Recent Posts

Tinggalah Di Sini, Bersama Hatimu Sendiri


Untuk yang sedang merasakannya. Berapa kali kamu dikecewakan oleh sebuah kenyataan? Sesering apa kamu mengerti betul tentang beratnya bertahan? Tentang perjuangan mempertahankan sebuah kepercayaan? Mempercayai yang justru akhirnya menyakiti, berharap bahagia kepada yang telah membuatmu berairmata, mengubur segala mimpi pada yang sudah menaburkan benih-benih ekspektasi, mencari deskripsi lain tentangnya, yang telah terlanjur mengisi kekosongan di dalam jiwa, berusaha terlihat kuat disaat mereka dan seisi dunia sedang melemahkan hatimu.

Sakitkah? Sudah berapa lama kamu bertahan? Sudah berapa lama kamu menangisinya, yang sedikitpun tak pernah tahu keadaan hatimu? Sudah sesering apa hanya bisa melihat punggungnya pergi dan meninggalkanmu bersama luka di sini? Sudah sebanyak apa perban di hatimu yang kau sembunyikan? Bukankah hanya kamu yang paling tahu, bukankah selama ini menyimpannya takkan menghasilkan apa-apa selain rasa sakit yang kembali bertamu? Lalu untuk apa masih bertahan yang sedikitpun tak pernah menghargai keberadaan? Memang benar kita harus berdamai dengan kenyataan, tapi bukan dengan mempertaruhkan hatimu juga, kan? Selain menerima realita, mungkin kamu perlu membuka mata.

Kadang kamu harus pergi beberapa meter dari arena luka yang tercipta untuk tahu siapa yang perlu diperjuangkan dan yang perlu dilepaskan. Kadang kamu harus mencicipi sakit yang terasa pahit. Tapi jangan sampai hal-hal itu membuatmu lemah, jangan sampai membuat luka itu nyaman untuk tinggal. Jangan menunda agar mereka bebas menyakitimu lagi. Bukan salahmu, bukan salahnya, bukan salah siapa-siapa. Aku juga pernah begitu. Tapi setelah menyadari bahwa luka tak dapat diundang seizin diri kita sendiri, aku cepat-cepat mengusirnya pergi sejauh mungkin, sekeras mungkin yang aku bisa. Suatu hari, kamu akan menyadari bahwa ada orang lain yang bisa membahagiakanmu tanpa harus menciptakan luka di hatimu.

Suatu hari, kamu akan menertawai seluruh rangkai air mata ini. Karena suatu hari nanti kamu akan mendewasa, kamu akan bisa melihat segala sesuatunya lebih jelas. Tenang. Segala sesuatunya akan baik-baik saja. Segala sesuatunya sedang dikendalikan Semesta, jika kamu mengizinkan Semesta akan membantumu melewatinya. Hari-hari berat, malam-malam yang penuh dengan air mata, hati yang pelan-pelan meretak, waktu yang semakin keras berdetak, pasti akan mengajarimu sesuatu. Dan kamu akan menyadarinya suatu hari nanti. Percayalah, karena aku pernah merasakannya.

Biarkan Semesta yang menarikmu pada diam. Hingga tak ada yang perlu kamu lakukan selain menikmati hela nafasmu. Hingga tak perlu lagi kamu harus repot-repot mendengar kicau mereka di luar sana.

Biarkan Semesta yang menarikmu pada hening. Hingga tak ada yang bisa kamu lakukan selain mendengar gitar lagu romantis agar rasa pahit itu berubah menjadi manis.

Biarkan Semesta yang menarikmu pada tenang. Hingga kita bisa mengintip dunia dari bingkai jendela yang berbeda sambil menyeduh secangkir senyum dan tawa.

Di luar terlalu mengerikan untukmu. Mereka tak bisa membedakan antara ketulusan dan kepalsuan. Di luar terlalu penuh dengan ilusi untuk matamu. Mereka tak bisa membedakan siapa yang sedang peduli dan siapa yang sedang pergi. Di luar terlalu berisik untuk telingamu. Mereka tak bisa membedakan antara yang harus kau dengarkan dan yang harus kau tinggalkan. Jangan hidup di sana. Jangan bergumul terlalu lama di sana. Tak usah berlari tanpa arah di sana. Tak perlu ikut palsu di sana. Jalan kemari. Diam saja di sini. Tinggalah di sini, bersama hatimu sendiri.

Buya Hamka, The Forgotten Father


 


This book managed to draw attention even from the beginning, middle, and end. Wrong writing. Feel the atmosphere of the child's longing for his father while reading this book. Interested from the beginning of part one, namely when Buya Hamka figure every after ashar prayer often receive guests at his home, and questioned their household problems to Buya Hamka to get advice from him. First about the issue of a wife who wants to divorce from her husband who married again without her knowledge, and vent a wife who cant stand the treatment of her husband is cold.

The Little Hamka

In this book uses the author's perspective, calling Buya Hamka with my father's call, but reviewed on this blog has been composed by using a third point of view, so the name Buya Hamka is written.

When Buya Hamka was child, less affectionate because both parents have divorced, when he still needs the affection of both parents. Hamka grew to love reading books and studying. When he was 13-14 years old, he had read the thoughts of Djamaluddin Al Afghani and Muhammad Abduh from Arabia. From within the country, he also knew the thoughts of HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, H. Fachruddin, and others.

In July 1924, when he was 15 years old, Hamka asked permission from the Innyiak Doktor (Buya Hamka’s father) to leave for Java. On the way back to Padang Panjang established Muhammadiyah School. At that time requires a teacher. Many received, but because Hamka didn’t have a diploma Hamka eventually refused to become a teacher at the Muhammadiyah school, which his own father co-founded him.

Finally, Hamka determined to wander while looking for knowledge. His purpose is to go to Mecca. Before he was 18 years old, more than seven months Hamka settled in the city of Mecca. While in Mecca, Hamka used to speak Arabic, even with fellow Indonesians living there. Hamka is keen to unleash his Arabic skills.

Hamka felt a very bitter pain in Mecca. To meet the cost of living so as not to endure hunger, Hamka worked as a clerk in a printing press. In the repository there are dozens of religious books. On the sidelines of his work from morning to evening, Buya Hamka took his time off to read various religious books. Starting from the lessons of monotheism, philosophy, tasawwuf, sirah, and many others. (P. 236)


Buya Hamka and proximity to her son

Once when Irfan was cool to read when he had entered the Isha prayer, Irfan lied to his father because he said he had prayed when not yet. "There are three conditions that must be possessed by people who like to lie. First, the person must have a steel mentality, bold, firm, and not hesitate to lie. Do not be like you. Second, not forgetful of the lies he pronounces. Third, must prepare the ingredients of lying words to protect the first lie ..... One thing you should know. People who always lie, over time the liar can no longer distinguish between lies and the truth that he said. Finally people know that he is a lie, then given the title of the liar. "Dad ended his advice.

An unforgettable story as well as being carried by a train to Padang Panjang is written in this book, when Ummi and her brothers were worried because Irfan and Aliyah never met. Initially fraudulent because after buying sugar cane, it turns his train goes far. (P. 28-34)

Buya Hamka is also good at martial arts and irfan is eager to learn martial arts on her father. Later told what Buya Hamka teach like exchanging stance, can help him later as an adult. Then Irfan learned martial arts from Uncle, and Dad asked his uncle to train the moves of self-defense only.
"Father knows of my temper and temperament, so it's not good to lower martial arts to attack and fight." (P. 55)

Buya Hamka’s Habits

One of Dad's habits, he willn’t stop reading the Qur’an before he gets sleepy. He will continue to read it for 2-3 hours. Therefore, Daddy can spend 5-6 hours a day just to read the Qur'an.

Hajj to Baitullah

The most profound impression is also written Irfan when Father, Ummi and Irfan go to Hajj pilgrimage. The three got a special quota as a gift from Pd. President General Soeharto. Departing aboard the Mae Abeto ship on the boat provides a means of playing karambol, ping pong, chess, cinema, swimming pool that never has water, also provides a prayer place, a mosque located on the second floor and can accommodate 100 male and female pilgrims . Towards maghrib played Quran recitation followed by adzan.

Told also when the journey will return to Mecca, finally Buya Hamka and family to take the path through the land, because Ummi traumatized on the plane that started shaken and entered the empty air.

In the course of going through the desert, Irfan Hamka wrote a very memorable story because when traveling through the desert must find two extraordinary events. First chased by a powerful desert cyclone. At that time there was no other word than dhikr mention Allah, "... and in the car there is the voice of dhikr 'Allah, Allah' done many people. The voice echoed in the car. Hearing sounds of dhikr heard by many people while in the car only four of us. Truly a miracle from God "Umar Arab youth from Bogor who became driver Buya Hamka speak.

Secondly, it happened when Umar drove the car while he fell sound asleep. At that Irfan surprised to fall asleep and immediately woke up by channeling the contents into the palm oil palina PPO brand. Umar instantly stepped on the brakes of cars that were doing with the speed of 120 miles per hour. The car does not stop immediately. Glides on fast, zigzags, and spins. The new car stops when the two right wheels get into the sand. Irfan feared that the car was not spinning, immediately tumbled, when Umar braked suddenly.

