna telah menyia-nyiakanku. Dan disaat itulah, dia akan meninggalkan Alika yang selama ini sudah jelas-jelas tak menganggapnya ada. Hanya aku, cuma aku, dan selalu aku yang ada untuknya. Selamanya.

          
                                                                                    ****

Dihari libur ini, aku tak bisa beristirahat dengan tenang. Mama sibuk mengaduk adonannya didapur, ya walaupun Mama tak akan marah jika aku tak membantunya, tapi tetap saja rasa hati sangat penasaran dengan kue apa yang akan Mama buat. Jadilah aku sebagai anak tunggal yang baik hati membantunya, membantu menghabiskan semua kuenya.

“Maa, itu adonan banyak banget buat apasih?” aku berkata sambil mengintip dari tembok dapur.
“Kamu penasaran, yah?”
“Bukannya penasaran sih, Maa.. Tapi aku kepo, pengen nyobain kue Mama.”
“Mending bantuin Mama sini..” ujar Mama tanpa menoleh kearahku.
“Bantuin ngabisin kuenya, Ma? Nanti dong kalo udah jadi, pasti aku bantuin kok..” jawabku santai.
“Heh, kamu yah.. Bantuin Mama bikin kuenyalah, Taliaaa”

Dengan senyum yang sengaja kuimut-imutkan, aku turut serta membantu Mama menyelesaikan kuenya. Setiap kue yang Mama buat selalu enak, keluarga Bara sering meminta agar Mama membuatkan kue untuk acara besar mereka. Tiba-tiba telepon rumah berdering, aneh..

“Tal, angkatin telponnya dulu gih bentar.”
“Mama aja gih..”
“Kamu kok kalau dimintain tolong susah banget, sih?”
“Iyadeh iyaa…”

Aku berjalan keruang tamu, mendekati gagang telepon dan segera mengangkatnya. Tiba-tiba jantungku berdebar tak karuan, setiap langkah kakiku ingin terburu-buru. Aneh, ada firasat apa ini? Semoga saja bukan kabar buruk yang aku dapat nantinya.

“Halo, ini siapa? Ingin bicara dengan siapa?” sapaku hangat.
“Ini Talia, kan? Ini Bu Laras, Tal.. Aryan kecelakaan, masuk rumah sakit. Kamu dan Mama kamu bisa kesini, kan?”
“Astaghfirullah, iya Buu.. Bisa kok, nanti Talia sama Mama kesana” jawabku tergesa-gesa.
“Segera yah, Talia? Ibu tunggu”

Aku menutup telepon tanpa mengucap salam, kabar ini betul-betul kabar yang sangat buruk. Sudah kuduga. Tapi, biasanya bila ada kabar tentang keluarga Bara, Baralah orang pertama yang selalu menghubungi keluargaku. Kemana yah, dia? Atau jangan-jangan dia sendiri justru belum tau kabar ini? Hm, itu gak penting. Yang terpenting aku harus segera sampai dirumah sakit dengan Mama.

“Ma, Ka Ryan kecelakaan. Sekarang lagi dirumah sakit dan kita disuruh kesana sama Bu Laras, aku siap-siap dulu, Mama juga siap-siap, yah?”
“Hah? Kamu serius? Kenapa bisa?”
“Udah deh, Ma.. Itu gak penting, mendingan Mama buruan deh siap-siap.”


                                                                                    ****

Sesampainya dirumah sakit, dengan langkah terburu-buru, aku dan Mama mencari ruangan dimana Ka Ryan dirawat. Ternyata benar dugaanku, Bara belum tahu kalau abangnya baru saja kecelakaan. Diruang tunggu hanya ada Pak Taruli dan Bu Laras, mereka terlihat kelimpungan menunggu Ka Ryan.

“Aduh, akhirnya Talia datang juga.”
“Bu, kenapa bisa sampai kecelakaan, sih?”
“Ibu juga gak tau kenapa kejadiannya bisa begini, tadi tiba-tiba ada orang yang telpon kerumah kalo Ryan kecelakaan. Sumpah Ibu khawatir banget..”
“Tapi Bu Laras tenang aja, Ryan kan kuat. Dia pasti gak akan kenapa-napa.” Ujar Mamaku.
“Iya, Bu Laras sama Pak Taruli tenang aja, Ka Ryan itu orangnya kuat kok. Pasti bakal baik-baik aja. Oh iya, Bara kemana? Kok daritadi gak keliatan?”
“Dia, daritadi dihubungin engga bisa. Entah kemana anak itu, gak ngerti kalo abangnya sedang dalam bahaya, dia.” Jawab Bu Laras dengan gelisah.

Suasana semakin lama semakin gelisah. Dokter yang menangani Ka Ryan tak kunjung keluar dari ruang medis, apa separah ini? Hampir 3 jam kita menunggu didepan ruang UGD. Tapi biar satu susterpun tak keluar dari ruangan tersebut. Aku mulai gelisah, ketakutan, dan kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi didalam? Disaat seperti ini justru Bara belum datang, membuat Pak Taruli dan Bu Laras tambah gelisah. Berulang kali kucoba menghubungi Bara, tapi nomornya masih tidak aktif dan tak dapat dihubungi. Baru saja rasa khawatirku meluap, Bara datang dengan sangat tergesa-gesa. Ia membawa jaket dan sekujur tubuhnya berkeringat.

“Ma, gimana keadaan Bang Ryan?” tanyanya dengan nafas terengah-engah.
“Kamu ini daritadi kemana, aja? Nomor kok gak aktif? Handphone gak diaktifin. Gak mikir kalau suasana genting seperti ini orang tua bakal khawatir, apa?” bentak Pak Taruli.
“Udah, Paa, udaah.. Bukan saatnya bertengkar kaya gini, lebih baik kita berdoa buat Aryan.” Sergah Bu Laras.

Suasana mereda saat suster keluar dari ruang UGD, dengan cepat Bu Laras menanyakan keadaan Ka Ryan. Namun aneh, suster terlihat enggan menjawab. Ia justru menghindar dan melangkah dengan cepat. Tak lama kemudian dokterpun ikut keluar dan mengikuti langkah suster, dengan sigap Pak Taruli menghentikan dokter dan menanyakan keadaan Ka Ryan.

“Dokter, dokter..! Bagaimana keadaan Ryan anak saya, dokter? Kenapa penanganannya lama sekali? Apa keadaan anak saya begitu kritis?” ujar Pak Taruli dengan rasa khawatirnya.
“Maaf, Pak. Maaf sekali lagi, kami sudah berusaha sebisa mungkin. Tapi benturan yang ada dikepala bagian belakang anak Bapak cukup parah. Anak Bapak akan mengalami koma selama beberapa waktu yang sulit saya tentukan, mohon maaf sekali lagi, Pak..” jawab dokter lalu meninggalkan kami.

Seketika Bu Laras pingsan, tubuhnya melemas mendengar kabar buruk tentang anak sulungnya. Kita semua kebingungan, termasuk Bara yang sibuk mencari kamar istirahat untuk ibunya. Rasanya cobaan tak henti-hentinya menyergap kami. Aku yang sebentar lagi akan tunangan dengan Ka Ryan, justru mengalami ujian seberat ini. Dokter memvonis Ka Ryan koma dalam kurun waktu yang tak dapat ditentukan. Apa ini rencana Tuhan agar pertunangan dibatalkan? Tapi kenapa harus dengan cara membuatnya koma? Aku tak habis pikir, mau senang atau sedih. Tapi inilah yang aku inginkan, pertunangan dibatalkan.

Sementara itu, Ka Ryan dipindahkan ke kamar lain. Bu Laras sadar dan langsung ke kamar Ka Ryan, terlihat rasa khawatir diseraut wajahnya. Aku yakin betul Ka Ryan hanya koma untuk beberapa hari, aku berusaha berdoa agar dia baik-baik saja. Sejak tadi Mama memelukku dengan erat, mungkin dibenaknya aku sedang memikirkan nasib pertunanganku yang pastinya akan diundur. Padahal, aku tidak memperdulikan soal itu. Disisi lain, Bara tak kalah khawatir dengan Ka Ryan. Sejak tadi Ia hanya berjalan bulak-balik didepan pintu kamar, keringatnya tak berhenti bercucuran.