Learn from Ummi, Buya Hamka's wife

The story of Ummi's kindness, Buya Hamka's wife is written in this book. How patient and soul of his help to others. Father was once offered the rank of Major General Tituler by the Government through General Nasution. But Ummi rejects it, and advises that Buya Hamka to remain in Al Azhar Grand Mosque - more honorable before God, Kak Azizah's story mimics what Ummi suggested to Dad.

In addition, Buya Hamka has also been offered by the Minister of Religious Affairs, Prof. Dr. Mukti Ali became ambassador and full-powered in Saudi Arabia. But the simple and wise Ummi gave another view. "Angku Haji, the people are starting to bloom now. Dakwah increasingly vibrant it all starts from Angku Haji. In this mosque, what Angku Haji bina has radiated and loved people. Will all these new ones be left out and replaced with activities as ambassadors? As ambassador, almost every night Angku Haji should attend a banquet held by the ambassadors residing in Arabia. Then when is the time available for Angku Haji to study the Quran that has never been abandoned since childhood? When is the time to read and add to science? When is the time to run the science that Angku Haji gets from reading it? "Ummi conveyed his gaze to Dad.

Hearing the sight of his faithful friend, he sincerely and heartily accepted it. Even when Buya Hamka was arrested, Ummi became a strong man, and did not want to get the mercy of people. Ummi had come to the publisher's house to ask if there were any unpaid honorariums left yet Ummi asked, the publisher's owner said that, "Ummi, we got the accident, Buya's newly printed books were confiscated. Even above the printing press is also transported. Where we got the money. I hurry now. Ummi, this is alms money from me to buy rice."

Ummi who has self-esteem does not want to accept the gift, because the intention of his heart is to take the remaining honorarium. Along the way with Irfan Hamka, Ummi is like wiping her tears. Unexpectedly, there was a visitor to the house, giving money because his property was sold, and had promised a part for Buya. There is also zakat money, originally Ummi insisted on refusing the charity, but after several times explained with reasonable argumentation and understanding of religion that Ummi hold fast, finally Ummi can accept it.

Buya Hamka’s Resolute Attitude

When the MUI issued a fatwa forbidden its law for Muslims following the Christmas celebration together, the government objected to the fatwa. As opposed to the government, Father then took a firm stance, declaring his resignation from his position as Chairman of the Central MUI.

"We as scholars have sold ourselves to God alone. Scholars who have sold themselves to God, can not be sold to any party, "said Father firmly.

Sukarno said, "I want to die soon, Hamka willing to lead my prayer."

Moh. Yamin said, "When I die, please Hamka is willing to accompany me in the last moments of my life and take my body to my hometown of Talawi."

Pramoedya Ananta Toer, "I am more confident to send my future son-in-law to Islamization and religious study to Hamka, even though we are politically different."

Buya Hamka's works are lifted to the big screen like Under the Shade of the Ka'bah, and the Drowning of the Van der Wijck Ship. His most phenomenal work is Tafsir Al Quran 30 juz which he wrote in prison, called Tafsir Al Azhar.

Learn from Buya Hamka

"When I die, ask Hamka to be my imam."

The thrilling message came from Soekarno's speech, the first President of the Republic of Indonesia some time before his death. When the message was delivered to Hamka on June 16, 1970 when the President had turned a blind eye, Hamka thoughtlessly instantly came to meet expectations. Yet at that time everyone knew that in the period 1964-1966 Hamka was imprisoned on the orders of Sukarno for being accused of violating the Anti-Subversive Act of Pempres no. 11 of planning the killing of Sukarno. Indictments that never proved true. Hamka is even grateful that in prison he can complete a masterpiece that will always be remembered: Tafsir Al Qur'an 30 Juz which is named Tafsir Al Azhar.

Greatness of the figure of the full name of H. Abdul Malik Karim Abdullah is familiarly called Buya Hamka is really worthy of praise. To those who hurt him he did not hold a grudge. In addition to Soekarno, writer Pramoedya Ananta Toer had also been opposite to Hamka. Beginning in 1963, Buya Hamka got slander from two daily newspapers of the capital: Harian Rakyat and Harian Bintang Timur through an art-cultural space entitled Lantern led by Pramoedya Ananta Toer. Two communist-style newspapers accused Hamka of plagiarizing Alvonso Care's French poet for his novel "The Drowning of the Van der Wijck Ship". This attack is continuously carried out due to Buya Hamka's opposite attitude to the PKI. Months of being badly dubbed in the newspapers - which resulted in his life and the family's mess - did not make Buya Hamka hate. He remained calm as if nothing had happened. Sincerity he proved through his willingness to guide a man named Daniel Setiawan when will learn Islam to marry named Astuti, who is none other than Pramoedya Ananta Toer sons.

The story of a wisdom-filled life is retold by one of his sons named Irfan Hamka. About the steadfastness of heart and faith, which is not wavered by circumstances. Even Buya Hamka did not hesitate to leave the position when his aunt tried to be weakened. In 1981 when the Indonesian Ulama Council, which was chaired by Buya Hamka, issued a fatwa for the Muslims to join the Christmas celebrations together, the government who objected to the MUI lifted the fatwa. Buya Hamka refused and declared his resignation from the position of Chairman of Central MUI on May 21, 1981. (About chronology of the resignation of Buya Hamka is not told in detail by the author of the book.)

Reading the biography of a great man who once owned this republic through the direct narrative of Irfan Hamka - who often accompanied his father on many occasions - I captured an intimate impression. Feeling familiar as if I was witnessing my own way of life Buya Hamka a winding.

The book begins with a preface by Taufik Ismail and ends by lines of Ratih Sang's poetry. Since this is a kind of biography of a character, I have no right to judge its contents. My most critical criticisms are typing errors. This book are worth it. Many pearls of wisdom in it.


Source :
Tittle : Ayah... Kisah Buya Hamka masa muda, dewasa, menjadi ulama, sastrawan, politisi, kepala rumah tangga, sampai ajal menjemputnya.

Writter : Irfan Hamka

Release : 2, Juli 2013

Publisher : Republika Penerbit

Page : 324 page

ISBN : 978-602-8997-71-3


Gadis Pemilik Senja


Tak selamanya kau tahu bahwa aku selalu ada. Tak selamanya kau tahu bahwa aku adalah nyata. Aku yang terbiasa bersembunyi, aku yang terbiasa menunggu. Bersembunyi di balik daun yang gugur di depan rumahmu. Menunggu di balik batu yang diam di halaman kecilmu. Hanya bisa menatap semuanya dari sini. Hanya bisa berbicara dengan bayanganku sendiri. Disini. Disudut yang tak pernah kamu cari. Di sini. Di sudut yang tak pernah kamu sadari.

Sepertinya angin baru saja datang, mengutuk jarak kecil yang semesta bangun di antara kita. Sepertinya angin harus kembali pulang, membelai helai demi helai rambutmu adalah tugasnya. Biar kubisikan sesuatu padanya. Pada angin yang akan pergi. Biar dia sampaikan sesuatu padamu. Pada hati yang masih terkunci. Lewat kata dalam bungkamnya tanganku yang tak bisa bicara.

Aku masih di sini, namun tak pernah sendiri. Masih ada dia, menemaniku berdiri tegak menantimu dan terkadang membiarkanku bersandar di salah satu sudut tubuhnya ketika lelah mulai hadir menyapa. Senjamu. Ya, dialah senjamu. Bias warna yang cantik dan sederhana di sudut langit kotamu. Apa kau juga bisa melihatnya? Jika seperti itu, bukankah kita sedang menikmati senja dari pusat yang sama namun hanya tempat kita saja yang berbeda? Aku harap begitu. Karena aku harap hanya raga ini yang terpisahkan oleh semesta, tidak dengan hati kita.

Dan hari ini aku masih ada di sini, tak sabar menunggu dia menghampiri. Hanya sekadar untuk tersenyum ketika melihatnya, ataupun berbagi kisahku menunggumu sepanjang hari ini. Aku menemukan semangat baru, sejak aku bertemu dengan senjamu. Senja selalu membuatku tersenyum dan terpesona pada tingkahnya. Dia selalu mengajariku untuk membuka mata. Dia mengajariku untuk mencari keagungan-Nya. Dia mengajariku untuk menikmati indah karunia-Nya. Seperti kamu. Seperti warna senyummu.

Tapi ada kalanya malam memisahkanku dengan senjamu, membuat jarak yang tak bisa kukuak. Dan, gelap kembali datang. Meluruhkan asa juga rinduku yang perlahan merangkak hilang. Sering aku merutuki atas ketidakberdayaanku. Ingin rasanya aku menemaninya bermain lebih lama di atas sana, di langitmu. Tak adil. Pikirku. Sementara semesta membiarkan bulan dan bintang bermain dan bercengkrama lebih lama di atas sana, ia hanya memberikan waktu yang singkat untuk senja kita. Terlalu singkat untuk bias warna indah yang menentramkan. Sebelum semesta mengusirnya dengan paksa, menggantinya dengan bias warna hitam yang menyesakkan. Kejam.

Mari kita nikmati senja ini sebelum berakhir menjadi yang terakhir. Duduk di pelataran sambil mengagumi senja dari titik koordinat yang berbeda. Aku harap senja kita memancarkan warna yang sama, sederhana dan sempurna. Harusnya kubisikkan pada angin yang menerpa, daun-daun yang berterbangan, dan burung-burung yang melintas agar semesta tahu bahwa aku ingin menikmati senja bersamamu di koordinat yang sama. Bahwa aku mencintai senja kita. Bahwa aku mencintaimu, gadis pemilik senja.

Di Ujung Dermaga

Taken by Vincent Siregar

“Pertemuan kita berawal dari sebuah keadaan yang tak direncanakan. Jika kau tak memutuskan untuk pergi menemuiku, akankah kita seperti saat ini? Sejak percakapan singkat dan segelas kopi tengah malam itu, aku tahu, kelak kau akan menjadi bagian dari hidupku meski aku belum yakin peran apa yang akan kau mainkan.”

Aku bukan tipikal orang yang suka mempertontonkan tulisanku. Namun kali ini, perasaanku begitu meluap hingga tak cukup untuk kubagi dan kutuang ke segelas cangkir saja. Aku butuh cangkir lain, cangkir yang lebih besar. Cangkir yang mampu menampung lebih, agar dapat kutuang kembali perasaan yang makin meluap itu dan kusimpan baik-baik. Maka kutuliskan semua hal ini. Untuk dirimu, sosok yang mampu mengubur seluruh masalalu dari pikiranku hanya dengan secarik senyum.

Begitulah kamu. Mungkin terdengar seperti gombalan bagi sebagian orang, sebab kata-kata sulit untuk dipercaya orang kebanyakan. Mereka terlalu takut untuk mempercayai kata-kata sebab memang kata-kata adalah jurang maut; bila yang mengucapkannya tak memiliki perasaan sesuai dengan yang terlontar dari bibirnya, dan sialnya, yang menerima mempercayainya mentah-mentah.

Aku takut. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa kita demikian. Sebab aku adalah salah satu dari orang-orang yang mudah mempercayai kata-kata dan pernah menyesal karenanya. Itulah mengapa aku menahan diri untuk mempercayai kata-katamu, dan lebih memilih untuk mempercayai senyum yang terukir di wajahmu.

Bila kau memang berkata jujur, kau telah menetapkan haluan kapalmu pada sebuah dermaga sederhana yang tersusun dari kayu-kayu rapuh, yang bahkan terlihat tak sanggup untuk ditapaki. Begitu banyak lubang, begitu banyak keraguan tersirat di sela-sela serat basahnya. Akankah kau tetap melangkah maju, atau memutar haluan kapalmu menuju dermaga lainnya?

Bila kau memutuskan tetap berlabuh, kutunggu kau di ujung dermaga. Kusambut dirimu dengan tangan terbuka untuk kemudian mendekapmu erat dan membawamu pulang. Untukmu kunyalakan perapian, kusiapkan sehelai selimut dan bantal, kusajikan segelas coklat panas, dan setelah berbincang singkat, akan kuusap kepalamu hingga kau terlelap. Kupandangi wajahmu sejenak sebelum mengecup lembut keningmu, kemudian beranjak, membiarkanmu makin tenggelam dalam mimpi tentang perjalananmu esok pagi.

Aku takkan memaksamu untuk menetap esok hari, atau hari berikutnya, atau hari berikutnya lagi. Sebab aku akan tetap menjadi bandar bagi tiap perjalanan panjangmu – atau mungkin tidak. Beberapa kali mungkin aku akan memintamu untuk tinggal, sembari berharap kau lebih memilih untuk menyertakanku dalam pelayaranmu selanjutnya. Membawaku melihat dunia yang kau lihat, menghirup udara yang kau hirup, bermimpi yang kau angankan.

Mungkin kita akan menemukan sebuah tempat yang indah di sebuah negeri yang kita temukan bersama. Mungkin juga kita akan menghadapi badai besar dan terdampar di sebuah pulau yang bahkan tak kita ketahui namanya. Tak mengapa bagiku, asal bersamamu. Apa kau juga merasa demikian?

Sebab aku akan mencintaimu dengan sederhana. Aku ‘kan tertawa di tiap kebahagiaan, dan menangis di tiap derita. Aku ‘kan selalu bersedia mendekapmu yang kepadaku mendekap. Dan meski kau memilih untuk memutar haluan, aku akan tetap menunggu bayangan kembalinya kapalmu, di ujung dermaga itu. (@nakhasyifa)

Menapaki Atap Sumatera

Perjalanan menuju Gerbang Rimba, melewati hamparan kebun teh yang begitu indah ©Vincent Siregar

“Aku tak tahu apa lagi yang akan kulalui di depan. Jalur setapak yang kulewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Jaket tebal anti-airku yang telah dilapisi tiga lapis baju berbahan polar di dalamnya tak sanggup lagi membendung dingin yang semakin menusuk hingga rusuk. Pun demikian dengan tas ransel yang berisi perbekalan selama perjalanan menuju puncak yang kupanggul terasa layaknya memanggul batu. Langkah kakiku semakin layu karena sepatu yang sudah terlapisi lumpur. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "Brak!", longsoran batu yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang kulewati. Sekarang aku berteman dengan maut, hanya tekad dan doa yang mampu menguatkanku.”
Ini adalah sebuah catatan perjalananku, saat aku merasa maut hanya berjarak beberapa depa dari tempat aku berjalan merangkak, hari yang paling menakutkan selama aku terlahir di dunia. Akankah nafasku berakhir beberapa jam saja sebelum matahari terbit? Di tempat ini, jalan menuju puncak Gunung Kerinci, titik gunung api tertinggi di Indonesia, aku sadar bahwa hanya tekad, semangat, motivasi, dan kepercayaan terhadap diri sendiri serta Sang Pencipta yang mampu memupuskan ketakutan untuk menggapai impian dan sesuatu yang kita percayai bahwa kita bisa melakukannya.

Aku bukan pendaki profesional, bukan pula anggota dari kelompok pecinta alam, juga tak lahir dari keluarga berlimpah materi. Aku hanya pemuda yang lahir di sebuah desa kecil di pedalaman Pesawaran, Lampung, namun dibesarkan di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Menginjak kaki di perguruan tinggi, aku semakin senang membaca kisah-kisah petualangan. Meskipun fisikku tak begitu bagus untuk menjadi petualang seperti Edmund Hillary ataupun Colombus, namun tak ada salahnya membaca kisah-kisah mereka.

Aku menyukai kisah-kisah petualangan yang ditulis oleh Norman Edwin dan juga Soe Hok Gie. Meskipun keduanya bernasib sama, menghembuskan nafas terakhir di puncak gunung, setidaknya dari kisah mereka aku percaya bahwa orang-orang baik dan jatuh cinta akan gunung berpulang di tempat yang dicintainya pula. Gunung adalah salah satu tempat paling baik di muka bumi, beberapa kelompok masyarakat dan kepercayaan di berbagai penjuru dunia mengkultuskan gunung sebagai tempat suci. Lihatlah Gunung Kailash setinggi 6.638, tempat suci empat agama. Pemeluk Buddha Tibet menyebutnya Kang Ripnpoche, Permata yang Mulia. Tapi di gunung ini, tempat petir dan maut berjarak hanya beberapa depa, aku tak berharap nasibku sama seperti Soe Hok Gie ataupun Norman Edwin. 

***


Hamparan kebun teh menjadi sajian utama saat kukeluar dari base camp pagi itu. Tadi malam setelah menempuh perjalanan panjang dari Bandarlampung, aku bersama seorang sahabat terbaikku dalam hal mendaki gunung, Vincentius C. Siregar, tiba di Desa Kersik Tuo. Desa kecil ini ibarat nirwana, yang kurang hanya aliran sungai. Namun tanpa sungaipun aku tetap merasa kedamaian yang nyata, apa yang surga janjikan kepada umat manusia.
Begini, tempatku menginap yaitu Base camp Jejak  terletak di tepi jalan lintas Padang-Sungai Penuh. Beberapa pendaki dari dalam ataupun luar negeri biasanya menginap disini sebelum memulai pendakian. Base camp ini dimiliki oleh warga Kersik Tuo yang membuka rumahnya secara sukarela untuk diinapi oleh para pendaki. Untuk mendaki Gunung Kerinci, beberapa pendaki lebih memilih untuk masuk dari Padang dibanding Jambi, alasannya karena jalur yang lebih pendek, pemandangan nan menawan, dan juga langsung tiba di desa terakhir sebelum pintu pendakian ke Gunung Kerinci. Di seberang penginapanku, hamparan kebun teh yang sungguh sangat luas terhampar bak permadani. Aku berjalan menuju sebuah pintu yang sejauh mata memandang terlihat hanya hamparan kebun teh dengan latar Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter menyangga langit. 