“Bar, yang sabar, yah? Abang lo pasti baik-baik aja kok..” ujarku seraya menenangkan Bara.
“Aamiin, semoga aja deh, Tal” Ia hanya menjawab tanpa menoleh kearahku.

Aku iba melihat keluarga Bara, mereka betul-betul kebingungan melihat keadaan Ka Ryan. Aku dan Mama memustuskan untuk menginap dirumah sakit, menemani Bu Laras yang masih gelisah.

                                                                                   ****

Seminggu sudah pasca kecelakaan Ka Ryan, masih pada keadaan yang sama; Ka Ryan tetap koma. Keluarga Bara sudah berkali-kali mengadakan pengajian untuk mendoakan Ka Ryan, tapi tak terlihat sedikitpun perubahan dengan keadaannya. Hari ini, hari libur. Aku ditugaskan untuk menjaga Ka Ryan sampai siang, sambil membaca majalah yang baru saja terbit. Bila diperhatikan kembali, wajah Ka Ryan yang semula tampan berubah menjadi pucat pasih. Peralatan medis memenuhi seraut wajahnya, perban membalut rapi dibagian keningnya. Aku sungguh tak tega, melihat kejadian buruk menimpa seseorang yang amat baik seperti Ka Ryan. Aku hanya bisa mendoakannya, agar segera sadar dari komanya.

“Pagi, ehh calon kaka ipar gue udah dimari..” Bara tiba-tiba datang dan mengagetkanku.
“Gak punya sopan santun lo, yah? Orang mah ucap salam kek, apa kek.”
“Biasa aja dong. Ehh, ada buku diary! Diary siapa nih?”

Astaga, diaryku. Ada ditangan Bara, Ia mengambilnya disamping buah-buahan untuk Ka Ryan. Aku kelimpungan, gelagapan, dan ketakutan. Apa jadinya kalau sampai Bara membuka lalu membaca isinya?

“Bara! Balikin, gak? Lo gak berhak pegang-pegang barang yang bukan milik lo.”
“Bukan milik gue, tapikan milik sahabat gue, calon kaka ipar gue, calon tunangan abang gue.” Jawabnya santai.
“Kembaliin, gak? Gue gak suka yah, lo kepo sampe segininya. Balikin Baraaa!”

Bara tak memperdulikanku, dia justru berusaha berlari dan membawa buku diary itu. Dia berdiri dipojok kamar dekat jendela, berusaha meledekku dengan membuka perlahan tiap lembar diary itu. Aku geram, berusaha merebutnya tapi tak bisa. Ia terus meledekku, dan betul-betul membuka lembaran buku diaryku. Tidak, Bara betul-betul membacanya. Aku tak bisa berkutik, Ia membaca dengan hening. Hanya kulihat bibirnya bergerak sedikit, membaca tiap bait dan tulisan yang kubuat untuknya. Aku menyerah, mungkin ini jalan Tuhan yang telah direncanakan. Aku tak bisa berbuat apa-apa, Bara memang berhak membaca setiap tulisan yang selalu menyebutkan namanya. Aku melemas, menggigit bibirku dan menunggu respon Bara yang masih tertunduk membaca frasa milikku.

“Ini,? Jadi ini yang selalu lo tutup-tutupin dari gue? Jawab, Taliaa!” Bara marah, bentakannya membuat telingaku hampir pecah.

Aku tertunduk dihadapannya, Ia terus menatapku yang semakin menunduk. Aku malu, sedangkan Bara betul-betul marah.

“Kenapa gak jawab? Talia, lo masih punya mulut, kan? Jawab, Talia!”