Kabut yang menyeruak dari kejauhan. © Vincent Siregar

Kabut pagi menyeruak saat sinar matahari menghangatkan Kersik Tuo yang terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Desa ini berhawa sejuk, atau lebih tepatnya dingin bagi aku yang terbiasa hidup di suhu 33' celcius setiap harinya. Aktivitas warga desa belum berjalan seutuhnya meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Mayoritas warga desa ini hidup sebagai petani dan juga pekerja di perkebunan teh yang dimiliki oleh PTP Nusantara VI. Lahan kebun teh di Kersik Tuo yang jadi bagian dari Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki luas 2.500 hektare dan menghasilkan daun teh berkualitas juara sejak zaman Belanda masih menduduki Indonesia. Teh terbaik yang dihasilkan dikirim ke Belanda untuk diseduh sebagai minuman sang Ratu Belanda. Perkebunan teh tua ini merupakan perkebunan teh terluas di dunia dalam satu hamparan. 

Memenuhi impian dan janjiku untuk melanjutkan Seven Summit of Indonesia, dengan mendaki gunung api tertinggi di Indonesia, menjadi motivasiku menginjakkan kaki di Kersik Tuo ini. Meskipun tak berpengalaman dalam mendaki gunung di atas ketinggian 3.800 meter, namun melihat Kerinci saat perjumpaan kami pertama kali telah menautkan batinku dengan gunung ini. Kepundannya yang rusak akibat letusan membangkitkan mimpi-mimpiku sebagai anak muda untuk berlutut di puncaknya. Tapi apa mungkin dengan fisikku yang tak perkasa ini dapat mendakinya? Setidaknya, motivasi ini semakin kuat saat aku berjanji untuk bisa melakukannya. Aku orang yang tak suka perayaan, tapi genap dua tahun lalu setelah perjalanan hebat yang tak terlupakan, aku bulatkan tekad untuk mendekatkan diri dengan alam, ibu dari segala kehidupan. Juga Vincent, teman pendakianku ke berbagai gunung di Lampung. Kami sama-sama berjanji untuk mendakinya untuk merayakan apa yang kami yakini sebagai titik terbaik untuk merencakan kehidupan masa depan.


***


Hari pertama pendakian ke Gunung Kerinci, pukul lima subuh, senandung burung membangunkan. Udara sejuk menyambut wajahku saat keluar dari penginapan menyusuri jalan aspal menuju pintu rimba, penuh dengan oksigen nan segar saat menghirup udara pagi. Pagi ini bukan hanya aku dan Vincent yang akan menapaki setiap jengkal jalur pendakian Kerinci, namun kami bertemu juga dengan 4 orang rombongan dari Kota Padang.

Hari ini target kami adalah tiba di Shelter 3, tempat yang kami rencanakan untuk mendirikan tenda dan bermalam sebelum menuju puncak Gunung Kerinci. Bagi para pendaki, selain Shelter 2 untuk mendirikan tenda, Shelter 3 menjadi salah satu tempat yang sering dijadikan titik berkemah sebelum mendaki menuju puncak Gunung Kerinci. Tepat pukul delapan pagi kami sampai di gerbang rimba, kami sarapan setelah itu berdoa dan meminta izin kepada Penguasa alam semesta agar dilindungi dalam pendakian ini. 

Seporsi sarapan yang disponsori oleh makanan cepat saji restoran asing. © Vincent Siregar

Kami sekarang meninggalkan ketinggian 1.692 meter, Pos Pintu Rimba. Dari Pintu Rimba, jalan setapak berpayung pepohonan nan rimbun kami lalui dengan nyaman. Jalan landai dengan kontur tanah lembab menemani perjalanan menuju Pos I. Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki baik domestik maupun mancanegara.

Taman Nasional seluas 1.386.000 hektar ini adalah rumah bagi 4.000 spesies tumbuhan, termasuk Bunga Rafflesia Arnoldi dan Titan Arum. Disini hidup pula Harimau Sumatera yang populasinya kian terancam, Badak Sumatra, Gajah, Macan Dahan, Tapir Melayu, Siamang, Beruang Madu, dan sekitar 370 spesies burung berbulu indah dan bersuara merdu. Bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kerinci Seblat dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Aku merasa beruntung sedang berusaha mewujudkan impian dan anganku menjelajah tempat ini. Perjalanan kami terhenti di Pos II Batu Lumut, kami beristirahat sejenak. Aku memanfaatkan waktu untuk merebahkan tubuh sejenak meskipun aku tahu bahwa pos ini menjadi tempat perlintasan Harimau Sumatera yang semaki sulit saja ditemui karena habitat hidupnya yag semakin berkurang. 
Dari Pos II menuju Pos III, jalanan mulai menanjak. Perjalanan menuju Pos III ini kami tempuh dalam waktu satu jam. Aku mulai terengah-engah memanggul barang bawaan dalam pendakian kali ini. Begitupun dengan Vincent yang berbadan gempal sambil mengalungkan kameranya. Kami berjarak satu sama lain.

Setelah menghadapi trek pendakian yang lumayan menguras tenaga sampailah di Pos III, di tempat ini sebuah pondok sederhana biasa digunakan para pendaki untuk beristirahat. Terdapat pula sumber air yang ditempuh hanya kurang dari 5 menit. Setelah beristirahat selama beberapa menit kami melanjutkan perjalanan ke Shelter I dengan ketinggian 2.512 meter. Tanjakan demi tanjakan tanpa bonus mendatar menjadi sajian utama untuk kami lewati. Pegal di pundak pun lutut semakin terasa.

Sumber air di Pos III yang didominasi oleh permukaan cadas. © Vincent Siregar

Dari Pos III menuju Shelter 1, perjalanan kami tempuh sekitar satu setengah jam. Setibanya di Shelter 1, kami langsung beristirahat. Waktu istirahat di Shelter 1 ini agak lama karena kami tahu bahwa jalur pendakian dari Shelter 1 ini sangat menguras tenaga.

Dari Shelter 1, kami berusaha memacu langkah dengan cepat. Trek pendakian yang sangat menguras tenaga tersaji di depan mata. Pohon-pohon yang sudah lama tumbang diwarnai dengan kontur tanah berlumpur kami lahap satu persatu. Dalam perjalanan, gerimis sudah mulai berganti dengan butiran hujan. Hujan turun semakin beringas. Butiran-butiran sebesar kelereng terasa sakit saat mengenai tubuhku yang mulai lemas. Aku tetap berjalan mengikuti jalanaan setapak di tengah hujan yang lebat. Tujuanku hanya satu, terus melewati jalur setapak dan tetap bergerak. Jika berdiam diri, aku takut gejala dingin menyerang tubuh. Ini sangat berbahaya saat pendakian jika aku mengalami hipotermia. 

Medan yang berat tersaji di depan mata, menjadi warna dalam sebuah pendakian. © Vincent Siregar

Aku tak tahu apa lagi yang akan kulalui di depan. Jalur setapak yang kulewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Jaket semi-waterproof yang kugunakan tak sanggup membendung air yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun tas ransel berukuran 60 liter berisi beragam macam peralatan pendakian kupanggul dengan rasa berat seperti memanggul batu. Langkah kakiku semakin layu karena sepatu yang penuh air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang kulewati.

Semangatku tetap menggebu namun terbatasi oleh tubuhku yang bergetar. Langkah kaki yang terus melangkah di antara deru hujan yang terasa mencekam saat aku melewati hutan yang semakin suram ini hanya berdua. Petir saling bersahutan dan letupannya hanya berjarak beberapa meter saja dari jalur yang kulewati.

Aku yakin ini pula yang dirasakan para pendaki dan sherpa di Everest saat mendengar avalans bergemuruh menimpa mereka. Bunyinya yang laksana letusan bom atom telah membuat bulu kuduk merinding. Setidaknya aku dan pendaki-pendaki lainnya pernah merasakan takut, mencekam, dan 'gila'-nya kita tau hanya dua kemungkinan yang sedang akan terjadi dalam hidup kita saat pendakian gunung: hidup atau mati.

Aku tetap melahap tanjakan demi tanjakan meskipun dalam hujan. Hampir setengah jam perjalanan dirundung hujan lebat, aku dan Vincent memutuskan untuk mendirikan tenda di sebuah tanah yang lumayan lapang berjarak sekitar setengah jam dari shelter tujuan kami selanjutnya, Shelter 2. Dengan tubuh yang menggigil, jari-jari tangan yang sudah mulai kaku, dan sekujur tubuh basah, kami mendirikan tenda berkapasitas 3 orang di tengah hujan deras. Meskipun keadaan ini krusial, namun kami tetap melakukannya dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Setelah tenda berdiri tegak, kami masuk dan langsung berganti pakaian.

Dalam gelisah, aku menitipkan doa pada Sang Pemilik Semesta agar hujan segera reda dan kami dapat melanjutkan perjalanan lagi. Meski kutahu, bahwa semua ini di luar dugaan. Manusia hanya dapat berencana, Tuhanlah yang berhak menentukan.

Pelangi yang menampakkan keindahannya setelah hujan berlalu di Shelter 2 Bayangan. © Vincent Siregar
Hari sudah mulai gelap, hujan deras berganti menjadi gerimis. Kami memutuskan untuk mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuan kami bukan Shelter 3, kami memutuskan untuk melanjutkan hanya menuju Shelter 2, tidak sesuai dengan rencana pendakian. Kami mengambil keputusan tersebut karena memikirkan segala resiko yang akan terjadi jika tetap melanjutkan perjalanan menuju Shelter 3 yang trek pendakiannya sangat menguji kesabaran dan daya tahan tubuh. Di samping itu, keuntungan akan kami dapatkan ketika turun dari Summit Attack keesokan harinya. Kami tidak perlu repot-repot membawa ransel yang cukup besar di tengah medan yang sangat berat.

Setelah setengah jam aku melanjutkan perjalanan melalui jalur pendakian yang bentuknya lebih tepat disebut sungai, aku tiba di Shelter 2 dalam kondisi kedinginan. Pun begitu dengan Vincent. Langsung kami mendirikan tenda di lokasi yang tersedia. Kebetulan memang malam itu sudah banyak tenda pendaki mengisi setiap lapak yang tersedia.

Kami beristirahat sembari membuat kopi hangat. Malam semakin gelap dan kabut semakin pekat saja menutup pemandangan. Perlahan-lahan menutupi lembah di sisi kiri Shelter 2. Jarak pandang semakin pendek saja.  Kami merasakan dingin mulai menusuk tulang. Semua pakaian yang kami bawa pun sudah basah karena embun. Awalnya kami kira akan baik-baik saja ternyata semakin membuat badan kami menggigil. Aku mengganti pakaian, pun begitu dengan Vincent. "Dingin banget! Kaya di Liwa" ujarku pada Vincent, lelaki yang sudah terbiasa tinggal di daerah dingin seperti yang kusebut.

Potret senja yang berhasil ditangkap di sisi kiri tempat kami mendirikan tenda. © Vincent Siregar
Seperti halnya pendakian sebelumnya, aku merasa tenang karena Vincent adalah orang yang terampil perihal memasak di alam tebuka. Ia selalu bisa diandalkan dalam urusan perut. Jadi, aku hanya duduk tenang memandangi kaleng berisi ikan itu dipanaskan, ya, itu sarden. Menurutku itu sudah terlalu mewah dalam takaran sebuah pendakian, terlebih tadi pagi pun kami sarapan dengan makanan yang tidak kuduga sampai dibawa ke pendakian. Itu adalah sepaket ayam panas khas restoran cepat saji dari Amerika Serikat, Mc Donald’s. Aku tertawa terbelangak mengingat sarapan tadi pagi, seumur pendakian baru kali itu ada yang membawa makanan sekelas McD ke jalur pendakian. Itu berkat sahabat kami dari Padang, yang setiap hari memang bergelut dengan ayam goreng renyah, burger, dan Mc Flurry milik Mc Donald’s.

Kurasa makanan malam ini terlalu berlebihan dan perutku tidak mampu lagi menampung, alhasil masih tersisa banyak makanan yang belum termakan. Yang dibutuhkan saat ini bukan makan, namun tidur untuk kembali mengisi energi yang telah terkuras habis oleh medan pendakian. Makan malam ditutup dengan segelas coklat panas. Aku sudah melapisi tubuh, menutupi kaki, telinga dan menyelinap dalam sleeping bag. Aku siap bertempur melawan dingin untuk terlelap. Semoga dapat terbangun dalam keadaan bugar di pukul dua dini hari nanti.

Malam ini berbeda dari biasanya. Tak ada kasur yang nyaman, hanya ada matras kusam sebagai alas tidur. Sebelum tidur, tentu banyak harapan dan doa kuucapkan dalam hati. Kadang di gunung kita bisa menjadi sangat melankolis. Aku tak tahu apa pendaki-pendaki lain juga mengalami hal demikian. Aku terlelap tanpa melihat jarum jam. 

***

Alunan dering pengingat berdering keras di ponselku, pertanda bahwa pukul dua dini hari sudah tiba. Nampaknya begitu cepat waktu beralun, kurasa baru lima menit yang lalu terlelap. Sesuai rencana, kami berkemas menyiapkan perbekalan untuk melakukan Summit Attack ke ketinggian 3805 mdpl. Kami melanjutkan perjalanan Summit Attack dari Shelter 2 menuju Shelter 3, sesuai dengan kesepakatan kemarin setelah hujan. Perjalanan paling sengsara adalah dari Shelter 2 menuju Shelter 3. Jalur yang berupa celah parit sangat sempit membuat ransel kecilku beberapa kali tersangkut. Beberapa kali pula aku memanjat parit karena tidak muat untuk dilewati.

Perjalanan menuju Shelter 3, medan semakin berat ditambah dingin yang begitu menusuk. © Vincent Siregar

Tanah yang licin setelah hujan juga menjadi kendala saat melewati jalur ini. Pada ketinggian ini, vegetasi Gunung Kerinci berupa pohon-pohon yang mayoritas ditemukan pada gunung lain di Sumatra dan Indonesia pada umumnya. Namun ada hal yang menarik di sepanjang jalur pendakian menuju Shelter 3 ini. Pohon di sepanjang jalur menutup langit-langit seperti layaknya sebuah terowongan di negeri dongeng.

Kami tiba di Shelter 3 lebih cepat dari perkiraan. Gerak kami diburu oleh fajar yang segera tiba.

"Untungnya masih ada barengan ke Puncak," ujar Vincent.

"Istirahat sebentar, habis itu lanjut jalan ke Puncak," timpalku sambil duduk memegang botol air minum. 

Kami bergegas dalam kedinginan yang sangat. Perjalanan dini hari yang hanya dilakukan berdua dari Shelter 2 menuju Shelter 3 menyisakan rasa dingin pada tubuh yang belum juga menghangat. "Grrr...rrr...rrr," suara gemetar dari mulut sembari tubuh digoyangkan, juga tangan yang diusap-usap menjadi aktivitas yang menyelingi kegiatan Summit Attack.

Sungguh, aku merasa sangat kedinginan kali ini. Dilapisi baju 2 lapis, jaket tebal, dan celana 2 lapis tak mampu menghalangi dingin yang kuderita. Dinginnya sudah menusuk ke tulang. Jemariku merasa nyaris tak dapat bergerak.

Jaket dan sarung tanganku cukup membantu kembali menghangatkan tubuhku yang sudah lemah. Ini pagi yang akan kuingat. Pagi diketinggian 3.320 meter sungguh jauh berbeda dengan pagi-pagi yang kulalui di kotaku.

Pagi menjadi saat mengharukan. Mimpi adalah salah satu senjata terkuat untuk meyakinkan diri kita bahwa kita mampu untuk berbuat, bermanfaat, dan menginspirasi lingkungan-lingkungan terdekat. Dari pendakian ini, banyak pelajaran yang kudapat. Aku percaya bahwa upaya mewujudkan impian dan cita-cita itu lebih indah dan nikmat dibanding impian dan cita-cita itu sendiri. Aku sangat percaya bahwa proses itu lebih penting dari hasil akhir. Setidaknya upaya-upaya yang kulakukan baik sebelum dan saat pendakian adalah kisah kecil namun memberikan semangat dan pelajaran yang besar bagi diriku sendiri. Kita kadang harus yakin dan mem-push diri kita untuk menggapai impian tersebut. Walaupun di mata orang impianku memang sederhana, menapaki atap sumatera. Namun tak ada ukuran besar atau kecil sebuah mimpi, yang ada adalah seberapa keras usaha kita mewujudkannya. Mungkin ini pula yang dilakukan oleh orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun jatuh beribu-ribu kali dalam usahanya, namun kata menyerah bukanlah akhir dari semuanya. 

Sekarang aku sudah lewat setengah perjalanan untuk mewujudkan impian pendakian. Pagi tiba dengan sangat cepat, berbanding terbalik dengan langkahku menuju puncak Gunung Kerinci. Terlalu berat mendaki dalam suasana yang teramat dingin seperti ini. Gelap ini hanya berteman dengan sinar senter yang menerangi ayun langkahku menapaki tanah menanjak yang berbatu ini. Sudah terlalu lambat untuk menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci sebelum matahari terbit. 

Punggungan bukit menuju ke Tugu Yudha. © Vincent Siregar

Di tengah perjalanan, semburat matahari telah memunculkan sinarnya. Rona biru yang merekah telah membelah Gunung Tujuh di seberang Gunung Kerinci. Kabutnya tak habis memayungi pegunungan Bukit Barisan. Sungguh, pagi yang tak pernah kulupakan melihat sepenggal nirwana di dunia. Aduhai, inikah sepotong surga yang kerap dibicarakan itu? 

Langkah kakiku semakin layu karena sepatu yang sudah terlapisi lumpur. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "Brak!", longsoran batu yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang kulewati. Sekarang aku berteman dengan maut, hanya tekad dan doa yang mampu menguatkanku. Juga dorongan semangat dari sahabatku yang tak pernah berhenti memacuku untuk dapat kembali berdiri tegak, menyusuri jalan yang bertepikan jurang ini, dan menggapai puncak yang terlihat masih begitu jauh. Aku terus berjalan merangkak di jalur yang menanjak curam. Untuk sekali tanah yang lembab membuat langkahku cukup mudah.

Aku tiba di Tugu Yudha saat hari sudah mulai terang. Tugu ini terletak di ketinggian 3.685 meter yang dibuat untuk mengenang pendaki yang hilang di Gunung Kerinci. "Hingga sekarang, Yudha tak pernah kembali. Yudha begitu mencintai alam ini, sehingga alampun mencintainya dan enggan membiarkannya pulang” sebuah kata yang selalu kuingat dari beberapa artikel yang kubaca sebelum melakukan pendakian ini.