Aku diam dan Bara terus membaca diary itu, lama aku tertunduk dan tidak bisa berbuat apa-apa. Semakin lama, Bara melemas. Ia berlutut dihadapanku yang masih menunduk. Aku tak sanggup melihat Bara yang benar-benar menangis dikala itu. Aku ingin menghapus airmatanya, memohon maaf atas kelancangan cintaku yang tega memilihnya. Tak terasa airmataku ikut mengalir, lama Bara terdiam dalam tangisnya. Menggenggam erat diaryku, Ia berlutut dihadapanku.

“Kenapa lo tega, biarin kumbang yang selama ini lo butuhin; menghisap bunga lain? Jawab, Talia. Sedangkan bunga yang Ia hisap, penuh duri disekitar kuntumnya. Apa lo gak liat penderitaan gue selama ini dalam mencintai Alika? Kenapa lo biarin kita berjuang masing-masing dalam tujuan yang berbeda? Gue memperjuangkan Alika, sedangkan lo berjuang mati-matian untuk gue! Apa gue terlalu gak peka, sampe-sampe cinta yang ada didepan mata selama ini aja gue gak bisa liat. Lo sama Alika? Jelas beda jauh, wajar kalo Bang Ryan sampe kesemsem sama lo dibanding sama temen cewe dikampusnya.” Bara berhenti bicara, tangisnya semakin meledak.

“Apasih yang bikin lo sekaku ini? Kita sahabatan udah lama, tapi kenapa cuma untuk bilang lo punya rasa ke gue aja gak pernah? Seandainya gue gak baca diary lo, mau sampe kapan lo tutupin perasaan lo itu? Sampe akhirnya lo menikah sama Bang Ryan? Terus lo dijodohin sama diapun karna paksaan, kan? Jawab, Tal!!” Bara terus menyergapku dengan makian dan bentakannya.

“Lo pengecut Tal, kalo lo terus diem kaya gitu. Ada gue didepan lo, ungkapin perasaan lo yang sebenernya ke gue, Tal, ungkapin.. Kenapa lo masih diem, sih?”
“Bara, gue gak pernah bilang, karna gue tau lu bakal semarah ini pas tau yang sebenernya.” Jawabku lirih.
“Marah? Jelas gue marah, Tal. Lo pendem terus-menerus tentang perasaan lo, padahal selama inipun gue juga tertarik sama tiap perhatian dan pengertian yang lo kasih ke gue. Tapi gue bisa apa? Gue sadar diri, perempuan semacam Alika yang gak ada apa-apanya sama lo aja, udah nolak gue berkali-kali apalagi elo. Seandainya daridulu gue tau, gue gak bakal biarin lo sampe dijodohin sama Bang Ryan. Gue bakal mati-matian perjuangin perempuan yang selalu ada buat gue selama ini. Gak akan gue biarin barang setetes airmatanya jatuh karna gue, gak akan gue biarin Taal…” Bara kembali menangis.

Masih hening, aku tak berani berujar apa-apa. Suasana yang seperti inilah yang membuat hatiku dan Bara menjerit dalam diam. Kita terjebak, aku terjebak dalam mencintainya dan dia tak mungkin merebutku dari saudara kandungnya sendiri. Beginikah? Haruskah seperti ini akhir ceritaku? Rasanya aku ingin berteriak, meminta Bara memperjuangkanku seperti dia memperjuangkan Alika. Tapi bila itu terjadi, pasti akan ada hati yang tersakiti. Bagaimana dengan nasib Ka Ryan yang sudah berharap banyak padaku? Tiba-tiba suara lembut menengahi dukaku dan Bara. Suara Ka Ryan yang masih melemas, membuat aku dan Bara cepat-cepat menghapus airmata dan mendekati tempat tidur Ka Ryan.