Di Tugu Yudha aku bertemu seseorang yang biasa disapa Pak De. Ia adalah pemandu pendakian dari Base Camp Jejak Kerinci. Olehnya aku ditunjukkan jalan untuk meminum air yang berada di sekitar Tugu Yudha karena air minum yang kami bawa habis.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan ke puncak. Kita jadi rombongan terakhir," ujar Vincent sambil menunjuk ke arah puncak. Dari Tugu Yuddha, satu tanjakan vertikal lagi harus diselesaikan. Terang begini, jalur sudah terlihat jelas, membuat kita semakin berat melangkahkan kaki.

"Ayolah! Aku pasti bisa," semangatku dalam hati. 
Beberapa meter lagi menuju ke Puncak Indrapura. © Vincent Siregar
Masa-masa yang kunantikan pun tiba. Puncak Gunung Kerinci hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempatku berdiri. Aku semakin bersemangat untuk menggapainya, melangkahkan kakiku lebih cepat untuk mengejar impianku yang hanya berjarak beberapa meter lagi.

Seluruh tubuhku gemetar, rasa haru meliputiku ketika aku melihat dengan jelas sebuah plat besi bertuliskan “TOP KERINCI 3805 MDPL” yang bersebelahan dengan bendera Merah Putih. "Terima kasih Tuhan!," dalam kegembiran yang tak berlebihan aku lirih. Rasa syukur ini tiada habisnya saat mencapai Puncak Indrapura dengan ketinggian 3805 mdpl. Tak jauh dari tempatku berdiri, lubang kawah yang dalamnya beberapa ratus meter menganga lebar.

Rasa suka, haru, dan syukur bercampur menjadi satu. Aku menapaki tanah tertinggi di Sumatera. © Vincent Siregar

Jauh diseberang, Danau Gunung Tujuh terlihat sangat indah. Juga hamparan kebun teh nan luas terlihat samar dari atas. Awan putih nan bersih berarak-arakan menutupi barisan pegunungan Bukit Barisan. Akiu memandang ke sekeliling, sungguh sangat luas dan indah.

Setiap orang di puncak ini merayakan kegembiraan dan jutaan syukur atas upayanya berjuang menjejaki tanah menanjak dan berbatu, untuk mencapai tempat ini, puncak gunung api tertinggi di Indonesia. Momen tersebut diabadikan dengan berfoto, mengirimkan buah tangan berupa foto kepada orang tercinta, dan juga menikmati triangulasi bayangan kerinci yang begitu gagah. Sungguh, bumi ini tercipta dengan begitu indah.

Dari pendakian ini aku merasa sangat kecil, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaan Sang Maha Kuasa. Sungguh, rasa gamang berdiri di tubir kawah yang menganga besar telah menyadarkanku bahwa inilah hidup. Tak ada yang perlu dibanggakan dengan ketinggian apapun bentuk ketinggian tersebut. Kita hanya butiran debu dibandingkan apa yang ada pada alam semesta. Namun bukan berarti butiran debu tak boleh bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan semua impian.

Dari puncak Gunung Kerinci, aku meninggalkan pesan. Sebaris pesan untuk sahabat yang telah berjuang bersama dalam pendakian ini. Semoga kita bisa berpelukan kembali dengan kisah-kisah yang penuh kenangan seperti ini pula. Terima kasih telah mendukungku menunaikan ibadah impianku, 3.805 meter di atas permukaan laut.

Potret aku bersama sahabatku, Vincent Siregar, dengan latar belakang bayangan triangulasi Kerinci.
Terima kasih, Sahabat!

Kereta Sekali Jalanku


Jari-jariku selalu berhasil menulis beberapa kata. Yang semenit sesudahnya kembali kuingkus dan kujejalkan dalam-dalam ke tong sampah. Semua intelektualisasi tentang bahasa dan puisi seakan jadi serangga kecil di hadapan cinta. Maka perbolehkanlah aku memulai ini dengan permintaan maaf.
Maafkan aku, yang tak bisa berpaling dari wajahmu saat kau tertawa bersama teman-temanmu. Meskipun aku bukan alasan atas melengkungnya bibir itu. Tapi aku selalu senang. Senang yang dibungkus rapi dalam diam.
Maafkan aku, yang tak bisa mengelus punggungmu, menyeka airmatamu, dan membisikkan bahwa semuanya baik-baik saja ketika kau sedih. Karena aku tahu memang tidak dapat melakukan itu. Tidak ada yang baik-baik saja jika surga membiarkan salah satu bidadarinya mengurai airmata.
Aku senang melihatmu bersamanya. Meskipun aku tak tahu dimana dan bagaimana kau dan dia. Tapi aku senang. Aku sama sekali tak menginginkanmu bersamaku. Oke, mungkin sedikit. Tapi itu sama sekali tak berarti jika ujung-ujungnya kau tetap sakit. Jadi baik kau simpan ia rapat-rapat, genggam ia erat. Aku pernah merasakan kehilangan, dan sungguh aku tak mau sedikitpun kau merasakan itu.
Maafkan aku yang terlalu pengecut, sampai-sampai mesti menulis semalaman hanya untuk menuangkan rinduku pada kertas. Pada dinding-dinding mati yang hanya membalas dengan geming. Untuk melukiskan betapa kau salah satu makhluk yang paling mempesonaku.
Akhirnya, mungkin aku hanya akan meniupkan ini pada angin. Pada cecuit tikus yang mengerumuni bongkahan keju di dapur. Pada awan hitam yang mendarat pelan di pucuk-pucuk malam. Biar mereka yang nanti menentukan akan jadi apa.
Ada yang bilang; Cinta sesungguhnya adalah ketika kau membiarkan orang yang kau cintai bebas. Dan entah kenapa aku percaya itu. Aku tidak akan kemana-mana. Mungkin satu atau dua atau mungkin belasan kereta lewat. Tapi tiketku cuma untukmu. Kau adalah kereta sekali jalanku.
Maafkan aku, setengah layarku, yang cuma bisa menunggu.

Haru Biru Mahameru




Untuk kalian yang mencintai udara jernih, yang mencintai terbang burung-burung. Yang mencintai kebebasan dan kekuasaan, yang mencintai bumi. Mendakilah dengan hati, karena bukan puncak yg kita kejar, melainkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik.
Aku mulai kisah ini dari sebuah sore yang riuh di Ibu kota. Setelah berbulan-bulan melakukan persiapan menuju perjalanan seribu angan, hari yang dinanti tiba. Ribuan angan tentang perjalanan menapaki puncak para dewa perlahan terealisasikan. Aku bersama empat belas tim pendakianku memulai perjalanan dari Stasiun Senen. Stasiun yang bersebelahan langsung dengan pasar teramai di Jakarta. Nampaknya kami salah memilih waktu keberangkatan. Kami tidak sadar bahwa sore adalah waktu teramai yang menyaingi pagi. Penampakan kami yang sedikit berbeda dengan yang lain menjadi sorotan. Bagaimana tidak, keril yang lebih tinggi dari kepala kami menggelayut mesra di punggung.
Setelah sekian jam menanti, akhirnya kendaraan yang akan mengantarkan kami menuju kota penghasil apel datang. Kami memulai perjalanan panjang ini dari Jakarta menaiki KA Matarmaja hingga pemberentian terakhir, Malang.  Setiba di Malang, kami disambut oleh hiruk pikuk dan keramahan warga Malang. Dari stasiun, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Tumpang. Lalu dilanjutkan dengan menaiki Jip sampai desa Ranupane, satu-satunya pintu masuk pendakian gunung Semeru.
BERSALAMAN DENGAN GERBANG RIMBA
Sore itu setelah registrasi di Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Pos Ranupane, aku bersama empat belas teman dalam tim pendakianku mampir terlebih dulu ke warung di seberang Pos untuk makan siang yang terlalu sore. Sekitar setengah jam kemudian, kami akhirnya memulai langkah pertama untuk menggapai Atap Jawa. Mahameru.
Jengkal demi jengkal kami tapaki jalanan aspal hingga ujung desa, lalu masuk ke gapura bertuliskan “SELAMAT DATANG PARA PENDAKI GUNUNG SEMERU”. Dengan irigan doa perlahan kami memasuki gerbang rimba, jalur berganti menjadi tanah. Bulan Juli yang kering membuat jalan tanah juga kering dan berdebu. Otomatis, kaki dan celana langsung kotor. Tapi kami tetap berjalan seperti biasa, karena debu dan tanah tak bisa dipisahkan dari jenis petualangan yang kami pilih ini.
Satu jam berjalan kami sampai di plang pertama, Landengan Dowo, dan hari sudah hampir berganti malam. Jalur pendakian masih relatif landai, berupa paving blok yang cukup untuk 2 orang yang berpapasan. Kami masih berbincang-bincang sembari berjalan karena stamina masih bisa dibilang penuh. Dan kami menikmati perjalanan ini.
Pos I, Pos II, meski sebentar, kami sempatkan istirahat di shelter-shelter yang telah dibangun dengan baik. Cukup luas, kokoh, dan nyaman. Senter-senter sudah mulai dinyalakan sejak tadi, karena malam telah datang saat kami sampai di Pos I. Di Pos III pun kami juga istirahat sebentar, melepaskan keril dari punggung untuk sejenak. Berbincang, makan cemilan, minum, dan menghisap bagi mereka yang ahli hisap. Tepat setelah pos III inilah tanjakan paling ‘sadis’ yang kami temui sejak kami berjalan dari Gapura Pendakian. Debu yang menutupi membuat tanjakan ini menjadi cukup licin. Debu yang beterbangan tersaruk langkah cukup mengganggu pernapasan, dan juga mata.
Sampai di ujung tanjakan, jalur kembali landai, dan perlahan-lahan semakin menurun. Bonus, pikirku menyemangati diri sendiri. Stamina tentu saja sudah berkurang, mungkin tinggal setengah. Namun kaki tetap harus melangkah, karena kami berencana untuk mendirikan tenda di Ranu Kumbolo.
Jam 9 malam kami sampai di Pos IV, dari sini terlihat Ranu Kumbolo di bawah pancaran purnama, meski tak terlalu jelas. Di ujung sana juga terlihat kerlap-kerlip lampu senter dan api unggun yang lidah apinya menari-nari menyambut malam yang cerah ini.
Semangat kembali terpacu. Kami segera melanjutkan langkah menuruni bukit agar segera sampai dan segera istirahat sepuasnya. Suhu udara malam ini cukup dingin, karena kami tetap merasa kedinginan walaupun berjalan memanggul keril yang cukup berat. Kelelahan dan kedinginan membuat beberapa teman sedikit emosi karena tak segera sampai. Kami sudah sampai di pinggir danau, sebagian ingin segera mendirikan tenda, dan sebagian lagi ingin berjalan sedikit lagi untuk sampai di area camp Ranu Kumbolo yang tadi terlihat dari Pos IV. Akhirnya aku berjalan naik mengikuti jalan setapak untuk memastikan dimana kami akan mendirikan tenda. Sementara yang lain berhenti dulu di pinggir danau di pertigaan Jalur Ayek-ayek.
Tak berapa lama aku kembali ke rombonganku yang menunggu. Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya kami putuskan untuk berjalan lagi. Meski lelah, tapi kebersamaan dapat membuat kami memiliki energi lebih.
Tak sampai 15 menit, akhirnya kami melihat sebuah papan bertuliskan sambutan hangat “SELAMAT DATANG DI RANU KUMBOLO”. Alhamdulillah. Kami segera mencari lokasi yang cukup datar untuk mendirikan tenda. Dan kami memilih di barisan terdepan, tepat di belakang perbatasan area yang boleh didirikan tenda dengan bibir Ranu Kumbolo, dan berharap mendapat pemandangan indah dari dalam tenda esok paginya.
PAGI YANG BEKU