“Kalian saling sayang? Kenapa gak bilang daridulu? Gak usah pikirin saya, saya baik-baik aja selama kalian bahagia.” Ujarnya sambil menatapku dan Bara.
“Bara, selama ini gue tau kok. Gue bisa nilai semuanya dari mata lu. Lu sayang, tapi gak sanggup memperjuangkan. Talia itu perempuan baik, dia jauh lebih baik daripada Alika. Talia lebih sanggup membahagiakan lo, percaya deh. Gak usah pikirin gue, gue emang selalu cemburu ngeliat kedekatan lo sama Talia. Talia begitu perhatian sama lo, sedangkan sama gue? Dia selalu bersikap dingin. Lo beruntung karna dapetin cinta dan perhatian dari dia. Jangan lo sia-siain, de. Gak akan dua kali Tuhan kasih kesempatan ke elo dalem hal cinta, jangan pikirin gue gimana. Gue jauh lebih bahagia ngeliat kalian berdua bahagia. Dibanding bisa memiliki orang yang kita cintai, tapi hanya fisiknya semata. Kenapa masih diem? Apa perlu gue yang satuin tangan kalian?” Ka Ryan memegang tanganku dan Bara lalu menyatukannya diatas selimut yang membalut disekujur tubuhnya.
“Gak usah khawatir, soal Papa sama Mama dan Bu Lidya itu urusan gue. Gue yang bakal jelasin semuanya ke mereka. Bahagia yah, demi gue?” ucapnya sambil terbata-bata.

Bara menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Diamku kini dapat bernafas lega, mungkin ini jawaban tiap doa dan tangisanku yang diijabah Tuhan. Keluarga Bara dan Mamaku datang, mereka memeluk erat tubuh Ka Ryan mengucap syukur atas siumannya Ka Ryan.

                                                                                      ****

Penutup;
Pagi ini, aku bersiap-siap. Setelah libur panjang, ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di semester genap tahun ini. Mama seperti biasa menyiapkanku sarapan. Pagi ini sejuk, sesejuk hatiku. Hari ini bukan hanya hari pertama masuk sekolah, tapi juga hari special untukku. Karna usiaku genap 17 tahun. Mungkin Mama lupa, Ia tak mengucapkan apa-apa dihari special ini. Hm, lagipula tidak begitu penting. Sebelum memulai sarapan, aku berdoa. Berdoa agar tahunku yang ke-17 ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Selesai makan aku pamit untuk berangkat sekolah. Sikap Mama dingin, tak sehangat seperti pagi biasanya. Aku menganggap ini hal biasa, mungkin Mama hanya terlalu lelah sehingga Ia begitu.

Kubuka pintu, Bara yang biasanya sudah siap menjemputku kini tidak ada dihalaman sana. Kemana dia? Duh, aku berangkat sama siapa kalau dia pagi ini tidak datang? Kutunggu beberapa menit. Sampai pukul 06:28. Aku tak sabar, kulangkahkan kaki kehalaman dan tiba-tibaa..

“Selamat ulang tahun, calon tunangan gue. Sorry iseng dikit.” Bara mengintip diatas atap sambil berteriak dengan sangat keras.

Astaga, air bau ini disiramkan ke tubuhku. Ah, Bara memang kurang ajar. Tiba-tiba Mama keluar dan disisi lain Ka Ryan sudah membawakanku kado yang sangat besar. Terimakasih, Tuhan. Kau telah menjawab semua doa dan permintaanku.

Dear…
Pada langit yang memerah akan senja. Entah mengapa aku selalu suka menulis tentang senja, tentang senjaku yang indah. Aku sangat bahagia. Benar; Tuhan telah menjanjikan bahagia terhadap orang-orang yang sabar. Kini keluhku berubah menjadi syukur, setidaknya aku bahagia dapat menggenggam erat sosok yang amat kucintai selama ini. Yang kupikir hal itu hanya akan terjadi di dalam mimpiku saja. Bara, tempat harapanku selalu berteguh. Dimana hanya Ialah laki-laki yang mampu membuatku terpesona dengan sosok humornya. Aku suka dia yang kasar, dia yang keras, tapi terkadang lembutnya melebihi kain sutra. Apapun yang terjadi, setiap tulisan tinta merahku hanya akan menyebutkan namanya. Selalu begitu, dan selamanya akan begitu. Teruntuk kamu, tempat rindu dan cintaku bersarang.