Pagi itu, kami masih bergelimpangan di dalam tenda. Udara dingin menggigit: dua lapis baju dan jaket polar rupanya tidak mampu menjadi penghangat diri. Kami saling berteriak dari tenda masing-masing, 'bikin sarapan yuk!' sementara tubuh masih ingin berbalut sleeping bag yang melenakan.
Akhirnya terdengar suara tenda sebelah dibuka. Beberapa hela napas kemudian, tenda kami diketuk. Ketika resleting pintu tenda terbuka, segera hawa dingin masuk. Menyapa kami lebih dekat dan mencoba mendekap.
Terlanjur terpapar angin lembah yang beku menggigit, akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari tenda. Untunglah sepatu kusimpan di dalam tenda sehingga ia tidak basah terkena embun. Aku kaget, Ranu Kumbolo pagi itu rupanya disergap kabut tebal. Punggungan bukit yang menaungi Ranu Kumbolo tidak nampak sama sekali, digantikan oleh kabut putih yang nampaknya hanya berputar-putar saja di sekitar danau.
Setelah lengan milky way tidak nampak tadi malam, pagi ini tiada matahari terbit pula. Pupus sudah keinginanku menyaksikan garis-garis kekuningan dari balik bukit legendaris di seberang Ranu Kumbolo. Di tempat ini, lebih dari empat puluh tahun lalu, Soe Hok Gie dan ketujuh teman pendakiannya membangun kemah pusat di tengah hujan deras yang mendera. Ketika itu masih ada pohon tumbang yang menjadi tempat favorit Idhan Lubis bersembahyang subuh. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana Rudy Badil menggambarkan cantiknya Ranu Kumbolo, yang masih sama hingga sekarang - minus kelompok belibis yang mencari makanan di danau. Ya, aku tidak melihat satupun burung hinggap di permukaan danau, mungkin karena ramainya pendatang.
Bagiku, Ranu Kumbolo adalah contoh sempurna bagaimana alam menjadi begitu romantis. Inilah serpihan surga tak terkata di bumi Mahameru. Lembah berdanau dengan bukit-bukit savana yang kecoklatan dan pepohonan kurus yang menjulang tinggi, air danau yang bening menghijau menggoda untuk diselami, tanjakan panjang di sebelah barat danau yang legendaris dengan mitos Tanjakan Cinta-nya, tempat ini tak henti membuatku berdecak kagum, mengucap syukur, dan menggariskan senyum di wajah. Dan kecantikan Ranu Kumbolo menjadi lebih sempurna ketika dinikmati bersama para sahabat, di antara teras-teras tenda yang menampung embun pagi, memasak sarapan sembari bercerita tentang siapa yang kentutnya paling banyak tadi malam.
Seorang teman pernah berkata, ada saat-saat kita dapat menjadi begitu romantis dengan Tuhan. Dan kali ini, aku dapat melakukannya dengan duduk sendirian di tepi punggungan, menatap danau dari kejauhan sembari menyeruput segelas milo panas. Diterpa matahari pagi yang hangat menenangkan dan berdialog mesra denganNya.
Aktivitas yang paling menyenangkan dalam setiap perjalanan kami adalah memasak. Nasi, nugget, tumis buncis, sarden, dan mie menjadi menu pagi (agak siang) itu. Beruntunglah kami punya 2 chef yang bisa diandalkan.  Ade, satu-satunya perempuan, dan Geger, satu-satunya anggota tim ini yang pernah mendaki Semeru, meskipun hanya sampai Kalimati.
Waktu berjalan cepat, matahari semakin tinggi melewati batas tengah. Kami segera mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya. Walaupun perjalanan hari kedua ini hanya sekitar 4 jam, namun kami tak ingin kemalaman di jalan. Karena menikmati pemandangan saat berjalan juga merupakan kesenangan yang tak bisa didapat di waktu malam. Setelah packing selesai, kami kembali melangkahkan kaki di jalur pendakian. Mendaki Tanjakan Cinta.

LANDAI TAPI BERAT

Ada mitos tentang Tanjakan Cinta yang pasti sudah banyak yang tahu. Jika kita mampu berjalan sampai ujung Tanjakan Cinta tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan seseorang yang kita cintai, maka impian tentang cinta tersebut akan terkabul. Mitos.

Sebenarnya tanjakannya sama seperti tanjakan-tanjakan lainnya. Relatif landai. Dari Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta terlihat tak terlalu tinggi dan jauh, tapi saat dijalani ternyata cukup lama juga untuk sampai di ujung tanjakan. Dan berjalan tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang memang berat. Tapi asal tahu saja, justru dari tanjakan cinta inilah pemandangan Ranu Kumbolo terlihat sangat indah. Jika cerah tentunya.
Setelah cukup beristirahat di atas tanjakan fenomenal ini, kami mulai berjalan lagi. Melipir bukit, kemudian Savana Oro-oro Ombo menyambut kami. Oro-oro Ombo adalah lembah dengan rerumputan setinggi pinggang, bahkan punggung orang dewasa dengan jalan setapak membelah di tengah. Ada 2 jalur dari sini, yang pertama langsung menuruni lembah dan berjalan diantara rerumputan, dan yang kedua berjalan melipir bukit dan berujung di rerumputan di ujung sana. Aku dan Geger memutuskan untuk memilih jalur kedua, karena dari sana kami bisa melihat indahnya Oro-oro Ombo, dan masih tetap bisa menikmati berjalan diantara rerumputan. Dari jalur atas ini, teman-temanku yang lain terlihat kecil sekali. Sekecil saat mereka melihatku dari bawah sana. Oro-oro Ombo adalah tempat yang indah untuk berfoto, dan India-india-an. Rerumputan abu-abu keringnya, bunga Verbena yang menjadi coklat, perpaduan yang indah dengan siang yang cerah.
Setelah rerumputan tinggi, kami melewati padang terbuka dengan rerumputan pendek khas padang rumput hingga sampai di Hutan Cemara. Tempat inilah yang biasa disebut CEMORO KANDANG. 2,5 Km atau 1 jam perjalanan dari Ranu Kumbolo. Kami beristirahat sejenak, duduk-duduk di batang pohon yang tumbang sambil tetap berbincang dan bercanda.
Kanopi hutan Casuarina junghuhniana di sepanjang jalur pendakian ini tak begitu lebat, sehingga cahaya matahari dengan bebas menembus hingga lantai hutan. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu menanjak menurutku, namun entah mengapa aku merasa cepat lelah, dan sering berhenti. Begitu juga teman-temanku yang lain. Namun kami tetap menikmatinya. Anggap saja bersusah-susah dahulu, setelah itu susah lagi.

Kami sampai di Pos Jambangan sekitar jam setengah 5. Jambangan berupa sabana kecil yang dikelilingi semak dan pepohonan. Dari sini seharusnya kami bisa melihat kerucut puncak Mahameru, namun sore itu awan dan kabut bersekongkol untuk menyembunyikannya. Kata Geger, Kalimati tinggal sebentar lagi. Kami tetap memacu langkah kami agar segera sampai di kalimati. Di sanalah kami akan mendirikan tenda dan tidur sebelum mendaki Puncak Mahameru tengah malam nanti.
SELAMAT DATANG DI KALIMATI
Jalur dari Pos Jambangan ke Kalimati berupa jalan setapak menurun melewati hutan yang lebih lebat daripada Cemoro Kandang. Memang tak jauh, benar kata Geger. 15 menit saja kami sampai di lembah savana yang cukup luas di antara 2 bukit, Bukit gunung Kepolo dan Bukit Puncak Mahameru. Tak berapa lama setelah kami sampai, awan yang menutupi Mahameru berangsur hilang. Untuk pertama kalinya aku melihat kerucut Puncak Mahameru. Puncak yang gagah diselimuti pasir dengan guratan-guratannya. Dan Mahameru pun menyambut kami dengan letupan kecilnya. Sore yang indah. Berat perjalanan hari ini terbayar sudah.
Kami segera memilih tempat untuk mendirikan tenda di dekat shelter di antara pepohonan Cemara. Kami segera masak, makan malam, dan mempersiapkan peralatan dan perbekalan yang akan kami bawa saat summit attack nanti. Kamipun memanfaatkan waktu yang ada  untuk tidur dan mengembalikan stamina kami lagi. Karena pendakian Semeru yang sesungguhnya baru dimulai tengah malam nanti.
TANJAKAN BERAT
Tengah malam kami bangun. Begitu juga dengan rombongan lain. Hari ini, kami akan mewujudkan mimpi yang sudah lama ingin kami gapai. Berdiri di tanah tertinggi Pulau Jawa. Namun sebelum itu, kami harus mendaki hampir 1 Km vertikal, dengan kemiringan 45-60 derajat. Apakah kami bisa? Belum tahu. Karena itu kami ingin mencobanya.
Sekitar setengah satu kami mulai berjalan meninggalkan kemah. Namun kami melakukan kesalahan. Kami salah perhitungan, hari itu kami harus berjuang mendaki tanjakan berat sampai puncak hanya berbekal 500 ml air masing-masing orang. Bodohnya kami tak mengambil air dahulu di mata air Sumber Mani sore kemarin karena kesorean sampai di Kalimati. Tapi sudahlah, yang berlalu tak perlu terlalu disesalkan, yang ada sekarang yang harus kami perjuangkan.
Jalan menanjak berdebu menjadi menu perjalanan kami malam itu. Tipisnya oksigen ditambah debu yang beterbangan membuat kami semakin kewalahan dan semakin cepat lelah. Malam itu dingin, namun keringat tetap mengucur deras karena kami mengeluarkan tenaga ekstra untuk berjalan di tanjakan ‘sadis’ ini. Sebelum sampai Arcopodo, salah seorang dari tim kami, Yusuf, merasa kurang enak badan. Mungkin dia mulai terserang MS, Mountain Sickness. Kami putuskan untuk istirahat sebentar sambil menunggu perkembangan kondisi Yusuf. Untungnya kami membawa teh hangat di termos kecil yang dibawa Atang, sehingga cukup membantu pemulihan energi dan kondisi Yusuf.
Kami melanjutkan perjalanan setelah Yusuf yakin mampu melanjutkan pendakian ini. Jalurnya masih sama, jalan menanjak zig-zag dengan kanan-kiri jurang. Jam 2 kurang, kami sampai di Arcopodo. Arcopodo adalah area camp berundak-undak yang cukup untuk sekitar 10 tenda. Namun karena rawan longsor dan tidak ada sumber air, maka camp pendaki sebelum summit attack dipindah ke Kalimati.

Dari Arcopodo, jalan semakin menyempit dan tak lama kemudian kami sampai di batas vegetasi. Angin yang berhembus membuat suhu udara yang kami rasakan semakin dingin. Dinginnya angin malam yang hampir 2 derajat celcius perlahan menembus jaketku. Kami mulai menapaki trek pasir dan kerikil yang berdebu. Pasir yang kering membuat kami semakin kesulitan untuk mendaki. Naik 5 langkah, turun satu langkah. Naik tiga langkah turun satu langkah. Baru berjalan satu menit, berhenti dua menit. Dan tanjakan pasir ini sangat menguras tenaga, juga kesabaran.
Di awal tanjakan pasir, kami masih berjalan beriringan. Kemudian menjadi 2 kelompok, lama kelamaan kami terpisah-pisah karena keadaan jalur, stamina, banyaknya pendaki rombongan lain, dan gelapnya malam membuat kami tak bisa melihat kawan kami di depan maupun dibelakang. Di depan, Yusuf sudah berjalan lebih dulu. Aku, Geger, dan Ade berjalan bersama, namun kemudian Yusuf tertinggal bersama teman satu tim yang lain tanpa kami sadari. Kami berusaha menunggu sambil memancarkan senter ke arah bawah, namun tak terlihat wajah Yusuf. Kami pikir mungkin dia sudah bergabung dengan tim Atang, Daniel, dan Mupay di belakang. Kami pun melanjutkan pendakian ini sedikit demi sedikit.
Sinar jingga sudah menggores ufuk Timur. Namun jam masih menunjukkan pukul 4.30. akhirnya kuputuskan untuk berhenti dulu. Shalat subuh di pinggir jalur sembari menunggu teman-temanku yang masih di belakang. Sementara Yusuf sudah tak terlihat lagi.
Cukup lama kami menunggu, kami putuskan untuk melanjutkan sisa perjalanan ini meski kami tak tahu berapa lama lagi kami akan sampai di puncaknya. Walaupun langit sedikit terang, puncaknya masih belum terlihat. Namun pemandangan di bawah yang indah membuat kami bisa tersenyum melangkahkan kaki meski berkali-kali merosot ke bawah lagi.
HARU BIRU MAHAMERU
Jam menunjukkan pukul 6 kurang, dan langit sudah berwarna biru cerah. Jelas, sunrise pagi ini terlewat lagi. Di atas sana terlihat beberapa pendaki berdiri, terdengar teriakan, “Puncak!”. Entah siapa yang berteriak, namun hal itu membuatku semangat karena puncak sudah dekat. Dan benar saja, tak sampai 10 menit aku melihat bendera Merah Putih berkibar di tengah dataran luas. MAHAMERU. Syukur Alhamdulillah. Akupun terus melangkahkan kaki menuju bendera itu. Di sana, ternyata Yusuf sudah sampai lebih dulu menyambutku. Kami saling memberi selamat. Tak kusangka, Yusuf yang sempat terserang MS malah jadi yang pertama yang sampai di puncak.
Aku segera berkeliling, menikmati 360 derajat pemandangan tergelar di depan mata. Pemandangan yang indah, cerah. Gugusan hijau di bawah langit biru. Kucoba untuk mengabadikan setiap sudut keindahan yang Tuhan lukiskan, namun ternyata kamera yang kubawa mengalami masalah. Lensanya berembun sehingga gambar yang diambil tidak dapat terlihat sempurna. Tak apa, biarkan mata dan otakku yang merekam keindahan ini. Tak lupa, aku ‘mengunjungi’ memorial Soe Hok Gie yang ada di Puncak Mahameru ini. Di tempat inilah terakhir kali Beliau memandang, bernafas, dan bersahabat.

Tak berapa lama, Sulis sampai di puncak, beberapa menit kemudian Tim Agus, disusul Tim Daniel, dan setengah jam kemudian barulah Tim Atang dan Mupay berjalan bersama saling berangkulan, saling menguatkan, menapaki tanah tertinggi ini bersama. Persahabatan  yang indah, dan mengharukan. Kami yang sudah sampai lebih dulu menyambut dan menyalami mereka. Kami berkumpul dan mensyukuri momen-momen kebersamaan kami di tempat yang kami impikan bersama ini. Berdiri bersama di Tanah tertinggi di Pulau Jawa. Sungguh perasaan senang dan syukur yang tak terlukiskan.
Walaupun matahari sudah cukup tinggi, namun suhu udara sangat dingin pagi ini. Mungkin karena angin yang bertiup cukup kencang, sehingga suhu yang kita rasakan lebih dingin dari suhu udara yang sebenarnya.
Cukup lama kami menikmati altitude 3676 mdpl ini. Kami baru turun dari puncak sekitar pukul setengah Sembilan. Sebenarnya aku masih ingin lebih lama lagi di puncak ini, tapi aku sadar, sampai puncak itu baru setengah jalan. Karena tujuan perjalanan sebenarnya adalah rumah. Ya. Pulang dengan selamat sampai rumah adalah tujuan utama kami berpetualang selama ini.
Sampai bertemu lagi, Mahameru.